Pakar PGMI Sebut MPLS Jadi Momentum Edukasi Bahaya Kecanduan Gawai Pada Anak
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dinilai tidak hanya menjadi ajang mengenalkan lingkungan belajar bagi peserta didik baru, tetapi juga momentum untuk mengedukasi anak tentang bahaya kecanduan gawai sejak dini.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dinilai tidak hanya menjadi ajang mengenalkan lingkungan belajar bagi peserta didik baru, tetapi juga momentum untuk mengedukasi anak tentang bahaya kecanduan gawai sejak dini.
Pakar Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Maliki Malang, Ratna Nulinnaja, mengatakan bahwa edukasi mengenai penggunaan gawai secara sehat perlu diberikan sejak dini.
“Selain kita mengenalkan lingkungan sekolah kepada siswa, kita juga perlu loh mengedukasi terkait bahaya kecanduan gawai,” ujarnya kepada TIMES Indonesia (15/7/2026).
Kendati demikian, Ratna menghimbau untuk tidak menggeneralisasi siswa yang kecanduan gawai. Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan anak kecanduan gawai, seperti kesepian, hobi main game, atau alasan lainnya. Ia menyebut anak yang telah mengalami kecanduan berat biasanya menunjukkan perubahan perilaku yang cukup mengkhawatirkan.
Ratna menjelaskan, siswa perlu dikenalkan mengenai ciri-ciri kecanduan gawai agar mampu memahami batas penggunaan perangkat digital secara sehat. Dalam proses edukasi tersebut, ia juga mendorong untuk guru menggunakan bahasa komunikasi yang mudah dipahami oleh anak-anak.
“Gunakan bahasa anak-anak untuk menyampaikan informasinya, kadang anak yang kecanduan itu kalau hpnya diambil mereka tantrum, marah, menangis, bahkan melakukan hal-hal negatif,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mengkhawatirkan dan perlu mendapat perhatian serius karena dapat memengaruhi perkembangan karakter maupun proses belajar anak.
Ratna menambahkan bahwa pola asuh keluarga dan lingkungan sangat mempengaruhi perilaku anak dalam menggunakan gawai.
“Pola asuh anak di perkotaan dan pedesaan berbeda karena dipengaruhi lingkungan,” sambungnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, lanjutnya, guru tidak hanya sebagai pihak yang memberikan ilmu saja (transfer of knowledge), tetapi harus menjadi pendamping yang memahami kondisi psikologi anak (transfer of value) untuk kemudian secara bersama-sama mencari solusi permasalahan.
Kondisi ini bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah saja, tetapi juga orang tua ketika berada di rumah.
Lanjutnya, Kurikulum Berbasis Cinta yang saat ini dikembangkan Kementerian Agama (Kemenag) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membangun karakter anak melalui kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap kemanusiaan.
“Kurikulum cinta menempatkan kasih sayang, empati, penghargaan terhadap kemanusiaan, dan bagaimana membentuk anak-anak sebagai fondasi dasar dalam pembelajaran, sehingga nanti dapat membentuk siswa-siswi yang memiliki karakter yang selaras dengan yang distandarkan di Kementerian Agama,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


