Wujudkan Generasi Muda Berkualitas, Akafarma Sunan Giri Ponorogo dan PAC IPNU-IPPNU Ngrayun Gelar Talkshow
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai pentingnya pendidikan, kesehatan, serta perencanaan masa depan yang matang.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
PONOROGO – Akafarma Sunan Giri Ponorogo berkolaborasi dengan Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Ngrayun menggelar Talkshow Pelajar bertema “Muda Berencana, Tuntaskan Hak Bealajar, Lindungi Hak Sehat”.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai pentingnya pendidikan, kesehatan, serta perencanaan masa depan yang matang. Kegiatan ini dipusatkan di Balai Desa Ngrayun, pada Sabtu (11/7/2026).
Talkshow ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting setempat, mulai dari Kepala Desa Ngrayun, Ketua dan Rais MWCNU Kecamatan Ngrayun, Mustasyar MWCNU Kecamatan Ngrayun, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Ngrayun, hingga Ketua PAC ISNU Kecamatan Ngrayun.
Tak hanya itu, puluhan perwakilan pelajar tingkat Madrasah Aliyah (MA) dan sederajat se-Kecamatan Ngrayun juga tampak memadati ruang pertemuan dengan antusias.
Ketua panitia menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi kepelajaran ini merupakan bentuk kepedulian terhadap tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Menurutnya, remaja perlu memperoleh ruang belajar yang tidak hanya menambah pengetahuan akademik, tetapi juga membekali mereka dengan wawasan mengenai kesehatan, karakter, dan perencanaan kehidupan.
Melalui kegiatan ini, Akafarma Sunan Giri Ponorogo menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi kesehatan kepada kalangan pelajar.
Sementara itu, PAC IPNU-IPPNU Ngrayun terus berupaya menghadirkan program-program yang mendorong lahirnya generasi muda yang cerdas, sehat, berkarakter, dan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Dalam kegiatan talkshow ini menghadirkan dua narasumber yaitu Yaya Sulthon Aziz memberikan materi terkait pernikahan dini dan Azizah Intan memberikan materi terkait pendidikan.
Upaya meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai bahaya pernikahan dini terus dilakukan melalui kegiatan edukatif.
Dalam paparannya, Yaya Sulthon Aziz menjelaskan bahwa pernikahan bukan hanya persoalan kesiapan usia, tetapi juga kesiapan fisik, mental, emosional, sosial, dan ekonomi.
Menurutnya, banyak remaja yang masih memandang pernikahan sebagai solusi atas berbagai persoalan, padahal kenyataannya justru dapat menimbulkan tantangan baru apabila dilakukan tanpa kesiapan yang matang.
"Pernikahan merupakan tanggung jawab besar. Tidak cukup hanya siap secara usia, tetapi juga harus siap secara mental, ekonomi, dan memiliki pengetahuan yang memadai agar mampu membangun keluarga yang sehat dan harmonis," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pernikahan dini berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan pada ibu muda, kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah, hingga meningkatnya risiko stunting.
Selain itu, pernikahan usia anak juga berdampak terhadap terhentinya pendidikan, terbatasnya kesempatan kerja, meningkatnya risiko kemiskinan, konflik rumah tangga, serta tingginya angka perceraian.
Dalam kesempatan tersebut, Yaya Sulthon Aziz mengingatkan para pelajar agar lebih fokus mempersiapkan masa depan melalui pendidikan, pengembangan keterampilan, dan pembentukan karakter sebelum memutuskan untuk menikah.
Melalui kegiatan ini diharapkan para pelajar memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya merencanakan masa depan secara matang, melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, serta menghindari keputusan menikah pada usia dini.
Edukasi seperti ini diharapkan menjadi langkah preventif dalam menurunkan angka pernikahan usia anak sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing.
Sementara itu, narasumber kedua, Azizah Intan, berfokus pada pentingnya pemenuhan hak pendidikan bagi generasi muda.
Azizah menekankan bahwa menuntaskan wajib belajar merupakan modal utama bagi remaja untuk membangun masa depan yang terencana dan mandiri. Pendidikan dinilai menjadi tameng terkuat agar remaja tidak terjebak dalam pusaran pernikahan di bawah umur.
Melalui kegiatan bersama Akafarma Sunan Giri Ponorogo ini, para pelajar di Kecamatan Ngrayun diharapkan dapat menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu menyebarkan virus positif tentang pentingnya merencanakan masa depan, menuntaskan pendidikan, dan menjaga kesehatan reproduksi demi masa depan Indonesia yang lebih cerah. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

