Advertisement
Kesehatan

Pakar Gizi UGM Ungkap Penyebab Stunting Masih Tinggi

Stunting merupakan masalah kronis yang dipengaruhi banyak faktor, terutama akses terhadap pangan bergizi dan pola pengasuhan keluarga.

TIMES Indonesia,
Pakar Gizi UGM Ungkap Penyebab Stunting Masih Tinggi
Guru Besar Ilmu Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, Prof. Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. (FOTO: ugm.ac.id)
A-AA+

Yogyakarta Angka stunting di Indonesia masih menjadi perhatian serius pemerintah. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia 2025 dari Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8 persen. Padahal pemerintah menargetkan penurunan stunting hingga 14,2 persen pada tahun 2029.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan kasus tengkes, salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus memperkuat sumber daya manusia Indonesia.

Advertisement

Guru Besar Ilmu Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes.,  menilai stunting merupakan masalah kronis yang dipengaruhi banyak faktor, terutama akses terhadap pangan bergizi dan pola pengasuhan keluarga.

Akses Pangan Bergizi Masih Jadi Tantangan

Helmyati menjelaskan persoalan akses pangan masih banyak ditemukan di wilayah 3T, termasuk kawasan pesisir dan pedalaman. Ironisnya, daerah yang memiliki sumber pangan melimpah justru masih menghadapi persoalan gizi pada anak.

Di wilayah pesisir misalnya, masyarakat lebih memilih menjual ikan berkualitas tinggi dibanding mengonsumsinya sendiri. Kondisi ekonomi membuat bahan pangan bergizi berubah menjadi komoditas pasar demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

“Di daerah pesisir, ikan bergizi tinggi lebih banyak dijual daripada dikonsumsi keluarga sendiri,” ujarnya, Minggu (6/5/2026).

Advertisement

Sementara di wilayah pedalaman, keterbatasan infrastruktur dan distribusi pangan membuat masyarakat sulit memperoleh makanan berkualitas. Selain itu, pola konsumsi keluarga juga dipengaruhi kebiasaan memilih makanan instan karena dianggap lebih praktis.

Menurut Helmyati, lingkungan yang kurang sehat turut memperbesar risiko stunting. Sanitasi buruk, kualitas air yang tidak layak, hingga peralatan makan yang tidak higienis dapat memengaruhi kesehatan saluran cerna anak dan menghambat penyerapan gizi.

Pendidikan Orang Tua Berpengaruh pada Tumbuh Kembang Anak

Selain faktor pangan, pendidikan orang tua disebut menjadi kunci penting dalam pencegahan stunting. Orang tua yang memiliki pengetahuan baik tentang gizi dan kesehatan dinilai lebih mampu menentukan prioritas kebutuhan anak, terutama dalam kondisi ekonomi terbatas.

Helmyati mencontohkan pengalaman saat krisis ekonomi, di mana terdapat keluarga yang tetap mampu menjaga kesehatan anak karena menjadikan kebutuhan gizi sebagai prioritas utama.

Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan positive deviance, yakni perubahan perilaku berbasis solusi lokal yang terbukti efektif dalam menjaga kesehatan anak di tengah keterbatasan.

Menurutnya, tumbuh kembang anak dipengaruhi ekosistem keluarga sejak masa kehamilan hingga seribu hari pertama kehidupan. Karena itu, edukasi bagi calon orang tua dinilai sangat penting untuk mencegah stunting sejak dini.

“Orang tua yang terdidik akan lebih mampu menentukan prioritas dalam membesarkan anak, termasuk memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga lingkungan tetap sehat,” paparnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A. Tulung
PenulisA. TulungSarjana Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Tahun 2006 dan Magister Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia