Dari Sampah Menjadi Berkah: Tiga Kampus Bangun Eco-Pesantren Menuju Nol Limbah di Pamekasan
Kolaborasi digelar melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Kolaboratif Indonesia (PMKI) dengan mengintegrasikan pengelolaan sampah organik, ketahanan pangan, perbaikan sanitasi dan penghijauan.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
PAMEKASAN – Universitas Brawijaya (UB), Universitas Airlangga (UNAIR) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkolaborasi mengembangkan Pondok Pesantren Matsaratul Huda, Kabupaten Pamekasan, menuju eco-pesantren nol limbah.
Kolaborasi dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Kolaboratif Indonesia (PMKI) dengan mengintegrasikan pengelolaan sampah organik, ketahanan pangan, perbaikan sanitasi, dan penghijauan lingkungan pesantren.
Program ini menerapkan prinsip 3R, yaitu reduce, reuse dan recycle dengan mendorong pengurangan sampah dari sumbernya, pemanfaatan kembali bahan yang masih dapat digunakan, serta pengolahan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Pondok Pesantren Matsaratul Huda dipilih karena memiliki aktivitas harian yang padat dengan jumlah 678 santri.
Berdasarkan estimasi awal tim, aktivitas pesantren menghasilkan sekitar 204 kilogram sampah organik setiap hari. Sampah tersebut terutama bersumber dari dapur, sisa makanan, serta aktivitas konsumsi santri.
Apabila tidak dikelola dengan baik, timbulan sampah organik dapat menimbulkan bau, mengundang vektor penyakit, mengurangi kebersihan lingkungan, serta menghasilkan gas metana selama proses pembusukan.
Kondisi tersebut mendorong tim PMKI mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang terhubung dengan kebutuhan sanitasi, penghijauan, dan ketahanan pangan pesantren.
Program PMKI merupakan inisiatif kolaboratif lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat perguruan tinggi negeri berbadan hukum di Indonesia.
Program ini dirancang untuk mempertemukan keahlian dari berbagai perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Rangkaian kegiatan di Pondok Pesantren Matsaratul Huda berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan survei lokasi pada 10 Juni 2026, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan praktik pengolahan sampah organik pada 13–14 Juli 2026.
Tahap berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 dengan agenda penyerahan bibit, penghijauan, pengembangan produk turunan eco-enzym, dan evaluasi program.
Program kolaboratif tersebut dipimpin oleh Dr. Rita Parmawati dari UB sebagai host. Serta dua mitra dari Tim UNAIR dikoordinasikan oleh Dr. Sudarmaji, sedangkan tim ITS dikoordinasikan oleh Dr. Arie Dipareza Syafei.
“Program ini tidak berhenti pada pelatihan pengolahan sampah. Kami ingin membangun sistem yang dapat dikelola secara mandiri oleh pengurus dan santri, sehingga sampah organik dapat diubah menjadi sumber daya bagi ketahanan pangan, sanitasi, dan penghijauan pesantren,” ujar Rita Parmawati.
Setiap perguruan tinggi mengambil peran berdasarkan bidang keilmuan masing-masing. Tim UB berfokus pada pengelolaan sampah organik, ekonomi sirkular, dan ketahanan pangan pesantren.
Tim UNAIR memberikan pendampingan dalam bidang sanitasi lingkungan, sementara tim ITS berperan dalam edukasi mengenai suhu lingkungan perkotaan dan penghijauan.
Dalam kegiatan tahap pertama, tim UB menyampaikan materi 'Membangun Ketahanan Pangan Pesantren melalui Pemanfaatan Sampah Organik: Model Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas'.
Para peserta memperoleh pengetahuan mengenai pemilahan sampah, pengolahan limbah organik, serta hubungan antara pengelolaan sampah dan penguatan ketahanan pangan.
Tim UB juga menyerahkan mesin pencacah sampah organik untuk membantu pesantren mengolah limbah dapur secara lebih efisien. Mesin tersebut digunakan untuk memperkecil ukuran bahan organik sebelum dimasukkan ke dalam wadah fermentasi.
Pada tahap berikutnya, tim UB berencana menyerahkan 150 bibit sayuran kepada pesantren. Bibit tersebut akan ditanam di area yang telah disiapkan dan dipantau pertumbuhannya secara berkala.
Pengembangan kebun sayur diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi santri sekaligus mendukung pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pesantren.
Tim UNAIR memberikan edukasi bertema 'Upaya Sanitasi di Lingkungan Pondok Pesantren'.
Materi tersebut menekankan pentingnya kebersihan kamar mandi, toilet, tempat mencuci, dapur, asrama, dan fasilitas bersama untuk mengurangi risiko penyakit yang berkaitan dengan sanitasi buruk, seperti diare dan skabies.
Sebagai tindak lanjut, tim UNAIR akan mendampingi pengurus pesantren dalam mengembangkan produk pembersih berbahan ekoenzim.
Produk yang akan dikembangkan antara lain cairan pembersih lantai, pembersih kamar mandi, dan sabun cuci piring. Proses pengembangannya tetap memerlukan perhatian terhadap komposisi, keamanan, daya bersih, dan tata cara penggunaan.
Sementara itu, tim ITS menyampaikan materi “Edukasi Urban Heat: Mengurangi Suhu Lingkungan melalui Penghijauan”. Materi tersebut memperkenalkan hubungan antara kepadatan bangunan, minimnya ruang hijau, suhu lingkungan, dan kenyamanan warga pesantren.
Penghijauan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan keteduhan dan memperbaiki kenyamanan termal di lingkungan pesantren.
Pada tahap kedua program, tim ITS berencana menyerahkan 100 bibit pohon bungur kepada Pondok Pesantren Matsaratul Huda. Penanaman akan disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan ruang hijau pesantren.
Praktik pembuatan ekoenzim dilaksanakan pada 14 Juli 2026. Tim PMKI mendampingi pengurus dan santri dalam memilah serta mencacah sampah organik.
Bahan organik yang telah dicacah kemudian dicampurkan dengan molase dan air menggunakan komposisi yang telah ditentukan.
Campuran tersebut disimpan dalam wadah tertutup untuk menjalani proses fermentasi selama kurang lebih tiga bulan.
Selama proses fermentasi, pengurus pesantren akan melakukan pemantauan terhadap kondisi wadah dan perubahan bahan. Hasil fermentasi direncanakan dipanen dan dimanfaatkan dalam kegiatan lanjutan.
Melalui pembagian peran tersebut, kolaborasi UB, UNAIR, dan ITS tidak hanya berupaya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga membangun sistem pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.
Sampah organik ditempatkan sebagai sumber daya yang dapat diolah untuk mendukung kebersihan, penghijauan, pendidikan lingkungan, dan ketahanan pangan.
Program ini juga diarahkan untuk membentuk kebiasaan baru di kalangan santri dan pengurus pesantren.
Pemilahan sampah dari sumber, pengoperasian mesin pencacah, pembuatan ekoenzim, perawatan kebun, dan pemeliharaan pohon diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin yang dikelola secara mandiri.
Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah alat atau bibit yang diserahkan, tetapi juga oleh kemampuan pesantren melanjutkan pengelolaan setelah masa pendampingan berakhir.
Karena itu, evaluasi berkala, pembagian tanggung jawab, serta pembentukan unit pengelola lingkungan pesantren menjadi bagian penting dalam mewujudkan Pondok Pesantren Matsaratul Huda sebagai eco-pesantren menuju nol limbah.
“Pendampingan dari tiga perguruan tinggi memberikan pengetahuan dan teknologi baru bagi pesantren. Kami berharap para santri dapat membiasakan diri memilah sampah dan ikut merawat lingkungan pesantren secara berkelanjutan,” kata Pengurus Pesantren Matsaratul Huda. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

