'Ilmu Tak Berhenti di Ruang Kuliah', Cara UNMER Malang Menerjemahkan Kampus Berdampak
Ketika ilmu, iman, dan ikhtiar ekonomi bertemu dalam satu majelis, keberkahannya kembali kepada masyarakat - demikian kerangka yang disampaikan UNMER Malang.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Ada kalimat yang diulang Rektor Universitas Merdeka Malang (UNMER Malang) di hadapan ribuan hadirin Sabtu pagi (18/7/2026) lalu.
Dan kalimat itu sesungguhnya adalah rumusan sebuah janji akademik: 'Ilmu yang benar tidak berhenti di ruang kuliah - ia harus turun, menyentuh dan meringankan sesama'.
Janji itu diucapkan Dr. Prihat Assih, S.E., M.Si., Ak., CSRS. dalam Semarak Ngaji Bareng, bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 UNMER Malang yang berlangsung di Masjid Al-Huda kampus setempat.
Namun yang menarik untuk dicermati bukan kalimatnya, melainkan bagaimana kalimat itu dibuktikan dalam satu pagi yang sama.
Alih-alih menggelar pengajian tunggal, UNMER Malang merangkai tiga hal sekaligus. Pertama, majelis ilmu bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan BKMM-DMI Kota Malang yang dihadiri 1.700 jemaah.
Kedua, penyaluran sekitar 350 paket bantuan bagi warga sekitar kampus dan santunan bagi anak yatim piatu dari 14 yayasan di Malang Raya. Ketiga, bazar UMKM binaan BKMM-DMI dari lima kecamatan.
Perancangan seperti ini bukan kebetulan. Bagi perguruan tinggi, ia adalah cara menghindari jebakan yang paling lazim: kegiatan yang berhenti sebagai seremoni tanpa keluaran yang bisa diukur.
Ketika ilmu, iman, dan ikhtiar ekonomi bertemu dalam satu majelis, keberkahannya kembali kepada masyarakat - demikian kerangka yang disampaikan pihak kampus.
Dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), kegiatan ini menyentuh sedikitnya empat agenda sekaligus: pendidikan yang membumi (SDG 4), pemberdayaan ekonomi masyarakat (SDG 8), pengurangan kesenjangan melalui santunan (SDG 10), serta kemitraan lintas lembaga (SDG 17).
Pertautan ini menjadi penting di tengah dorongan nasional agar perguruan tinggi berkontribusi nyata melalui semangat Kampus Berdampak.
Kajian utama disampaikan Prof. Dr. K.H. Kasuwi Saiban, M.Ag., Ketua DMI Kota Malang sekaligus Ketua Senat UNMER, dengan tema 'Berhijrah dari Kegelapan Jahiliyah Menuju Sinar Hidayah'.
Bagi kampus, kehadiran figur akademik sekaligus tokoh keagamaan di podium yang sama adalah pesan tersendiri: keunggulan intelektual dan kedalaman spiritual tidak perlu dipertentangkan.
Nilai institusi UNMER Malang, Ksatria Bhirawa Anoraga (berani namun rendah hati) tampak dijadikan penjaga arah.
“Nilainya barangkali kecil di hadapan besarnya kebutuhan,” demikian pengakuan pihak kampus atas bantuan yang disalurkan, sebuah pernyataan yang jarang terdengar dalam publikasi institusi.
Menutup sambutannya, Rektor mengajak semua pihak berhijrah 'dari berbicara tentang kebaikan menuju mengerjakannya'.
Bagi orang tua dan guru yang tengah mempertimbangkan ke mana anak didiknya melanjutkan studi, kalimat itu barangkali lebih informatif daripada daftar prestasi mana pun. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

