Advertisement
Kesehatan

Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran: Kenali Penyebab Nyeri Leher, Jangan Tunda Terapi

Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran jelaskan penyebab nyeri leher di era digital dan ajak masyarakat tidak menunda pemeriksaan serta memanfaatkan fisioterapi untuk cegah keluhan makin berat.

TIMES Indonesia,
Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran: Kenali Penyebab Nyeri Leher, Jangan Tunda Terapi
Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran sedang memberikan edukasi terkait penyebab nyeri leher. (FOTO : Acep Rifki Padilah/TIMES Indonesia)
A-AA+

PANGANDARAN Nyeri leher menjadi salah satu gangguan kesehatan yang kerap dikeluhkan masyarakat, terutama di era digital saat aktivitas bekerja dan berkomunikasi banyak dilakukan melalui perangkat elektronik. 

Kondisi ini ternyata tidak selalu disebabkan oleh kelelahan biasa, melainkan bisa berkaitan dengan berbagai masalah pada otot, saraf hingga persendian.

Advertisement

Hal tersebut disampaikan Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran, Nuri Syata Lestari pada kegiatan edukasi kesehatan yang berlangsung di Ruang Tunggy Poliklinik RSUD Pandega Pangandaran.

Dalam kesempatan itu, Nuri memaparkan sejumlah faktor yang dapat memicu munculnya nyeri leher. Di antaranya adalah spasme atau kekakuan otot, saraf terjepit pada area leher (cervical root syndrome), kerusakan sendi akibat proses degeneratif atau spondylosis, hingga cedera yang disebabkan benturan atau trauma.

"Setiap penyebab membutuhkan penanganan yang berbeda. Karena itu penting untuk mengetahui sumber keluhannya sebelum menentukan terapi yang tepat," kata Nuri.

Ia menjelaskan, spasme otot merupakan kondisi yang paling sering ditemukan. Keluhan nyeri leher ini biasanya muncul akibat posisi tubuh yang tidak tepat dalam waktu lama, aktivitas berulang, maupun kurangnya peregangan saat bekerja.

Selain menimbulkan rasa nyeri, spasme juga dapat menyebabkan leher terasa kaku sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderitanya.

Advertisement

Menurut Nuri, kebiasaan menunduk saat menggunakan telepon seluler, duduk terlalu lama di depan komputer, serta postur tubuh yang kurang ergonomis menjadi faktor risiko yang banyak ditemukan saat ini.

Untuk mengatasi keluhan neri leher tersebut, fisioterapi dapat menjadi salah satu pilihan penanganan. Melalui serangkaian pemeriksaan dan terapi yang disesuaikan dengan kondisi pasien, fisioterapi bertujuan membantu mengurangi nyeri, meningkatkan fleksibilitas, serta mengembalikan fungsi gerak secara optimal.

"Fisioterapi tidak hanya berfokus pada mengurangi rasa sakit, tetapi juga membantu memperbaiki penyebab yang mendasarinya agar keluhan tidak mudah kambuh," ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan apabila nyeri leher berlangsung berkepanjangan, semakin berat, atau disertai gejala lain seperti kesemutan, mati rasa, maupun kelemahan pada lengan dan tangan.

Melalui edukasi tersebut, RSUD Pandega Pangandaran berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan otot dan persendian, serta tidak ragu memanfaatkan layanan fisioterapi untuk mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Acep Rifki Padilah
PenulisAcep Rifki PadilahSarjana Pendidikan STAI KH. Badruzzaman (2023). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya di Pangandaran.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia