Komisi C DPRD Kota Malang Pastikan Optimalisasi Mesin Pirolisis dan RDF untuk Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan ternyata mulai diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Malang.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan ternyata mulai diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Malang. Inovasi tersebut kini tengah dikembangkan melalui mesin pirolisis yang beroperasi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang sebagai bagian dari upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.
Untuk memastikan program tersebut berjalan sesuai tujuan, Komisi C DPRD Kota Malang bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang melakukan inspeksi terhadap dua fasilitas pengolahan sampah yang diadakan melalui APBD 2025, yakni mesin pirolisis dan mesin Refuse Derived Fuel (RDF).
Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Muhammad Anas Muttaqin, menegaskan bahwa peninjauan dilakukan sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPRD agar setiap anggaran yang telah dialokasikan benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
“Hari ini kami bersama Dinas Lingkungan Hidup meninjau dua mesin yang diadakan pada tahun 2025, yaitu mesin RDF dan mesin pirolisis. Kami ingin memastikan setiap rupiah APBD yang dibelanjakan sesuai peruntukannya serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Anas, Kamis (16/7/2026).
Anas menjelaskan, mesin pirolisis memiliki teknologi yang mampu mengubah sampah plastik menjadi BBM berkualitas setara solar. Sementara mesin RDF mengolah sampah menjadi bahan bakar padat berbentuk briket yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Menurutnya, pengadaan kedua fasilitas tersebut bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, melainkan menjadi bagian dari strategi besar pengelolaan sampah Kota Malang yang lebih modern dan berkelanjutan.
Ia menilai penyelesaian persoalan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pengolahan di TPA. Upaya yang lebih penting adalah menekan jumlah sampah sejak dari sumbernya melalui perubahan pola pengelolaan di masyarakat.
“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan di hilir atau di tempat pembuangan akhir. Yang paling penting adalah mengurangi sampah sejak dari hulu sehingga volume sampah yang masuk ke TPA Supit Urang dapat terus ditekan,” ungkapnya.
Karena itu, DPRD juga mendorong penguatan berbagai program pendukung seperti bank sampah, optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah (TPS), hingga peningkatan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Selain memberikan dampak positif terhadap lingkungan, Anas meyakini teknologi pengolahan sampah menjadi energi juga membuka peluang ekonomi melalui penerapan konsep ekonomi sirkular.
“Harapannya, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi bisa menjadi sumber energi sekaligus memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond H. Matondang, menjelaskan bahwa saat ini mesin pirolisis telah beroperasi di dua lokasi, yakni di TPA Supit Urang dan salah satu TPS di Kota Malang.
Dalam satu siklus produksi, mesin tersebut mampu mengolah sekitar 200 kilogram sampah plastik bernilai ekonomi rendah (low value plastic) menjadi sekitar 130 liter BBM.
“Dari sekali proses memasak 200 kilogram sampah plastik, dapat dihasilkan sekitar 130 liter BBM. Untuk sementara prosesnya belum bisa dilakukan setiap hari karena kami harus mengumpulkan terlebih dahulu sampah plastik yang dibutuhkan,” jelas Raymond.
BBM yang dihasilkan diklaim memiliki kualitas di atas Dexlite atau setara Pertadex. Produknya pun telah dimanfaatkan untuk menunjang operasional berbagai kendaraan dan alat berat milik DLH, mulai kendaraan sky lift, alat berat berbahan bakar diesel, hingga membantu operasional ambulans yang sebelumnya menggunakan solar.
Saat ini proses produksi masih dilakukan satu hingga dua kali dalam sepekan karena bergantung pada ketersediaan bahan baku berupa sampah plastik yang memiliki nilai jual rendah.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, DLH menggandeng jaringan bank sampah di Kota Malang agar pasokan plastik tetap terjaga.
“Kami masih bekerja sama dengan bank-bank sampah di Kota Malang karena bahan baku yang digunakan merupakan sampah plastik dengan nilai jual rendah, sekitar Rp700 per kilogram,” tuturnya.
Selain mengembangkan pirolisis, DLH juga terus menyempurnakan teknologi RDF. Awalnya, briket hasil RDF diproyeksikan sebagai bahan bakar alternatif bagi industri semen. Namun hasil pengujian menunjukkan nilai kalor yang dihasilkan masih belum memenuhi standar kebutuhan industri.
Karena itu, pengembangan berikutnya diarahkan untuk meningkatkan kualitas RDF agar dapat diproses menjadi batu bara sintetis yang memiliki nilai kalor lebih tinggi.
“Saat ini kami sedang menyiapkan tahapan berikutnya agar briket RDF bisa ditingkatkan menjadi batu bara sintetis. Pengembangannya direncanakan menggunakan dukungan anggaran dari LSDP,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


