Panas Ekstrem di Surabaya, Kenali 4 Masalah Kulit yang Mengintai dan Cara Mengatasinya
Suhu siang di Surabaya mencapai 33°C sejak April 2026. Dokter Unair mengungkap empat masalah kulit yang sering muncul akibat panas ekstrem serta cara pencegahannya.
SURABAYA – Kondisi siang hari yang terik di Kota Surabaya mencapai 30°–33°C sejak awal April 2026, membuat warga Kota Pahlawan tidak hanya berjuang melawan dahaga, tetapi juga menjadi faktor utama pemicu masalah kulit.
Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan yang mencekik menyebabkan bakteri dan jamur untuk berkembang biak dengan sempurna. Bagi mereka yang menggantungkan hidup di jalanan, cuaca ini bukan sekadar gerah, melainkan ancaman kesehatan yang nyata.

Panas ekstrem ini membawa gerbong masalah kulit yang bervariasi. Menurut dr. Evy Ervianti, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) ada empat permasalahan kulit yang sering muncul akibat panas ekstrem, diantaranya:
1. Biang Keringat (Miliaria)
Kondisi ini paling sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang banyak berkeringat. Gejala bisa berupa bintil merah kecil, rasa gatal atau perih, sering muncul di leher, dada, dan lipatan kulit.
"Penanganannya dengan menjaga kulit tetap kering, gunakan bedak tabur atau losion kalamin sesudah mandi dan hindari pakaian ketat dan tidak menyerap keringat," terang dr. Evy.
2. Infeksi jamur kulit (Dermatophytosis)
Lingkungan lembap menjadi tempat ideal bagi jamur berkembang. Gejala berupa bercak merah melingkar, gatal pada area yang berkeringat. Sering ditemukan pada lipatan tubuh seperti selangkangan dan ketiak serta dada dan punggung yang mengandung kelenjar keringat banyak.
"Penanganannya dengan memberikan obat antijamur topikal atau oral, baiknya berkonsultasi dengan dokter, menjaga area tetap kering, mengganti pakaian secara rutin," papar Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika ini.
3. Jerawat punggung karena jamur (Malassezia folliculitis)
Produksi minyak meningkat saat cuaca panas, serta aktivitas di siang hari akan memperparah kondisi jerawat ini. gejala berupa gatal dan beruntusan merah pada area jerawat yang sering didapatkan pada area dada, punggung dan lengan bagian atas.
"Penanganannya dengan rajin membersihkan badan apabila berkeringat dengan sabun antiseptik, penberian anti jamur topikal berupa shampo yang dioleskan di badan atau obat antijamur oral yang harus berkonsultasi ke dokter," tambahnya.
4. Terbakar Surya (Sunburn)
Selain itu, paparan sinar matahari langsung tanpa perlindungan meningkatkan risiko kulit terbakar. Gejala yang dialami berupa kemerahan, panas, perih, bahkan pengelupasan kulit pada area yang tidak terlindungi baju, biasanya wajah, leher, pundak, lengan, tangan, tungkai dan kaki.
"Bila terjadi hal tersebut, bisa dikompres dengan air dingin, atau oleskan shooting gel yang mendinginkan seperti aloe vera, dan ke dokter bila sangat parah," ujar dr. Evy.
Siapa yang Paling Terancam?
Risiko tidak membagi rata. Kelompok yang paling rentan tersengat dampak cuaca ekstrem ini meliputi, pekerja lapangan, anak-anak dan lansia, individu dengan obesitas, serta pasien dengan penyakit kronis atau imunitas rendah.
Oleh karena itu, dr. Evy membagikan langkah pencegahan yang dianjurkan untuk mengatasi penyakit kulit akibat cuaca panas Surabaya, seperti:
• Mandi minimal 2 kali sehari
• Gunakan sabun lembut
• Keringkan area lipatan tubuh
• Gunakan bahan katun yang menyerap keringat
• Hindari pakaian ketat
• Gunakan sunscreen SPF ≥30
• Hindari aktivitas pukul 10.00 WIB–15.00 WIB
• Gunakan topi atau payung
• Minum air minimal 2 liter per hari
• Hindarkan kondisi dehidrasi
"Surabaya memang sedang panas-panasnya, namun dengan proteksi yang tepat, kulit sehat bukan sekadar impian. Jika iritasi memburuk, jangan hobi mendiagnosa sendiri, segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit untuk penanganan medis yang akurat," ucapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

