Jalan Kaki Cepat Turunkan Risiko Demensia hingga 50 Persen
Berjalan kaki dengan langkah lebih cepat terbukti mampu menurunkan risiko gangguan kognitif hingga 50 persen. Temuan ini membuka cara sederhana menjaga kesehatan otak sejak dini.
JAKARTA – Berjalan kaki selama ini dikenal sebagai olahraga paling sederhana dan murah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya rutinitas berjalan yang penting, melainkan juga kecepatan langkah. Semakin cepat seseorang berjalan, semakin besar peluangnya menjaga fungsi otak hingga usia lanjut.
Temuan tersebut berasal dari gabungan tiga penelitian besar, yakni Health and Retirement Study (HRS-INS), LongGenity Study, dan RUSH Memory and Aging Project (RUSH MAP) yang melibatkan sekitar 4.000 peserta. Hasil penelitian itu dipublikasikan dan dirangkum oleh Eating Well pada Kamis (9/7/2026).
Langkah Cepat, Risiko Demensia Lebih Rendah
Para peneliti menemukan bahwa kelompok yang disebut sebagai "super movers" atau individu dengan kecepatan berjalan jauh di atas rata-rata seusianya memiliki risiko mengalami gangguan kognitif sekitar 50 persen lebih rendah dibanding mereka yang berjalan lebih lambat.
Kategori tersebut diberikan kepada peserta yang memiliki kecepatan berjalan minimal 1,5 standar deviasi di atas rata-rata kelompok usianya berdasarkan uji jalan dengan pengukuran waktu.
Selain menurunkan risiko demensia, kelompok ini juga mengalami penurunan fungsi kognitif yang jauh lebih lambat, baik dalam aspek memori maupun kemampuan berpikir lainnya.
Penelitian juga menemukan bahwa peserta yang aktif berjalan cepat memiliki volume hipokampus—bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori—lebih besar dibanding kelompok lainnya.
Tak hanya itu, mereka juga menunjukkan tingkat penyakit Alzheimer yang lebih rendah. Meski demikian, hasil otopsi otak belum menemukan perbedaan signifikan terkait patologi penyakit demensia, sehingga para peneliti menilai masih diperlukan penelitian lanjutan.
Mengapa Jalan Cepat Lebih Baik?
Para peneliti menjelaskan, aktivitas fisik dengan intensitas lebih tinggi mampu meningkatkan aliran darah menuju otak sehingga suplai oksigen dan nutrisi menjadi lebih optimal.
Berjalan cepat juga merangsang produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sel saraf, memperkuat koneksi antarneuron, serta mendukung kemampuan belajar dan mengingat.
Selain itu, ayunan lengan yang lebih aktif saat berjalan cepat diyakini turut mengaktifkan lebih banyak area otak. Menariknya, berkurangnya ayunan lengan justru menjadi salah satu tanda awal penurunan fungsi kognitif pada sebagian penderita demensia.
Tetap Perlu Dibaca Secara Proporsional
Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi hasil belum sepenuhnya diperhitungkan, sementara jumlah peserta yang menjalani pencitraan otak juga relatif terbatas.
Salah satu studi bahkan memiliki proporsi peserta aktif yang lebih besar sehingga berpotensi memengaruhi hasil keseluruhan.
Karena itu, temuan ini tidak dapat diartikan bahwa berjalan cepat menjadi satu-satunya cara mencegah demensia. Namun, penelitian memperkuat bukti bahwa aktivitas fisik rutin berkontribusi besar terhadap kesehatan otak.
Mulai dari Langkah Kecil
Bagi masyarakat yang belum terbiasa berolahraga, peneliti menyarankan memulai dengan berjalan kaki singkat beberapa kali dalam sepekan. Setelah tubuh beradaptasi, durasi maupun intensitas dapat ditingkatkan secara bertahap.
Sementara bagi mereka yang sudah rutin berjalan, meningkatkan kecepatan dalam beberapa interval atau memilih medan yang lebih menantang seperti jalan menanjak dapat menjadi pilihan untuk memperoleh manfaat kesehatan yang lebih optimal.
Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Kebiasaan sederhana seperti mempercepat langkah saat berjalan bisa menjadi investasi penting untuk mempertahankan kualitas hidup di masa tua.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


