Kesehatan

Hari Penglihatan Sedunia 2022: Jaga Kesehatan Mata, Cegah Gangguan Penglihatan

Kamis, 13 Oktober 2022 - 20:23 | 36.75k
Hari Penglihatan Sedunia 2022: Jaga Kesehatan Mata, Cegah Gangguan Penglihatan
dr Mia Nursalamah, Sp.M. sedang memeriksa kesehatan pandangan mata pasiennya. (Foto: Dokumen pribadi)

TIMESINDONESIA, BANDUNGHari Penglihatan Sedunia 2022 diperingati pada 13 Oktober dengan mengusung tema “Love Your Eyes”. Berkaitan dengan tema kali ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya menjaga kesehatan mata, dan mencegah gangguan penglihatan.

“Termasuk melakukan deteksi dini gangguan penglihatan pada keluarga secara sederhana di rumah dan melakukan pemeriksaan mata berkala di fasilitas kesehatan terdekat. Tidak hanya itu, masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kesadaran terhadap efek pajanan radiasi gadget/elektronik yang terlalu lama atau terlalu dini pada anak,” papar dr. Mia Nursalamah, Sp.M, dari RS Al Islam Bandung.

Dokter Mia menjelaskan, gangguan penglihatan di Indonesia masih menjadi permasalahan besar. Banyak penyebabnya, di antaranya katarak atau karena penyakit tertentu.

dr-Mia-Nursalamah-b.jpgAhli spesialis mata dari RS Al Islam Bandung (Foto: Dokumen pribadi)

“Kasus katarak terjadi pada usia di atas 50 tahunan dan untuk penyakit mata yang ditimbulkan oleh penyakit diabetes misalnya, terjadi di usia di bawah 50 tahunan,” jelasnya.

WHO pada 2021 menyatakan bahwa secara global setidaknya 2,2 miliar orang memiliki gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Satu miliar – atau hampir setengahnya – dari kasus ini, gangguan penglihatan dapat dicegah atau belum ditangani. Sedangkan saat ini di Indonesia, kurang lebih ada 1 juta orang mengalami kebutaan.

“Sementara itu, kurang lebih ada sekitar 5 sampai 6 juta orang mengalami gangguan penglihatan dan sebagian besarnya adalah masih mungkin untuk diatasi,” ulas dr. Mia Nursalamah, Sp.M.

Berdasarkan data nasional Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014 – 2016 Kemenkes, pada usia 50 tahun ke atas diketahui bahwa angka kebutaan mencapai 3% dan katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi (81%). Mayoritas orang dengan gangguan penglihatan dan kebutaan berusia 50 tahun ke atas.

“Namun, kehilangan penglihatan dapat memengaruhi orang-orang dari segala usia. Gangguan penglihatan dapat berdampak secara personal maupun ekonomi,” ujar dr Mia.

Menurutnya, gangguan penglihatan sangat berdampak personal pada kualitas hidup, di antara populasi orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa dengan gangguan penglihatan sering memiliki tingkat partisipasi dan produktivitas tenaga kerja yang lebih rendah dan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi. 

Dalam kasus orang dewasa yang lebih tua, gangguan penglihatan dapat berkontribusi pada isolasi sosial, kesulitan berjalan, risiko jatuh dan patah tulang yang lebih tinggi.

“Kemungkinan yang lebih besar untuk masuk lebih awal ke panti jompo atau home care,” tutur dr spesialis mata RS Al Islam ini.

Sementara pada aspek ekonomi, seseorang yang mengidap gangguan mata akan sangat terganggu. Dari data global disimpulkan bahwa gangguan penglihatan menimbulkan beban keuangan global yang sangat besar.

“Biaya global tahunan kehilangan produktivitas yang terkait dengan gangguan penglihatan akibat miopia yang tidak dikoreksi dan presbiopia saja diperkirakan masing-masing sebesar US$ 244 miliar dan US$ 25,4 miliar,” ulas dr. Mia. 

Artinya,bisa saja orang orang yang menderita gangguan penglihatan jadi beban keluarga atau orang sekitarnya. Atau, beban negara melalui pemerintahan setempat. “Maka pentingnya edukasi kepada masyarakat bagaimana harus menjaga organ mata agar bisa sehat dan terjaga dengan baik,” tegasnya.

Hilang penglihatan bukanlah hal yang diinginkan oleh seseorang tetapi pola kebiasaan hidup yang salah bisa jadi mendorong dirinya ke arah berkendala terhadap penglihatan. Contohnya, orang-orang yang divonis diabetes yang sekarang banyak dijumpai pada usia usia muda di bawah usia 50 tahunan. 

Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pola makan dan hidup yang tidak sehat sehingga kadar gula dalam darah tinggi. Efek kebocoran pembuluh darah pada mata sering terjadi hingga menyebabkan kebutaan.

dr-Mia-Nursalamah-c.jpgdr Mia Nursalamah, Sp.M sedang mengarahkan pasiennya. (Foto: Dokumen Pribadi)

Kondisi yang perlu diperhatikan apabila memiliki riwayat risiko penyakit Diabetes Melitus sangat berisiko untuk mengalami gangguan hingga kebocoran pembuluh darah pada saraf mata retina (retinopati diabetika) yang dapat mengancam penglihatan permanen.

Kontrol gula darah menjadi kunci utama penyakit ini, karena retinopati diabetika dapat bersifat progresif seiring durasi DM yang diderita.

“AAO merekomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan saraf mata pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2 yakni pada pertama kali terdiagnosis,” ujar dr. Mia.

Bagi penderita diabetes melitus tipe 1 direkomendasikan pemeriksaan saraf mata dilakukan pada 5 tahun pertama setelah terdiagnosis. Lalu, dilanjutkan pemeriksaan berkala dari 3 bulan hingga 1 tahun sekali bergantung kondisi keparahan gangguan retina yang terjadi.

Perlu diketahui bahwa penyebab gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata yang disebabkan oleh penderita diabetes itu berada pada poin ke lima. “Poin yang pertama yaitu gangguan refraksi tidak terkoreksi, kedua katarak, ketiga degenerasi makula terkait usia, keempat, glukoma,” paparnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES