Ancaman Heat Stroke Mengintai, Warga Banyuwangi Diminta Waspada Hadapi Musim Panas
Warga Banyuwangi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan penuh sepanjang musim panas.
Banyuwangi – Terik matahari yang menyengat di langit Bumi Blambangan akhir-akhir ini bukan lagi sekadar penanda pergantian musim. Di balik suhu udara yang tinggi, ancaman nyata berupa heat stroke tengah mengintai. Menyikapi situasi tersebut, warga Banyuwangi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan penuh sepanjang musim panas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri memprediksi bahwa puncak musim kemarau di Indonesia baru akan terjadi pada Juli hingga September 2026 mendatang. Di wilayah Banyuwangi, peningkatan suhu udara yang cukup terik memang sudah mulai terjadi, walaupun intensitas hujan lokal sesekali masih terpantau turun.
Seperti yang diketahui, kehadiran musim panas memang selalu identik dengan suhu tinggi, udara kering, dan debu yang beterbangan, termasuk ancaman krisis air bersih. Jika tidak diantisipasi, kombinasi cuaca ekstrem ini siap memicu berbagai masalah kesehatan serius, seperti dehidrasi, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan debu, iritasi kulit, heat exhaustion hingga puncaknya yang paling berbahaya, yaitu heat stroke.
Saat musim panas, tidak sedikit warga yang terserang heat exhaustion atau kelelahan akibat suhu tinggi. Kondisi itu bisa terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan garam melalui keringat yang keluar berlebihan, sehingga membuat tubuh lemas dengan denyut nadi yang berdetak jauh lebih cepat.
“Nah ini merupakan tahap awal dari heat stroke. Jadi saat tubuh mengeluarkan keringat berlebihan, dan tubuh kurang minum, nutrisi dan elektrolit, maka dapat berkembang jadi heat stroke,” jelas Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat Selasa (15/6/2026).
Sementara itu, heat stroke adalah kondisi darurat medis paling parah yang terjadi ketika suhu tubuh melonjak drastis hingga mencapai kurang lebih 40 derajat C dan sistem pengatur suhu tubuh gagal berfungsi.
“Yang paling parah sampai terjadi kejang-kejang,” tutur Amir.
Langkah cepat pun diambil Dinkes Banyuwangi. Upaya mitigasi langsung digencarkan guna mengantisipasi risiko dehidrasi, heat exhaustion, hingga heat stroke. Proteksi ini difokuskan pada kelompok rentan, mulai dari lansia, ibu hamil, balita, hingga warga dengan penyakit penyerta (komorbid) kronis.
“Kami telah siapkan protap untuk kewaspadaan pada nakes, jika misal terjadi kasus akan dilakukan penanganan secara cepat,” terang Amir.
Demi mengantisipasi risiko heat stroke, Amir menyampaikan pesan penting bagi masyarakat Banyuwangi. Terutama mereka yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan diantaranya seperti petani, nelayan, tukang bangunan, dan pekerja lapangan lainnya.
Warga diimbau untuk lebih selektif dalam mengatur aktivitas di luar ruangan, terutama pada pukul 10.00 hingga 15.00. Rentang waktu tersebut merupakan pemuncak suhu panas, di mana paparan radiasi matahari sedang kuat-kuatnya. Oleh karena itu, manajemen waktu yang baik sangat diperlukan untuk membatasi aktivitas fisik yang terlalu berat pada jam-jam rawan tersebut.
Jika memang terpaksa harus beraktivitas di bawah terik matahari langsung, penggunaan pelindung tubuh menjadi hal yang wajib. Masyarakat disarankan memakai pelindung kepala seperti topi, serta mengenakan pakaian berwarba terang berbahan tipis namun tetap tertutup. Langkah ini penting untuk melindungi kulit dari paparan langsung sinar ultraviolet (UV) yang dapat memicu luka bakar (sunburn).
Langkah krusial lainnya adalah menjaga hidrasi tubuh dengan rutin minum air putih. Jangan menunggu hingga rasa haus datang, pastikan tubuh mendapat asupan cairan yang cukup, yakni sekitar 8 hingga 12 gelas atau setara dengan 2 liter air setiap harinya.
“Jika kemudian terjadi gejala seperti suhu tubuh tinggi, kulit terasa panas dan tidak berkeringat, detak jantung berdebar cepat, nadi bergerak cepat, sampai sakit kepala berdenyut hebat langsung periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat,” tutur Amir. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


