Advertisement
Indonesia Positif

Unper Tasikmalaya Dorong Eco Digital Agriculture, Perkuat Hilirisasi Produk Hijau Petani Lewat Digital Marketing

Tantangan terbesar yang dihadapi petani maupun kelompok tani saat ini tidak lagi sekadar meningkatkan hasil panen.

TIMES Indonesia,
Unper Tasikmalaya Dorong Eco Digital Agriculture, Perkuat Hilirisasi Produk Hijau Petani Lewat Digital Marketing
Tatun (paling kanan) seorang petani bersama LPPM Unper saat melakukan live TikTok di kebun hidroponik Pakcoy, Kampung Gunung Roay, Kahuripan, Tawang, Kota Tasikmalaya. Sabtu (25/7/2026). (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

TASIKMALAYA Tantangan terbesar yang dihadapi petani maupun kelompok tani saat ini tidak lagi sekadar meningkatkan hasil panen.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana komoditas pertanian mampu diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki identitas kuat, kemasan menarik, serta mampu bersaing di pasar digital.

Advertisement

Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat dan pesatnya perkembangan teknologi informasi, hilirisasi produk pertanian menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani. 

Produk hasil panen tidak cukup hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan harus melalui proses pengolahan, branding, pengemasan modern, hingga pemasaran berbasis platform digital agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya menghadirkan program Eco Digital Agriculture sebagai bentuk nyata implementasi pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penguatan kapasitas petani dalam menghadapi era ekonomi digital.

Program tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi dan Pendampingan Mitra Pengabdian kepada Masyarakat kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Roay Lestari yang berlangsung di Kampung Gunung Roay, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan fokus membangun kemandirian kelompok tani melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi tepat guna, penguatan hilirisasi produk hijau, hingga pengembangan strategi pemasaran digital yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Advertisement

Ketua Tim Pengabdian LPPM Universitas Perjuangan, Barin Barlian, M.M., menjelaskan bahwa pertanian modern harus dipandang sebagai sebuah rantai nilai yang utuh, mulai dari proses budidaya hingga pemasaran kepada konsumen akhir.

Menurutnya, paradigma petani perlu bergeser dari sekadar menghasilkan komoditas menjadi mampu menciptakan produk yang memiliki merek, cerita, kualitas, serta daya saing di pasar.

Konsep Eco Digital Agriculture, lanjut Barin, merupakan integrasi antara praktik pertanian yang ramah lingkungan dengan pemanfaatan teknologi digital sebagai instrumen peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat.

"Program ini kami rancang agar petani tidak berhenti pada proses budidaya saja. Mereka harus mampu mengembangkan produk, membangun merek, melakukan pengemasan yang menarik, hingga memasarkan produk melalui platform digital. Dengan demikian, nilai ekonomi yang diterima petani akan meningkat," ujar Barin kepada TIMES Indonesia.Sabtu (25/7/2026).

Ia menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi memastikan hasil kajian akademik dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Melalui pendampingan berkelanjutan, LPPM Unper berharap kelompok tani mampu membangun sistem usaha yang lebih mandiri sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal Tasikmalaya di pasar yang lebih luas.

Sementara itu, anggota tim pengabdian Dr. Depy Muhamad Pauzy, M.M., yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Perjuangan, menilai bahwa kemampuan petani dalam aspek budidaya sebenarnya sudah sangat baik.

Namun demikian, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat menuntut peningkatan kapasitas dalam pemanfaatan teknologi digital, terutama pada aspek pemasaran.

Menurut Depy, digitalisasi sektor pertanian tidak cukup hanya memiliki akun media sosial atau sekadar mengunggah foto produk.
Lebih dari itu, diperlukan strategi komunikasi pemasaran yang terencana, konsisten, dan mampu membangun kepercayaan konsumen.

"Secara teknis mungkin para petani jauh lebih memahami praktik pertanian. Namun dalam penggunaan teknologi tepat guna masih membutuhkan pendampingan karena perkembangan IPTEK berlangsung sangat dinamis," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar digitalisasi yang dilakukan petani saat ini masih bersifat sederhana.
Konten promosi yang dibuat belum memiliki konsep komunikasi yang kuat, belum dirancang dengan strategi branding yang matang, serta belum dikelola secara berkelanjutan.

"Saat ini digitalisasi yang dilakukan petani masih sebatas visual. Belum ada penataan konten yang terdiri atas konsep, host, materi konten, hingga yang paling penting adalah kontinuitas dalam tata kelola manajemen digital marketing. Padahal keberhasilan pemasaran digital sangat ditentukan oleh konsistensi membangun komunikasi dengan konsumen," jelas Depy.

Karena itu, dalam program pendampingan tersebut peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai digital marketing, tetapi juga memperoleh pelatihan mengenai strategi branding, penyusunan identitas produk, teknik pembuatan konten promosi, pengelolaan marketplace, hingga pemanfaatan berbagai platform e-commerce untuk memperluas akses pasar.

Sementara itu Ketua Kelompok Wanita Tani Roay Lestari, Tatun Qonitatun, mengaku sangat mengapresiasi perhatian yang diberikan LPPM Universitas Perjuangan kepada kelompok tani di wilayahnya.

Menurutnya, selama ini pemasaran produk hasil pertanian maupun produk olahan masih mengandalkan media sosial Facebook sehingga jangkauan pasar relatif terbatas.

Melalui pendampingan tersebut, para anggota kelompok tani memperoleh pemahaman baru mengenai pemasaran digital berbasis marketplace yang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan penjualan.

"Sesuai harapan kami, selama ini pemasaran masih menggunakan Facebook. Dengan adanya pelatihan digital marketing ini kami berharap produk bisa dipasarkan lebih luas melalui e-commerce seperti Shopee dan platform digital lainnya," ujarnya.

Tatun optimistis pemasaran melalui marketplace akan memangkas rantai distribusi yang selama ini cukup panjang sehingga keuntungan yang diterima petani menjadi lebih besar.

"Kami berharap harga produk menjadi lebih baik karena pemasaran bisa langsung kepada konsumen tanpa melalui banyak perantara," ungkapnya.

Program Eco Digital Agriculture menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan, khususnya di sektor pertanian.

Pendekatan yang dikembangkan LPPM Universitas Perjuangan menggabungkan prinsip keberlanjutan lingkungan, hilirisasi produk hijau, inovasi teknologi, serta transformasi digital sebagai fondasi penguatan ekonomi masyarakat berbasis pertanian.

Ke depan, pendampingan ini diharapkan mampu melahirkan kelompok tani yang tidak hanya mandiri dalam produksi, tetapi juga mampu membangun merek produk, mengelola pemasaran digital secara profesional, serta bersaing di pasar regional maupun nasional melalui ekosistem ekonomi digital.

Program ini sekaligus menjadi model kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dalam membangun pertanian modern yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan.

Adapun Tim Pengabdian LPPM Universitas Perjuangan pada kegiatan tersebut dipimpin oleh Barin Barlian, M.M. dengan anggota Dr. Depy Muhamad Pauzy, M.M., Dr. Ir. Ristina, M.P., Hary Firmansyah, M.M., Titin Patimah, M.M., Arif, MBA, serta didukung empat mahasiswa, yakni Tyas Nurkamila, Nayla Aulia Pebriyanti, Wildan Wijaya Kusumah, dan Riska Tria Aryani.

(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia