Advertisement
Indonesia Positif

Pertemuan Wali Murid Awali Tahun Ajaran Baru, SMPK St Antonius Arjowilangun Perkuat Sinergi Pendidikan Hingga Serahkan Beasiswa

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.

TIMES Indonesia,
Pertemuan Wali Murid Awali Tahun Ajaran Baru, SMPK St Antonius Arjowilangun Perkuat Sinergi Pendidikan Hingga Serahkan Beasiswa
Pembina Yayasan Nawasena Pelita Ilmu, Bagus Djoko Bintoro menyerahkan secara simbolik kepada wali murid penerima beasiswa, Senin (27/7/2026).
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG SMPK St Antonius Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, menggelar pertemuan wali murid sebagai rangkaian awal Tahun Pelajaran 2026/2027.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik, sekaligus menyerahkan bantuan pendidikan bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

Advertisement

Kepala SMPK St. Antonius Arjowilangun, Drs Yulius Sutrisno, mengatakan pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana menyampaikan visi, misi, serta program sekolah kepada para wali murid sebagai mitra strategis dalam pendidikan.

"Pertemuan ini merupakan langkah awal memasuki Tahun Pelajaran 2026/2027. Kami ingin para wali murid sebagai mitra dan pemangku kepentingan sekolah memahami visi, misi, serta program-program sekolah sehingga terjalin sinergi dalam mendidik dan mendampingi anak-anak," ujarnya.

Menurut Yulius, kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi semakin penting di tengah tantangan pendidikan saat ini, khususnya dalam mendampingi anak-anak yang tumbuh di era digital dengan berbagai kemudahan akses teknologi dan penggunaan gawai.

Sebagai bentuk penguatan peran orang tua, sekolah menghadirkan Dr. Agustinus Indradi, M.Pd., selaku Ketua Pengawas Yayasan Nawasena Pelita Ilmu yang sekaligus juga dosen Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang, sebagai narasumber.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa rumah dan sekolah harus menjadi satu tim dalam membentuk karakter anak.

Advertisement

Menurut Agustinus, teknologi digital bukanlah musuh yang harus dijauhi. Yang paling menentukan adalah karakter yang dimiliki anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif.

"Rumah dan sekolah harus berjalan seiring. Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah. Karena itu, aturan dan pembiasaan yang diterapkan di sekolah perlu dilanjutkan di rumah agar pendidikan karakter berjalan konsisten," katanya.

Ia menambahkan, karakter seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab harus dibangun melalui keteladanan orang tua maupun guru. Anak-anak, lanjutnya, lebih mudah meniru tindakan dibandingkan sekadar mendengarkan nasihat.

"Orang tua perlu memberikan contoh yang baik, mau mendengarkan anak, memberi perhatian, dan membangun komunikasi yang sehat. Jika karakter sudah terbentuk dengan baik, teknologi digital justru dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk berkembang dan berprestasi," jelasnya.

Selain sosialisasi program sekolah, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan pendidikan melalui Program Orang Tua Asuh dari Yayasan Nawasena Pelita Ilmu.

Bantuan diserahkan oleh Pembina Yayasan Nawasena Pelita Ilmu, Bagus Djoko Bintoro, bersama jajaran pengurus yayasan.

Bagus menjelaskan, saat ini terdapat 21 siswa yang menerima bantuan pendidikan dari yayasan tersebut. Selama tiga tahun masa pendidikan di SMP, para penerima manfaat dibebaskan dari berbagai biaya sekolah. 

smpk st antonius arjowilangunn

"Anak-anak penerima Program Orang Tua Asuh dibebaskan dari biaya SPP, biaya kegiatan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, hingga Lembar Kerja Siswa (LKS). Mereka dipilih berdasarkan hasil asesmen sebagai siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu sehingga membutuhkan dukungan agar tetap dapat melanjutkan pendidikan," ungkapnya.

Saat ini SMPK St. Antonius Arjowilangun memiliki 106 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar, yakni masing-masing dua rombongan untuk kelas VII, VIII, dan IX.

Sementara itu, Pembina Yayasan Nawasena Pelita Ilmu, Bagus Djoko Bintoro, mengatakan program beasiswa lahir dari kepedulian terhadap anak-anak yang berpotensi putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.

"Kami tidak ingin ada anak yang cita-citanya terhenti hanya karena masalah biaya pendidikan. Tahun pertama kami membantu 10 siswa, dan pada tahun ajaran ini bertambah menjadi 21 siswa penerima manfaat. Ke depan kami akan berupaya menambah jumlah penerima beasiswa sesuai kemampuan yayasan dan dukungan para donatur," ujarnya.

Bagus menjelaskan, gagasan tersebut berawal dari komunikasi dengan pihak SMPK St Antonius Arjowilangun yang menyampaikan masih banyak siswa dari keluarga kurang mampu membutuhkan bantuan pendidikan.

Berangkat dari kondisi tersebut, yayasan kemudian menghimpun donasi untuk disalurkan kepada siswa yang layak menerima. 

smpk st antonius arjowilangun

Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya berhenti di SMPK St Antonius Arjowilangun

. Yayasan berkomitmen memperluas jangkauan bantuan pendidikan ke wilayah Malang Selatan dengan menggandeng sekolah-sekolah dalam proses seleksi calon penerima beasiswa.

"Kami ingin semakin banyak anak memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tanpa terkendala biaya. Penentuan penerima dilakukan bersama pihak sekolah agar bantuan benar-benar tepat sasaran," katanya.

Yulius selaku kepala asekolah berharap kepedulian Yayasan Nawasena Pelita Ilmu terhadap dunia pendidikan dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak peserta didik yang memperoleh kesempatan belajar tanpa terbebani persoalan ekonomi.

"Kami sangat bersyukur atas dukungan Yayasan Nawasena. Harapan kami, yayasan ini terus eksis mendampingi dunia pendidikan sehingga anak-anak yang terancam putus sekolah dapat tetap melanjutkan pendidikan. Dengan demikian, mereka bisa belajar lebih fokus dan memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia