Mikroplastik dalam Darah Diduga Berkaitan dengan Penyakit Jantung
Studi yang dimuat di European Heart Journal menemukan mikroplastik dan nanoplastik dalam darah 84 persen pasien serangan jantung, meski belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
JAKARTA – Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam European Heart Journal pada Juli 2026 menemukan bahwa partikel mikroplastik dan nanoplastik lebih banyak terdeteksi dalam darah pasien yang mengalami serangan jantung dibandingkan kelompok pasien dengan kondisi jantung lainnya.
Penelitian yang dilakukan kolaborasi sejumlah universitas di Eropa itu menemukan mikroplastik dan nanoplastik terdeteksi pada 84 persen pasien serangan jantung, jauh lebih tinggi dibandingkan pasien penyakit jantung iskemik kronis (40 persen) maupun peserta penelitian dengan arteri koroner normal (32 persen).
Studi tersebut dipimpin oleh Profesor Emanuele Barbato dari Sapienza University of Rome.
Belum Membuktikan Penyebab Serangan Jantung
Para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian belum membuktikan mikroplastik menjadi penyebab langsung serangan jantung.
Namun, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara paparan partikel plastik di lingkungan dengan penyakit kardiovaskular.
Selain itu, pasien yang mengalami serangan jantung diketahui memiliki variasi jenis mikroplastik yang lebih beragam dibandingkan kelompok lainnya.
Jenis plastik yang paling banyak ditemukan adalah polietilena (polyethylene), bahan sintetis yang umum digunakan dalam kemasan makanan, kantong plastik, dan berbagai produk konsumen sehari-hari.
Rokok dan Polusi Udara Berperan
Penelitian juga menemukan bahwa perokok dan individu yang lebih sering terpapar polusi udara cenderung memiliki konsentrasi mikroplastik dan nanoplastik yang lebih tinggi di dalam darah.
Temuan ini menunjukkan bahwa paparan partikel plastik tidak hanya berasal dari makanan atau kemasan plastik, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sehari-hari.
Perlu Penelitian Lanjutan
Para peneliti menilai masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana mikroplastik masuk ke dalam tubuh, berpindah melalui aliran darah, serta kemungkinan pengaruhnya terhadap kesehatan jantung.
Meski belum menunjukkan hubungan sebab-akibat, studi ini menambah bukti ilmiah bahwa partikel mikroplastik dapat beredar di dalam tubuh manusia dan berpotensi berkaitan dengan proses peradangan, kerusakan pembuluh darah, atau gangguan lain pada sistem kardiovaskular.
Penyakit jantung hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia, sehingga pemahaman mengenai berbagai faktor risiko, termasuk paparan mikroplastik, dinilai penting untuk terus dikaji. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


