Kesehatan

Bariatrik, Operasi Potong Lambung Paling Aman Demi Menurunkan Berat Badan

Selasa, 07 Mei 2024 - 19:44 | 32.67k
Digestive Surgery (Spesialis Bedah Digestive) National Hospital Surabaya, dr Iwan Kristian, Sp.B-KBD, Selasa (7/5/2024). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Digestive Surgery (Spesialis Bedah Digestive) National Hospital Surabaya, dr Iwan Kristian, Sp.B-KBD, Selasa (7/5/2024). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Berat badan berlebih kerap mengganggu aktivitas. Namun tidak semua orang bisa mendapatkan berat badan ideal secara mudah. Bahkan beberapa membutuhkan usaha keras seperti operasi bariatrik.

Berdasarkan survei, 20-30 persen pemuda di Indonesia mengalami obesitas. Problem lain adalah bagi bule, kebanyakan mengalami gemuk merata.

Sementara di Indonesia, jenis kegemukan tersentralisasi atau mengalami central obesity misal hanya pada bagian perut.

Masalah kegemukan sendiri cenderung dikaitkan dengan tingginya risiko penyakit. Antara lain diabetes, jantung dan sesak napas. Paling menakutkan dari bahaya kegemukan adalah ancaman penyakit kanker.

Digestive Surgery (Spesialis Bedah Digestive) National Hospital Surabaya, dr Iwan Kristian, Sp.B-KBD mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei di seluruh dunia, anggaran pemerintah dalam bidang kesehatan paling banyak habis untuk mengobati penyakit kardiovaskular. 

"Kanker menduduki peringkat ketiga dan salah satu pemicunya adalah kegemukan (over weight)," kata dr Iwan, Selasa (7/5/2024).

Menghadapi obesitas, pertama-tama memerlukan usaha dari dalam diri sendiri. Harus bisa mengatur pola makan. Disadari atau tidak, ternyata diet juga tidak mudah untuk dilakukan.

"Faktanya, itu karena manusia punya gen yang didesain untuk menyimpan lemak, bukan membuang lemak. Karena pada saat dulu, makanan kurang berlimpah, sehingga sel-sel kita sudah disetel oleh Gusti Allah kalau makan harus ada sisa dalam tubuh," kata dr Iwan.

Begitu makan berlebihan, pasti tubuh menyimpan lemak. Demikianlah mekanisme metabolisme, sehingga memilih makanan pun harus berhati-hati demi menjaga berat badan ideal.

Jika diet gagal, orang-orang akan memilih cara alternatif dan pintas. Antara lain dengan melakukan operasi bariatrik atau potong lambung. Operasi tersebut diklaim oleh para ahli medis sebagai satu-satunya cara paling aman. Banyak sekali metode bariatrik namun yang paling populer saat ini adalah potong lambung.

"Operasi ini minimal invasif surgery," ucap dr Iwan.

Lambung pasien akan dipotong 80 persen. Sebelum operasi, pasien juga diajari cara menentukan porsi makan dan mempertahankan pola makan tersebut hingga pasca operasi.

Sepuluh hari pertama pasca operasi, pasien hanya boleh minum. Ada kaldu dan sirup. Pada hari ke-20, bisa konsumsi makanan semi padat. Semua di bawah pengawasan dokter. 

Pada bulan ketiga, akan terjadi penurunan berat badan ekstrem bersamaan kondisi pemulihan yang makin membaik. Pasien boleh memakan apa saja, tentu dengan batasan. Dokter akan selalu mengingatkan pasien.

Kesuksesan operasi ini, dapat dilihat hasilnya dengan penurunan tingkat kegemukan hingga 30-50 persen.

Lanta, apakah semua orang obesitas dapat melakukan bariatrik?

Sejauh ini, bariatrik adalah cara paling cepat untuk menurunkan berat badan. Namun, banyak orang menganggap potong lambung adalah cara instan, padahal tidak demikian.

"Pasien yang potong lambung tidak langsung kita iyakan, ada diskusi dan pemeriksaan ke dokter jantung dan lain-lain untuk mempelajari riwayat kesehatan penyebab kegemukan," ujarnya.

Dokter Iwan menegaskan bahwa operasi adalah operasi. Baik itu operasi besar maupun operasi kecil. Sebuah tindakan yang memiliki risiko. 

"Bariatrik termasuk dalam operasi besar," tandasnya. 

Bariatrik hanya akan ditujukan kepada pasien morbid obesity. Dengan kategori BMI lebih dari 40 atau obesitas kelas 3, kemudian bisa juga bagi orang dengan obesitas kelas 1 dan 2 namun memiliki penyakit. Dokter juga harus berpengalaman untuk menghindari risiko apalagi operasi pada pasien obesitas memiliki risiko tinggi. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES