Bruntusan Kasar di Lengan dan Paha, Jerawat atau Keratosis Pilaris? Yuk Ketahui Penjelasannya
Berbeda dengan jerawat, keratosis pilaris umumnya tidak memiliki komedo dan tidak menimbulkan benjolan bernanah yang besar.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Pernah menemukan bintik-bintik kecil dan kasar di lengan atas, paha, bokong, atau pipi? Karena bentuknya menyerupai jerawat kecil, banyak orang mencoba memencet atau menggosoknya dengan body scrub.
Namun, bruntusan tersebut mungkin bukan jerawat, melainkan keratosis pilaris. Keratosis pilaris adalah kondisi kulit kronis yang terjadi ketika keratin menumpuk dan menyumbat bagian atas folikel rambut.
Sumbatan tersebut menimbulkan bintik-bintik kecil yang terasa kasar sehingga kulit tampak seperti “kulit ayam”. Kondisi ini tidak menular dan bukan disebabkan oleh kurang menjaga kebersihan.
Bagaimana Mengenali Keratosis Pilaris?
Keratosis pilaris biasanya memiliki ciri-ciri berikut:
- Bintik sangat kecil dan jumlahnya banyak.
- Permukaan kulit terasa kasar ketika diraba.
- Sering muncul secara simetris pada kedua lengan atas atau paha.
- Warnanya dapat menyerupai kulit, kemerahan, atau kecokelatan.
- Pada beberapa orang disertai rasa gatal ringan.
- Lebih terlihat ketika kulit sedang kering.
Berbeda dengan jerawat, keratosis pilaris umumnya tidak memiliki komedo dan tidak menimbulkan benjolan bernanah yang besar. Namun, bintik dapat menjadi merah dan meradang apabila sering digaruk, dipencet, atau digosok.
Mengapa Keratosis Pilaris Bisa Muncul?
Keratosis pilaris berkaitan dengan proses pembentukan dan pelepasan keratin di sekitar folikel rambut. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dan remaja, tetapi dapat menetap hingga dewasa.
Keratosis pilaris juga lebih sering muncul pada orang dengan kulit kering atau riwayat dermatitis atopik.
Keluhan dapat memburuk ketika udara kering, terlalu sering mandi dengan air panas, atau kulit terpapar sabun yang terlalu keras. Faktor genetik juga dapat berperan. Karena itu, beberapa anggota keluarga mungkin memiliki keluhan serupa.
Mengapa Memakai Scrub Kasar Bukan Solusinya?
Saat meraba kulit yang kasar, banyak orang tergoda menggosoknya sekuat mungkin. Padahal, scrub berbutir kasar, spons mandi yang keras, atau kebiasaan menggaruk dapat menyebabkan luka mikro dan peradangan.
Kulit mungkin terasa lebih halus sesaat, tetapi beberapa hari kemudian bintik dapat menjadi lebih merah, perih, atau meninggalkan noda kehitaman.
Memencet setiap bintik juga tidak dianjurkan karena sumbatan keratin akan kembali terbentuk. Perawatan keratosis pilaris sebaiknya dilakukan secara lembut dan bertahap, bukan dengan mengikis kulit secara agresif.
Cara Merawat Keratosis Pilaris
1. Gunakan Pembersih yang Lembut
Hindari sabun dengan daya membersihkan terlalu kuat. Gunakan air bersuhu normal atau hangat suam-suam kuku dan batasi mandi terlalu lama.
2. Oleskan Pelembap Setelah Mandi
Pelembap membantu mengurangi kekeringan dan memperbaiki tekstur permukaan kulit. Oleskan ketika kulit masih sedikit lembap agar air lebih mudah dipertahankan di dalam kulit.
3. Pertimbangkan Bahan Keratolitik
Bahan keratolitik membantu melonggarkan dan mengurangi penumpukan keratin. Kandungan yang sering digunakan untuk keratosis pilaris antara lain:
- Urea.
- Lactic acid.
- Glycolic acid.
- Salicylic acid.
Tinjauan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa bahan pelembap dan keratolitik merupakan terapi awal yang paling sering digunakan.
Lactic acid, glycolic acid, salicylic acid, dan urea dapat membantu memperbaiki kekasaran serta tampilan bintik, meskipun respons setiap orang berbeda. Mulailah secara perlahan.
Pemakaian terlalu sering dapat menyebabkan rasa perih, kemerahan, atau pengelupasan. Jangan menggabungkan beberapa produk eksfoliasi sekaligus ketika kulit belum terbiasa.
4. Jangan Memencet Bintik
Keratosis pilaris bukan komedo yang harus dikeluarkan. Memencetnya dapat menimbulkan luka, infeksi sekunder, dan hiperpigmentasi pascainflamasi.
5. Gunakan Sunscreen pada Area yang Terbuka
Pada keratosis pilaris yang kemerahan atau meninggalkan noda, paparan sinar matahari dapat membuat perbedaan warna kulit semakin terlihat. Gunakan sunscreen pada lengan atau bagian tubuh lain yang sering terpapar.
Apakah Keratosis Pilaris Bisa Hilang Total?
Keratosis pilaris merupakan kondisi yang cenderung berlangsung lama dan dapat muncul kembali setelah perawatan dihentikan. Perawatan bertujuan mengurangi kekasaran, kemerahan, dan membuat permukaan kulit terasa lebih halus.
Hasilnya tidak instan. Perbaikan biasanya memerlukan pemakaian rutin selama beberapa minggu. Konsistensi lebih penting daripada menggunakan banyak produk sekaligus.
Pada kasus yang tidak membaik dengan perawatan topikal, dokter dapat mempertimbangkan terapi lain, seperti retinoid topikal atau prosedur laser tertentu.
Namun, bukti ilmiah mengenai berbagai terapi masih bervariasi sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Pesan dari dr Dhelya
Bruntusan kasar pada lengan atau paha tidak selalu merupakan jerawat. Keratosis pilaris adalah kondisi yang tidak berbahaya dan tidak menular, tetapi perawatannya membutuhkan kesabaran.
Hindari memencet serta menggosok kulit terlalu keras. Gunakan pelembap dan bahan keratolitik secara bertahap. Bila bintik meradang, bernanah, atau tidak membaik, konsultasikan agar diagnosis dan terapinya lebih tepat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

