Studi: Ketergantungan AI Bikin Dokter Kehilangan Kemampuan Dasar
Penelitian terbaru mengungkap dokter yang menggunakan AI untuk deteksi lesi usus mengalami penurunan kemampuan saat alat dimatikan. Studi di Polandia jadi bukti awal 'deskilling' akibat AI. Para ahli khawatirkan atrofi keterampilan manusia.
JAKARTA – Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat membuat keterampilan manusia menjadi tumpul mulai terbukti. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dokter yang terbiasa menggunakan alat bantu AI dalam prosedur medis justru kehilangan kemampuan mereka saat harus bekerja tanpa bantuan teknologi tersebut.
Dalam laporan yang diberitakan nature.com pada Kamis (18/6/2026), sebuah studi di Polandia yang melibatkan dokter spesialis endoskopi mengungkapkan fenomena mengkhawatirkan tersebut. Para dokter, yang semuanya telah melakukan setidaknya 2.000 prosedur kolonoskopi sepanjang karier mereka, diberikan akses ke sistem AI yang menganalisis gambar kolonoskopi secara real-time untuk mendeteksi adenoma (lesi prakanker usus).
Hasilnya mencengangkan. Selama periode tiga bulan sebelum alat AI diperkenalkan, para spesialis mendeteksi setidaknya satu adenoma dalam 28,4 persen prosedur. Namun, selama tiga bulan setelah alat AI diperkenalkan, tingkat deteksi adenoma pada prosedur yang dilakukan tanpa bantuan AI turun drastis menjadi 22,4 persen.
Temuan yang diterbitkan dalam The Lancet Gastroenterology and Hepatology ini menunjukkan bahwa bahkan profesional yang sangat terampil pun bisa menjadi lebih buruk dalam tugas-tugas yang menjadi tuntutan pekerjaan mereka seiring dengan meningkatnya ketergantungan pada alat AI.
"Hanya dengan menyadari bahwa fenomena ini ada, diharapkan dapat memicu refleksi diri tentang keterampilan mana yang ingin dipertahankan dan mana yang ingin dialihkan ke alat AI," kata Kevin Crowston, ilmuwan informasi di Syracuse University.
Co-author studi, Yuichi Mori dari University of Oslo, mengatakan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengonfirmasi fenomena ini, namun pengguna alat AI harus menyadari bahwa mereka berisiko kehilangan sebagian keterampilan mereka. "Belum ada solusi yang mapan untuk melawan penurunan keterampilan saat ini. Ini seharusnya menjadi topik penelitian yang sangat hangat dalam dekade berikutnya," ujarnya.
Survei sebelumnya terhadap pekerja perawatan kesehatan AS menunjukkan 70 persen perawat dan 77 persen dokter khawatir kehilangan keterampilan mereka karena ketergantungan berlebihan pada sistem AI. Penelitian serupa juga sedang dilakukan di bidang ilmu komputer untuk melihat apakah fenomena serupa terjadi di kalangan insinyur perangkat lunak yang menggunakan asisten AI. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


