Mengenal Sosok Ki Sholeh Adi Pramono dan Dedikasi 36 Tahun Padepokan Mangundharma Tumpang Malang
Institusi budaya yang genap berusia 36 tahun ini telah mendedikasikan seluruh napasnya sebagai penjaga nyala api kesenian tradisional Jawa agar tidak padam digilas zaman.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya asing yang kian intensif di era globalisasi, sebuah benteng pertahanan seni tradisional tetap berdiri kokoh dan anggun di wilayah Tumpang, Kabupaten Malang.
Adalah Padepokan Mangundharma, sebuah pusat pelestarian kebudayaan Jawa yang didirikan oleh maestro seni Ki Sholeh Adi Pramono pada 26 Agustus 1989.
Kini, institusi budaya tersebut telah genap berusia 36 tahun mendedikasikan seluruh napasnya sebagai penjaga nyala api kesenian tradisional Jawa agar tidak padam digilas zaman.
Bagi Ki Sholeh, padepokan ini bukan sekadar tempat latihan atau sanggar tari biasa. Lebih dari itu, tempat ini merupakan wadah pelestarian multidimensi yang mengakar kuat.
Di sinilah berbagai cabang seni adiluhung diwariskan secara komprehensif kepada generasi muda, mulai dari seni Wayang Topeng Malang, Wayang Kulit, hingga seni sastra lisan berupa Tembang Macapat.
Darah seni yang mengalir deras dalam tubuh Ki Sholeh bukanlah sebuah kebetulan yang datang tiba-tiba.
Ia merupakan penerus estafet budaya dari garis silsilah yang sangat panjang dan terjaga. Perjalanan kultural ini bermula dari sang Buyut yang memimpin Padepokan Mangir pada tahun 1890.
Mandat pelestarian ini kemudian berlanjut melalui sang kakek di Padepokan Tulus Ayu periode 1911–1928, diteruskan Tirto Noto, hingga akhirnya tongkat estafet suci tersebut sampai ke tangan Ki Sholeh Adi Pramono.
"Kita boleh berotak barat namun jangan melupakan rasa Indonesia untuk meneruskan dan menjaga kelestarian budaya kita." ujar Ki Sholeh Adi Pramono, pendiri Padepokan Mangundharma.
Berbeda dengan kebanyakan sanggar tari modern yang hanya menitikberatkan pengajaran pada olah tubuh atau aspek koreografi semata, Padepokan Mangundharma menerapkan kurikulum yang sangat dinamis dan komprehensif.
Padepokan ini membuka kelas tari yang merangkul berbagai jenjang usia, mulai dari anak-anak usia PAUD hingga tingkat mahasiswa.
Tak hanya itu, kurikulum juga mencakup kelas sinden (vokal Jawa), karawitan (musik gamelan), pedalangan, hingga sastra Jawa kuno seperti Macapat.
Uniknya, di tengah kentalnya nuansa tradisional, padepokan ini secara visioner membuka kelas Bahasa Inggris demi membekali para seniman muda agar mampu beradaptasi dan melakukan diplomasi budaya di kancah global.
Sistem pembelajaran di dalam padepokan pun dipertahankan dengan nuansa klasik yang sakral. Para murid laki-laki dijuluki sebagai Cantrik, sementara murid perempuan disebut Mentrik.
Struktur internal kepengurusannya pun menghidupkan kembali istilah-istilah kuno, seperti Pandito untuk Guru Besar, Janggan untuk Juru Tulis, hingga Wulu Gundung yang mengemban tanggung jawab penting dalam mengelola urusan domestik seperti dapur dan kelestarian taman padepokan.
Eksistensi dan konsistensi Padepokan Mangundharma telah diakui secara luas di tingkat nasional.
Pada tahun 2023, dari ratusan sanggar seni yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, padepokan ini terpilih untuk tampil dalam ajang bergengsi perayaan satu dekade Galeri Indonesia Kaya.
Prestasi gemilang tersebut membuka gerbang bagi pementasan skala besar lainnya.
Di antaranya adalah penampilan di Festival Indonesia Bertutur di Bali (2024) dengan membawakan lakon filosofis Purusan dan Pradana, serta pementasan memukau di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dalam rangka Festival Budaya Panji (2024).
Selain piawai mengajar dan mendalang, Ki Sholeh juga dikenal luas sebagai perajin topeng yang sangat ulung.
Baginya, topeng hasil karyanya bukan sekadar properti panggung atau komoditas komersial, melainkan media sakral representasi arwah leluhur yang dalam proses pembuatannya wajib melalui ritual khusus.
Mengingat kelangkaan kayu Bule saat ini, Ki Sholeh menyiasatinya dengan menggunakan kayu Dadap Cangkring atau Mentahos sebagai bahan baku utama dengan kualitas estetika dan spiritual yang tetap terjaga.
Untuk memastikan sastra Jawa tidak punah ditelan zaman, Ki Sholeh juga konsisten menggelar sosialisasi dan sarasehan Tembang Macapat secara rutin setiap bulan sejak tahun 2018.
Agar tetap relevan dengan generasi masa kini, tema-tema Macapat yang diangkat selalu diselaraskan dengan hari-hari besar yang jatuh pada bulan berjalan.
Di era digital ini, segala aktivitas pelestarian tersebut aktif dibagikan melalui akun Instagram resmi dan kanal YouTube mereka untuk menjangkau generasi muda secara lebih luas.
Meski zaman terus berganti ke arah serba modern, semangat anak muda di Malang untuk meneguk ilmu budaya terbukti tidak pernah luntur.
Melalui dedikasi Ki Sholeh Adi Pramono dan segenap tim di balik layar, Padepokan Seni Mangundharma terus menegaskan bahwa akar budaya Malang akan tetap tumbuh subur, kokoh, dan relevan, selama masih ada ruang dan hati yang tulus untuk mempelajarinya. (*)
(Pewarta: Septina Cahyani Pratiwi_mahasiswa Ilkom FISIP UNMER Malang)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

