Advertisement
Kesehatan

Berapa Kali Kentut Sehari Masih Normal? Kenali Batas Wajar dan Tanda yang Perlu Diwaspadai

Berapa kali kentut sehari yang masih normal? Simak penjelasan ahli tentang frekuensi kentut, penyebab produksi gas berlebih, dan tanda-tanda yang perlu diwaspadai.

TIMES Indonesia,
Berapa Kali Kentut Sehari Masih Normal? Kenali Batas Wajar dan Tanda yang Perlu Diwaspadai
Frekuensi dan bau kentut bisa menjadi tanda terkait kesehatan tubuh. (Foto: getty)
A-AA+

Jakarta Kentut sering dianggap memalukan dan jarang menjadi bahan pembicaraan. Padahal, buang gas merupakan proses alami yang menandakan sistem pencernaan bekerja sebagaimana mestinya.

Lalu, berapa kali seseorang kentut dalam sehari masih tergolong normal? Para ahli menyebut frekuensi kentut setiap orang berbeda-beda karena dipengaruhi pola makan, kebiasaan, hingga kondisi kesehatan.

Advertisement

Berapa Kali Kentut yang Normal?

Menurut ahli gastroenterologi, orang dewasa yang sehat umumnya mengeluarkan gas sekitar 10 hingga 20 kali per hari. Bahkan, sejumlah ahli gizi menyebut rata-rata frekuensi kentut berada di kisaran 15–20 kali sehari.

Namun, penelitian terbaru pada 2026 menemukan rata-rata peserta hanya kentut sekitar lima kali per hari. Meski demikian, angka tersebut masih dianggap bervariasi karena dipengaruhi jenis makanan, gaya hidup, dan kondisi masing-masing individu.

Gas dalam saluran cerna terus terbentuk selama proses pencernaan. Karena itu, tubuh perlu mengeluarkannya agar keseimbangan sistem pencernaan tetap terjaga.

Mengapa Bisa Lebih Sering Kentut?

Penyebab paling umum adalah pola makan. Makanan tinggi serat seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian difermentasi oleh bakteri usus sehingga menghasilkan lebih banyak gas.

Kondisi ini biasanya bersifat sementara, terutama ketika seseorang baru meningkatkan konsumsi serat. Seiring waktu, tubuh akan beradaptasi sehingga produksi gas kembali stabil.

Advertisement

Selain makanan, beberapa kebiasaan juga dapat meningkatkan jumlah gas dalam usus, antara lain:

  • Makan terlalu cepat.

  • Mengunyah permen karet.

  • Minum minuman berkarbonasi.

  • Makan sambil berbicara atau mulut terbuka sehingga lebih banyak udara tertelan.

Kapan Kentut Dianggap Berlebihan?

Meski tidak ada angka baku, para ahli menilai frekuensi lebih dari 20–25 kali sehari dapat dikategorikan berlebihan, terutama bila terjadi secara terus-menerus.

Namun, yang lebih penting bukan sekadar menghitung jumlah kentut, melainkan memperhatikan apakah terdapat perubahan yang disertai gejala lain, seperti:

  • Perut kembung berlebihan.

  • Nyeri atau kram perut.

  • Bau kentut yang jauh lebih menyengat dari biasanya.

  • Perubahan pola buang air besar.

  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Apabila keluhan tersebut muncul, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Apa Arti Kentut bagi Kesehatan?

Kentut pada dasarnya merupakan tanda bahwa usus sedang mencerna makanan. Selama proses tersebut, bakteri baik di usus memfermentasi sisa makanan yang tidak tercerna dan menghasilkan gas.

Sebaliknya, tidak bisa kentut sama sekali justru dapat menjadi tanda adanya gangguan serius, seperti sumbatan usus, yang memerlukan penanganan medis segera.

Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Banyak Kentut

Selain pola makan, beberapa gangguan kesehatan juga dapat meningkatkan produksi gas, di antaranya:

  • Intoleransi laktosa.

  • Penyakit celiac.

  • Small Intestinal Bacterial Overgrowth (SIBO).

  • Konstipasi atau sembelit.

  • Gangguan pergerakan usus, termasuk yang berkaitan dengan diabetes.

Kondisi-kondisi tersebut dapat mengganggu proses pencernaan sehingga menghasilkan lebih banyak gas dibandingkan normal.

Kesimpulan

Kentut merupakan bagian normal dari proses pencernaan dan tidak perlu dianggap memalukan. Frekuensi sekitar 10–20 kali per hari masih tergolong wajar, meski setiap orang dapat memiliki jumlah yang berbeda.

Peningkatan jumlah kentut sering kali hanya dipengaruhi pola makan, terutama konsumsi makanan tinggi serat. Namun, bila kentut menjadi jauh lebih sering dari biasanya atau disertai nyeri, kembung berat, maupun perubahan pada sistem pencernaan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebabnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia