Advertisement
Indonesia Positif

Keren, Siswa SMK Telkom Malang Ciptakan Game AR untuk Kenalkan Batik Malang Lewat Permainan

Dalam permainan, pemain memindai kartu AR untuk memunculkan motif Batik Malang beserta filosofi dan informasi budayanya secara digital.

TIMES Indonesia,
Keren, Siswa SMK Telkom Malang Ciptakan Game AR untuk Kenalkan Batik Malang Lewat Permainan
Aliyan Ridho (berdiri di belakang) dan Noura Azhima (baju putih, kanan) mengenalkan board game Nawasena Seri Batik Malang kepada masyarakat.
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Dua siswa Jurusan Pengembangan Gim SMK Telkom Malang, Aliyan Ridho dan Noura Azhima, menciptakan board game berbasis Augmented Reality (AR) bertajuk 'Nawasena Seri Batik Malang'.

Karya siswa kelas XI ini menghadirkan cara baru mengenalkan batik kepada anak-anak lewat teknologi.

Advertisement

Dalam permainan, pemain memindai kartu AR untuk memunculkan motif Batik Malang beserta filosofi dan informasi budayanya secara digital. Satu sesi permainan memuat tiga jenis Batik Malang sekaligus, lengkap dengan cerita di balik setiap motif.

Ide Nawasena lahir dari riset tim di sejumlah sekolah dasar. Hasilnya, masih banyak anak yang belum mengenal Batik Malang.

"Tim mengembangkan media pembelajaran yang menggabungkan unsur permainan, budaya, dan teknologi, agar proses belajar menjadi lebih menarik dan mudah dipahami," ujar Aliyan, Ketua Tim Nawasena.

Menurutnya, anak-anak diajak belajar sambil bermain, tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran formal di kelas.

Agar informasi yang disampaikan akurat, tim menggandeng Soendari Batik sebagai mitra validasi. Seluruh motif, filosofi, dan informasi budaya dalam game dikaji bersama pelaku batik lokal, sekaligus memberi pemain gambaran nyata proses membatik. 

Advertisement
smk telkom malang

Nawasena dikembangkan selama empat bulan, Februari hingga Juni 2026. Prototipe diujicobakan kepada siswa kelas II di SD Brawijaya 3 Malang dan SDN Rampal Celaket 1. Hasil uji coba itu menjadi dasar penyempurnaan fitur dan mekanisme permainan.

Tim sempat kesulitan memperkenalkan mekanisme board game yang belum familiar bagi anak-anak, berbeda dari monopoli atau ular tangga.

"Justru ini menjadi diferensiasi kami karena bisa mengenalkan mekanisme permainan baru kepada mereka," kata Aliyan.

Batik Malang menjadi seri pertama Nawasena. Ke depan, tim berencana mengembangkan seri budaya dari daerah lain di Indonesia agar Nawasena tumbuh menjadi media edukasi budaya berskala nasional.

Guru pendamping Nawasena, Muhammad Arifin, menyebut proses pengembangan dilakukan bertahap, mulai riset di sekolah hingga validasi bersama perajin batik dan pelaku industri game di Malang.

"Saya optimistis Nawasena mampu melestarikan dan mengenalkan budaya batik kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Inovasi ini juga telah mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan Kota Malang," ujar guru Produktif Rekayasa Perangkat Lunak tersebut.

Lewat Nawasena Seri Batik Malang, siswa Jurusan Pengembangan Gim SMK Telkom Malang membuktikan karya vokasi mampu memadukan teknologi Augmented Reality, kreativitas game, dan pelestarian budaya dalam satu inovasi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia