Kesehatan

99 Warga Pacitan Positif Leptospirosis, Begini Cara Pencegahannya

Kamis, 02 Maret 2023 - 15:39 | 112.62k
Kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Pacitan drg Nur Farida menjelaskan cara pencegahan Leptospirosis. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Pacitan drg Nur Farida menjelaskan cara pencegahan Leptospirosis. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Pacitan drg Nur Farida mengungkapkan, saat ini sebanyak 99 warga dilaporkan positif terpapar penyakit Leptospirosis

"Sebenarnya bisa dicegah dengan pola hidup menjaga kebersihan lingkungan sehingga jika ada gejala tidak sampai menimbulkan korban jiwa," katanya saat ditemui TIMES Indonesia, Kamis (2/3/2023). 

Farida menambahkan, untuk mengantisipasi penambahan kasus, penting bagi para petani agar selalu melindungi diri dengan memakai alas kaki yang aman sehingga terhindar dari paparan virus Leptospira. Terlebih saat musim panen tiba ditambah intensitas hujan begitu tinggi. 

"Sebenarnya penularannya melalui kencing tikus yang menyebar lewat air. Petani dan pekebun memungkinkan peluang terkena, apalagi tidak pakai pelindung diri ditambah terdapat luka, sehingga virus mudah masuk ke tubuh," paparnya. 

Farida menjelaskan jika wilayah Kabupaten Pacitan secara epidemiologi cenderung endemis. Infeksinya terus-menerus bertahan pada tingkat dasar. Seperti di Kecamatan Nawangan. Hasil penelitian lapangan, Desa Mujing menjadi daerah tertinggi populasi tikus. Sejak 9 Februari 2023 lalu 7 orang terinfeksi dan tiga penderitanya meninggal dunia. 

"Sebenarnya di Nawangan yang tiga meninggal satu tidak murni Leptospirosis melainkan ada penyakit bawaan," terang Farida. 

Lebih lanjut dia mengatakan, sejak 2016 lalu kasus Leptospirosis sudah ditemukan kemudian didukung dengan pemeriksaan Lab dan hasilnya menunjukkan bahwa penyebabnya bakteri Leptospira pada hama tikus. 

Sebagai upaya tindak lanjut, Dinkes Pacitan gerak cepat berkoordinasi dengan lintas sektor guna melakukan tes cepat untuk deteksi dini warga yang memiliki tingkat resiko tinggi terpapar Leptospirosis tersebut. 

"Alhamdulillah semua lini merespon cepat. Dari awal kami sudah menyiapkan pemeriksaan cepat untuk deteksi dini Leptospirosis di 24 puskesmas dan RSUD," ujarnya. 

Menurut Farida, semua wilayah harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap merebaknya Leptospirosis terutama saat musim panen dan hujan dengan intensitas tinggi. Di samping itu, Kecamatan Nawangan perlu perhatian khusus karena di sana dimungkinkan peluang besar populasi tikus meningkat. 

"Pacitan hampir merata. 2022 lalu banyak ditemukan kasus di Puskesmas Bubakan, Ketro dan kebonagung. Saat ini pun Bubakan ada beberapa kasus namun masyarakatnya sudah mulai terbuka sehingga tak ada korban, petugas jangan sampai lengah," ucapnya menegaskan. 

Bakteri Leptospira Menyerang Ginjal Manusia

Meski penyakit Leptospirosis tidak menular antar manusia namun patut waspada karena menyerang organ ginjal hingga menyebabkan penyakit komplikasi. Jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan kematian. 

Leptospirosis ini bisa dirasakan mulai timbul gejala ringan seperti demam, mual dan nyeri pada betis. "Jangan sampai menunggu parah, kalau memang waktunya musim panen dan harus pergi ke sawah wajib pakai alas kaki. Jika ada gejala segera periksa ke faskes terdekat," pinta Kabid P2P Dinkes Pacitan drg Nur Farida. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES