Dosen FPsi UNJ Bekali Kader Pulo Gebang Pengetahuan Pencegahan dan Deteksi Dini KDRT
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Pada sesi diskusi, peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait berbagai persoalan yang kerap ditemukan di masyarakat.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Wil. Kota Jakarta Selatan – Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPsi UNJ) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema "Pencegahan dan Deteksi Dini Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)" di Kelurahan Pulo Gebang, Jakarta Timur, pada 12 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti 30 kader kelurahan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga, dampaknya, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan sekitar.
Kegiatan dipimpin oleh dosen FPsi UNJ, Nanda Putri Adhiningtyas, M.Psi., Psikolog, bersama tim yang terdiri atas Vinna Ramadhany Sy, M.Psi., Psikolog, dan Kahfi Hizbullah, M.Psi., Psikolog. Program ini juga melibatkan dua mahasiswa Fakultas Psikologi UNJ yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan.
Dalam pemaparannya, Nanda Putri Adhiningtyas menjelaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terbatas pada tindakan fisik. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa KDRT dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti kekerasan emosional, psikologis, ekonomi, seksual, hingga perilaku menguntit atau stalking.
Ia menjelaskan bahwa kekerasan psikis merupakan salah satu bentuk kekerasan yang paling sering dialami perempuan, tetapi kerap tidak disadari karena tidak meninggalkan luka yang terlihat secara fisik. Padahal, dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi kondisi kesehatan mental korban.
“Kekerasan psikis dapat menimbulkan berbagai dampak seperti kecemasan, trauma, depresi, hingga menurunnya rasa percaya diri. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tandanya sejak awal,” ujar Nanda.
Pada sesi berikutnya, Vinna Ramadhany Sy memperkenalkan konsep Siklus KDRT atau Power and Control Wheel (Roda Kekuasaan dan Kendali). Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa kekerasan dalam rumah tangga umumnya berlangsung dalam pola tertentu dan bukan sekadar peristiwa yang terjadi secara spontan.
Menurut Vinna, pelaku kerap menggunakan berbagai bentuk kontrol untuk mempertahankan dominasi terhadap pasangan. Bentuk kontrol tersebut dapat berupa intimidasi, ancaman, pembatasan akses ekonomi, manipulasi emosional, maupun isolasi sosial.
“Memahami pola kekerasan membantu masyarakat mengenali tanda-tanda awal sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum situasi menjadi lebih serius,” jelasnya.
Selain mendapatkan materi mengenai bentuk dan pola KDRT, para peserta juga memperoleh informasi mengenai berbagai layanan yang dapat diakses korban. Tim FPsi UNJ menjelaskan mekanisme pelaporan kasus, layanan pendampingan psikologis, serta bantuan hukum yang tersedia bagi korban maupun keluarga yang membutuhkan.
Informasi tersebut diberikan agar masyarakat tidak hanya mampu mengenali kasus kekerasan, tetapi juga mengetahui langkah yang tepat ketika menemukan atau mengalami situasi serupa. Peran lingkungan sekitar dinilai penting dalam membantu korban memperoleh dukungan dan akses terhadap layanan yang dibutuhkan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Pada sesi diskusi, peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait berbagai persoalan yang kerap ditemukan di masyarakat. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain mengenai perbedaan konflik rumah tangga dengan KDRT, cara mengenali kekerasan psikis, serta langkah yang harus dilakukan ketika mengetahui adanya dugaan kekerasan di lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan ini, FPsi UNJ berharap kader Kelurahan Pulo Gebang dapat menjadi sumber informasi dan agen edukasi bagi masyarakat. Dengan meningkatnya pemahaman mengenai pencegahan dan deteksi dini KDRT, masyarakat diharapkan mampu membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap korban serta mendukung terciptanya keluarga yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

