Advertisement
Kesehatan

Mikroplastik Bukan Lagi Sekadar Sampah, Kini Diduga Membuat Antibiotik Kehilangan Daya Lawan Bakteri

Mikroplastik kini tidak hanya menjadi ancaman bagi lingkungan, tetapi juga dikhawatirkan mempercepat resistensi antibiotik. Penelitian terbaru menunjukkan partikel plastik berukuran mikroskopis dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri yang lebih kebal t

TIMES Indonesia,
Mikroplastik Bukan Lagi Sekadar Sampah, Kini Diduga Membuat Antibiotik Kehilangan Daya Lawan Bakteri
Ilustrasi mikroplastik di lingkungan perairan. (Unsplash / Tanvi Sharma)
A-AA+

JAKARTA Plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Botol minuman, wadah makanan, kantong belanja, hingga pakaian sintetis memudahkan aktivitas manusia. Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan ancaman yang terus berkembang.

Bukan lagi sekadar mencemari laut atau memenuhi tempat pembuangan sampah, plastik kini berubah menjadi partikel mikroskopis yang nyaris tak terlihat. Partikel itu dikenal sebagai mikroplastik, dan para ilmuwan mulai menemukan dampak yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Advertisement

Jika selama ini mikroplastik dikaitkan dengan pencemaran lingkungan dan kesehatan tubuh, kini muncul kekhawatiran baru. Mikroplastik diduga ikut mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap antibiotik, salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia saat ini.

Dilansir dari Yahoo News, kekhawatiran tersebut muncul setelah sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bakteri yang hidup pada permukaan mikroplastik mampu membentuk koloni atau biofilm yang lebih kuat. Kondisi ini membuat bakteri lebih sulit dibunuh oleh antibiotik.

Mikroplastik Menjadi "Rumah" Baru bagi Bakteri

Mikroplastik berukuran kurang dari lima milimeter. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini mudah terbawa air, udara, bahkan masuk ke rantai makanan manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, mikroplastik ditemukan hampir di mana-mana. Mulai dari air minum, garam dapur, makanan laut, tanah pertanian, hingga berbagai organ tubuh manusia.

Namun, para peneliti menemukan fakta lain yang tak kalah mengkhawatirkan.

Advertisement

Permukaan mikroplastik ternyata menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk menempel dan berkembang. Di sana, bakteri membentuk lapisan tipis yang disebut biofilm. Lapisan ini bekerja seperti benteng yang melindungi koloni bakteri dari ancaman luar, termasuk antibiotik.

Akibatnya, bakteri memiliki peluang lebih besar bertahan hidup dan beradaptasi terhadap obat-obatan yang selama ini digunakan untuk mengobati infeksi.

Ancaman yang Sulit Terlihat

Berbeda dengan limbah plastik berukuran besar yang mudah dikenali, mikroplastik hampir mustahil dilihat dengan mata telanjang.

Partikel ini muncul dari pecahan botol plastik, serat pakaian sintetis, ban kendaraan, hingga berbagai produk rumah tangga yang digunakan setiap hari.

Karena tersebar sangat luas, manusia hampir tidak mungkin sepenuhnya menghindari paparan mikroplastik.

Inilah yang membuat para ilmuwan semakin khawatir.

Bila mikroplastik benar-benar berperan dalam mempercepat resistensi antibiotik, dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga sistem kesehatan global.

Organisasi kesehatan dunia sejak lama telah menempatkan resistensi antimikroba sebagai salah satu ancaman terbesar bagi manusia. Ketika antibiotik kehilangan efektivitasnya, infeksi ringan sekalipun berpotensi berubah menjadi penyakit yang sulit disembuhkan.

Mengapa Antibiotik Bisa Kehilangan Efektivitas?

Antibiotik bekerja dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri.

Namun, bakteri adalah organisme yang mampu beradaptasi sangat cepat. Ketika terus-menerus terpapar antibiotik maupun tekanan lingkungan tertentu, sebagian bakteri dapat mengalami perubahan sehingga obat tidak lagi efektif.

Penelitian terbaru menunjukkan mikroplastik mungkin menjadi salah satu faktor yang mempercepat proses tersebut.

Lingkungan pada permukaan plastik memberi kesempatan bakteri untuk saling bertukar materi genetik, termasuk gen yang membuat mereka kebal terhadap antibiotik. Semakin banyak bakteri berkumpul dalam biofilm, semakin besar pula peluang resistensi berkembang.

Dampaknya Bukan Hanya bagi Rumah Sakit

Selama ini resistensi antibiotik sering dikaitkan dengan penggunaan obat yang berlebihan di rumah sakit atau peternakan.

Kini, perhatian ilmuwan mulai bergeser ke lingkungan.

Tumpukan sampah plastik, saluran air, sungai, hingga tempat pembuangan akhir berpotensi menjadi lokasi berkembangnya bakteri yang lebih tangguh.

Risiko ini dinilai lebih tinggi di kawasan padat penduduk dengan sistem sanitasi yang buruk dan pengelolaan sampah yang belum optimal.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan antara mikroplastik dan resistensi antibiotik masih terus dipelajari. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui seberapa besar dampaknya terhadap kesehatan manusia secara langsung.

Mengurangi Plastik, Melindungi Masa Depan

Temuan ini kembali mengingatkan bahwa persoalan plastik bukan semata isu lingkungan.

Apa yang dibuang hari ini dapat kembali kepada manusia dalam bentuk ancaman kesehatan yang jauh lebih kompleks.

Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan sistem daur ulang, memperbaiki pengelolaan limbah, serta menggunakan antibiotik secara bijak menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko tersebut.

Mikroplastik mungkin berukuran sangat kecil. Namun, dampak yang ditimbulkannya bisa menjadi persoalan besar jika tidak segera ditangani.

Ketika partikel plastik yang nyaris tak terlihat mulai berhubungan dengan efektivitas antibiotik, ancamannya tidak lagi hanya menyangkut laut yang tercemar. Ia menyangkut kemampuan manusia bertahan dari infeksi di masa depan.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia