Permudah Pemahaman EDFAT, Mahasiswa Polinema Susun Buku Panduan Fotojurnalistik Bilingual
Beril Bestarino, mahasiswa Polinema, menyusun Buku Panduan Dwibahasa Fotojurnalistik berdasarkan pengalaman magang di TIMES Indonesia untuk permudah pemahaman teknik EDFAT.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Berangkat dari pengalaman selama menjalani program magang di TIMES Indonesia, mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema), Beril Bestarino Otniel Sasongko, mengembangkan Bilingual Photojournalism Handbook atau Buku Panduan Dwibahasa Fotojurnalistik sebagai produk tugas akhirnya. Buku ini disusun sebagai media pembelajaran praktis untuk membantu mahasiswa, peserta magang, calon fotojurnalis, hingga masyarakat umum memahami dunia fotojurnalistik dengan lebih mudah.
Ide penyusunan buku ini muncul saat Beril mendampingi proses peliputan di lapangan. Ia mengamati masih banyak mahasiswa magang yang kesulitan menerapkan teknik EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time). Akibatnya, hasil foto yang diambil sering kali belum mampu menyampaikan informasi secara utuh sesuai kaidah fotojurnalistik.
"Ide penyusunan buku ini muncul saat saya mendampingi proses peliputan di lapangan. Saya mengamati masih banyak mahasiswa magang yang kesulitan menerapkan teknik EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time). Akibatnya, hasil foto yang diambil sering kali belum mampu menyampaikan informasi secara utuh sesuai kaidah fotojurnalistik," ujar Beril, Rabu (22/7/2026).
Melihat kondisi tersebut, Beril merasa dibutuhkan media pembelajaran yang tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga memperlihatkan proses kerja nyata seorang fotojurnalis. Dari situlah ia memilih fotojurnalistik sebagai fokus penelitian, sekaligus mengembangkan buku panduan yang menggabungkan materi teori dan praktik dalam satu media.
Pemilihan tema ini juga didasari oleh masih rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari fotojurnalistik secara mendalam. Padahal, fotojurnalistik memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi visual yang akurat, faktual, dan bernilai berita. Melalui buku ini, Beril berharap makin banyak mahasiswa dan masyarakat yang tertarik mengenal profesi fotojurnalis.
Dalam proses penyusunannya, Beril melakukan observasi dan wawancara bersama fotojurnalis TIMES Indonesia, Adhitya Hendra P., sebagai narasumber utama. Ia mempelajari alur kerja, teknik pengambilan gambar, proses peliputan di lapangan, hingga pengalaman profesional yang kemudian dipadukan dengan referensi jurnal ilmiah dan artikel terpercaya agar materi tetap seimbang.
Seluruh materi terlebih dahulu disusun dalam bahasa Indonesia, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurut Beril, penggunaan format dwibahasa (bilingual) dipilih agar materi lebih mudah diakses oleh pembaca yang lebih luas, sekaligus melatih kemampuan berb
ahasa Inggris bagi mahasiswa yang tertarik mendalami dunia jurnalistik.
Konsep bilingual ini juga disesuaikan dengan jangkauan jaringan media TIMES Indonesia yang telah hadir di beberapa negara, seperti TIMES Malaysia, TIMES Singapore, dan TIMES Hong Kong. Dengan demikian, buku ini tidak hanya bermanfaat bagi pembaca domestik, tetapi juga dapat digunakan oleh pembaca internasional.
Sebelum diterbitkan, buku ini telah melalui proses validasi dari aspek bahasa dan desain oleh dosen Polinema. Setelah dinyatakan layak, produk diserahkan kepada Adhitya Hendra P. untuk diteruskan kepada Pimpinan Redaksi TIMES Indonesia, Yatimul Ainun, dan CEO TIMES Indonesia, Khoirul Anwar, sebagai bentuk implementasi hasil penelitian sekaligus media pembelajaran internal perusahaan.
Proses penyusunan buku berlangsung selama sekitar lima bulan. Selama itu, Beril melakukan observasi lapangan, mengumpulkan data, menyusun materi, menerjemahkan isi, menjalani validasi, hingga merevisi berdasarkan masukan. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah menyesuaikan waktu dengan jadwal narasumber yang dinamis di lapangan.
Selain buku panduan, penelitian ini juga menghasilkan video pendukung yang menampilkan praktik fotojurnalistik secara langsung.
"Saya berharap buku panduan dan video pendukung ini dapat membantu mahasiswa, peserta magang, calon fotojurnalis, maupun masyarakat umum untuk memahami teknik dasar fotojurnalistik secara lebih mudah. Selain itu, karya ini diharapkan menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri media mampu menghasilkan media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan profesional, sekaligus memantik minat generasi muda untuk menekuni dunia fotojurnalistik," ungkap Beril. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


