Advertisement
Kesehatan

Sulit Mengungkapkan Perasaan? Pola Asuh Masa Kecil Bisa Jadi Penyebabnya

Kesulitan menyampaikan kebutuhan kepada pasangan atau orang lain bisa berakar dari pola asuh masa kecil. Psikoterapis menjelaskan dampak dan cara mengatasinya.

TIMES Indonesia,
Sulit Mengungkapkan Perasaan? Pola Asuh Masa Kecil Bisa Jadi Penyebabnya
Ilustrasi Orang dengan penyakit kesehatan mental.(Foto: Freepik)
A-AA+

JAKARTA Mengapa sebagian orang begitu sulit mengatakan "aku butuh bantuan", "aku tidak nyaman", atau sekadar mengungkapkan keinginannya kepada pasangan, teman, maupun rekan kerja? Ternyata, jawabannya tidak selalu berkaitan dengan kepribadian, tetapi bisa berakar dari pengalaman masa kecil.

Psikoterapis berlisensi Sharon Martin mengungkapkan bahwa pola pengasuhan yang tidak sehat saat anak bertumbuh dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri hingga dewasa. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mengabaikan emosi, terlalu mengontrol, atau terus-menerus mengkritik akan belajar bahwa kebutuhan dan pendapatnya tidak penting.

Advertisement

Akibatnya, ketika dewasa mereka lebih terbiasa memenuhi kebutuhan orang lain dibandingkan mendengarkan kebutuhan dirinya sendiri.

Trauma Emosional Membentuk Pola Komunikasi

Dalam ulasannya yang dimuat Psychology Today, Martin menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil tersebut menciptakan pola komunikasi yang bertahan hingga usia dewasa.

Seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan seperti itu cenderung menghindari konflik, takut mengecewakan orang lain, bahkan merasa bersalah ketika ingin meminta bantuan.

Tak sedikit pula yang meyakini bahwa meminta pertolongan adalah bentuk kelemahan atau justru menjadi beban bagi orang lain.

Kondisi tersebut membuat mereka memilih diam, memendam perasaan, atau terus mengalah demi menjaga hubungan tetap berjalan.

Advertisement

Padahal, menurut Martin, kebiasaan itu justru dapat menggerus kesehatan mental dalam jangka panjang.

Dampaknya Tidak Hanya pada Hubungan, tetapi Juga Kesehatan Mental

Kesulitan mengungkapkan kebutuhan bukan sekadar persoalan komunikasi. Dalam banyak kasus, kondisi ini memengaruhi kualitas hubungan sosial maupun kesejahteraan psikologis seseorang.

Orang yang terus-menerus mengesampingkan kebutuhan pribadinya lebih rentan mengalami kelelahan emosional (emotional exhaustion), stres berkepanjangan, hingga hubungan yang tidak seimbang.

Mereka sering kali menjadi pendengar yang baik, selalu membantu orang lain, tetapi kesulitan menerima bantuan ketika dirinya sendiri membutuhkan dukungan.

Bahkan, sebagian orang kehilangan kemampuan mengenali apa yang sebenarnya mereka inginkan karena terlalu lama mengabaikan perasaan sendiri.

Mengenali Kebutuhan Diri Menjadi Langkah Awal

Martin menilai perubahan dapat dimulai dari hal sederhana, yakni belajar mengenali kebutuhan diri sendiri.

Salah satu cara yang disarankan adalah melakukan refleksi dengan mengajukan pertanyaan sederhana kepada diri sendiri, seperti: Apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini? atau Hal apa yang bisa membuat kondisi saya menjadi lebih baik?

Kesadaran terhadap kebutuhan pribadi menjadi fondasi penting sebelum seseorang mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.

Latih Komunikasi Secara Bertahap

Mengungkapkan kebutuhan tidak harus dimulai dari persoalan besar.

Martin menyarankan untuk berlatih melalui situasi sehari-hari, misalnya menyampaikan pilihan tempat makan, meminta bantuan menyelesaikan pekerjaan, atau mengajukan tambahan waktu ketika beban kerja terlalu berat.

Langkah-langkah kecil tersebut membantu membangun rasa percaya diri sekaligus mengurangi kecemasan saat harus berbicara mengenai kebutuhan yang lebih personal.

Menurutnya, menyampaikan kebutuhan bukan berarti orang lain wajib memenuhinya. Namun, kemampuan mengungkapkan perasaan secara jujur dan sopan merupakan salah satu fondasi hubungan yang sehat.

Tidak Ada Salahnya Meminta Bantuan

Bagi sebagian orang, perubahan pola komunikasi membutuhkan waktu yang lebih panjang, terutama jika pengalaman masa kecil meninggalkan luka emosional yang mendalam.

Dalam kondisi seperti itu, Martin menganjurkan untuk mencari dukungan melalui psikoterapis, kelompok pendamping, maupun orang-orang tepercaya yang mampu memberikan ruang aman untuk berlatih berkomunikasi.

Kemampuan menyampaikan kebutuhan bukanlah bakat yang dimiliki sejak lahir, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih.

Semakin seseorang memahami dirinya sendiri, semakin besar pula peluang membangun hubungan yang sehat, saling menghargai, dan bebas dari beban emosional yang selama ini dipendam.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia