Depresi Musim Panas Bisa Picu Gangguan Mental, Kenali Gejala dan Pemicunya
Depresi musim panas atau reverse seasonal affective disorder dapat memicu kecemasan, sulit tidur, hingga kehilangan motivasi. Simak gejala dan faktor pemicunya.
JAKARTA – Musim panas selama ini identik dengan suasana liburan, aktivitas luar ruang, dan cuaca yang cerah. Namun, bagi sebagian orang, datangnya musim panas justru dapat memicu gangguan kesehatan mental yang dikenal sebagai summer seasonal affective disorder (SAD) atau reverse seasonal affective disorder (RSAD).
Kondisi ini merupakan bentuk depresi musiman yang muncul ketika suhu meningkat dan hari menjadi lebih panjang. Meski belum diakui sebagai diagnosis medis tersendiri, sejumlah penelitian menunjukkan fenomena tersebut benar-benar dialami sebagian masyarakat.
Analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders, yang dikutip Sabtu (11/7/2026), memperkirakan sekitar 0,57 persen populasi mengalami depresi musiman saat musim panas. Angka tersebut memang relatif kecil, tetapi menunjukkan bahwa perubahan musim tidak selalu berdampak positif terhadap kondisi psikologis setiap orang.
Gejalanya Mirip Depresi pada Umumnya
Penderita depresi musim panas dapat mengalami berbagai keluhan psikologis yang serupa dengan depresi musiman saat musim dingin.
Gejala yang paling sering muncul antara lain kecemasan berlebihan, mudah tersinggung, gangguan tidur, kelelahan, sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat beraktivitas, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Perbedaannya, jika depresi musim dingin kerap disertai peningkatan nafsu makan, pada depresi musim panas sebagian penderita justru mengalami penurunan selera makan.
Perubahan Hormon hingga Kurang Tidur
Para peneliti menduga gangguan ini berkaitan dengan perubahan produksi melatonin, hormon yang berperan mengatur siklus tidur dan bangun.
Saat musim panas, durasi siang yang lebih panjang dan malam yang lebih singkat membuat produksi melatonin berkurang. Kondisi tersebut dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi kestabilan suasana hati.
Suhu udara yang lebih tinggi juga berpotensi membuat tidur menjadi kurang nyenyak, sehingga tubuh dan otak tidak memperoleh waktu pemulihan yang optimal.
Tekanan Sosial Ikut Memengaruhi
Selain faktor biologis, tekanan sosial pada musim panas juga dinilai berkontribusi terhadap munculnya depresi.
Banyak orang merasa terbebani oleh rencana liburan, pengeluaran yang meningkat, atau munculnya fenomena fear of missing out (FOMO) ketika melihat aktivitas orang lain di media sosial.
Sebagian individu juga mengalami penurunan rasa percaya diri terhadap bentuk tubuh karena lebih sering mengenakan pakaian yang terbuka saat cuaca panas.
Di sisi lain, perubahan rutinitas kerja musiman, alergi yang memicu peradangan dalam tubuh, hingga meningkatnya konsumsi alkohol pada musim liburan dapat memperburuk gejala kecemasan maupun depresi.
Respons Setiap Orang Berbeda
Para ahli menegaskan bahwa setiap individu memiliki respons psikologis yang berbeda terhadap pergantian musim.
Sebagian orang merasa lebih berenergi ketika cuaca hangat, tetapi sebagian lainnya justru mengalami penurunan suasana hati dan kesulitan beradaptasi.
Karena itu, mengenali perubahan emosi yang berlangsung terus-menerus menjadi langkah penting agar gangguan kesehatan mental dapat ditangani lebih dini. Jika gejala berlangsung dalam waktu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tenaga kesehatan mental menjadi pilihan yang disarankan.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


