Advertisement
Kesehatan

Waiting Mode, Saat Pikiran Terjebak Menunggu Kepastian

Waiting mode membuat seseorang merasa hidup tertahan akibat menunggu kepastian. Kenali penyebab dan cara mengelola kondisi psikologis ini.

TIMES Indonesia,
Waiting Mode, Saat Pikiran Terjebak Menunggu Kepastian
Ilustrasi, gangguan mental. (Foto: Freepik)
A-AA+

JAKARTA Menunggu hasil ujian, balasan pesan penting, keputusan pekerjaan, atau jadwal pemeriksaan kesehatan sering kali membuat seseorang sulit menjalani aktivitas seperti biasa. Meski secara fisik tidak sedang melakukan apa pun, pikiran terus tertuju pada hal yang belum pasti.

Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai waiting mode, yaitu keadaan ketika seseorang merasa kehidupannya seperti berhenti sementara karena menunggu sebuah kepastian.

Advertisement

Dikutip dari Psychology Today, Sabtu (11/7/2026), waiting mode menggambarkan situasi ketika perhatian, energi, dan kemampuan seseorang untuk fokus terserap oleh sesuatu yang sedang dinantikan, meskipun sebenarnya belum ada tindakan yang perlu dilakukan.

Fenomena ini bukan diagnosis medis resmi dan belum tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Namun, istilah tersebut banyak digunakan dalam komunitas penyandang attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) untuk menggambarkan pola pikir tertentu.

Ketika Otak Terjebak Antisipasi

Pada sebagian orang dengan ADHD, waiting mode muncul sebagai strategi otak untuk menghindari risiko lupa terhadap agenda, janji, atau tugas yang akan datang.

Alih-alih tetap menjalankan aktivitas lain, perhatian justru terkunci pada sesuatu yang belum terjadi. Akibatnya, seseorang bisa merasa sulit memulai pekerjaan, menunda aktivitas, atau kehilangan produktivitas karena terus memantau hal yang ditunggu.

Namun, waiting mode tidak hanya dialami oleh penyandang ADHD. Kondisi serupa juga dapat terjadi pada orang yang memiliki tingkat kecemasan tinggi, kecenderungan perfeksionis, atau kebiasaan terlalu berhati-hati dalam menghadapi situasi tertentu.

Advertisement

Kaitan dengan Ketidakmampuan Menghadapi Ketidakpastian

Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan waiting mode adalah intolerance of uncertainty atau kesulitan menerima kondisi yang belum memiliki kepastian.

Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa tingkat intolerance of uncertainty yang tinggi berkaitan dengan gangguan kecemasan dan depresi. Seseorang yang sulit menerima ketidakpastian cenderung lebih mudah memikirkan berbagai kemungkinan buruk dan merasa perlu mendapatkan jawaban secepat mungkin.

Dalam kondisi tersebut, proses menunggu bukan hanya menjadi aktivitas pasif, tetapi berubah menjadi sumber tekanan psikologis.

Pengalaman Masa Lalu Bisa Memengaruhi

Pada beberapa kasus, waiting mode juga dapat berkaitan dengan pengalaman hidup yang penuh ketidakstabilan atau situasi traumatis.

Seseorang yang pernah menghadapi kondisi tidak terduga secara berulang dapat mengembangkan kewaspadaan tinggi terhadap berbagai kemungkinan. Akibatnya, situasi yang belum memiliki kepastian dapat memicu rasa tidak nyaman atau dorongan untuk terus mengantisipasi.

Meski demikian, respons setiap orang terhadap ketidakpastian berbeda-beda. Tidak semua kebiasaan menunggu menunjukkan adanya masalah psikologis.

Belajar Tetap Bergerak di Tengah Ketidakpastian

Waiting mode dapat berkurang ketika seseorang mulai menerima bahwa tidak seluruh aspek kehidupan dapat dikendalikan atau dipastikan.

Salah satu pendekatan yang dapat membantu adalah memisahkan antara hal yang bisa dikendalikan dan hal yang berada di luar kendali. Dengan begitu, seseorang tetap dapat menjalankan rutinitas, bekerja, dan menikmati aktivitas sehari-hari tanpa harus menunggu seluruh persoalan selesai terlebih dahulu.

Mengelola ketidakpastian menjadi bagian penting dari kesehatan mental. Sebab, dalam banyak situasi kehidupan, kemampuan untuk tetap bergerak meski belum memiliki semua jawaban dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan emosional dan produktivitas.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia