Advertisement
Kesehatan

Jika Batuk Dua Minggu, Dinkes Kota Batu Minta Warga Segera Periksa TBC

Dinas Kesehatan Kota Batu mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu.

TIMES Indonesia,
Jika Batuk Dua Minggu, Dinkes Kota Batu Minta Warga Segera Periksa TBC
Pemeriksaan rutin Dinkes Kota Batu kepada masyarakat. (Foto: Dinkes Kota Batu for TIMES Indonesia)
A-AA+

BATU Dinas Kesehatan Kota Batu mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu. Warga diminta segera memanfaatkan layanan pemeriksaan tuberkulosis (TBC) di seluruh puskesmas karena proses skrining dan pemeriksaannya tersedia tanpa dipungut biaya sebagai bagian dari percepatan eliminasi TBC.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, mengatakan deteksi dini menjadi langkah paling penting untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut. Namun hingga kini, jumlah masyarakat yang melakukan skrining masih belum sesuai harapan.

Advertisement

"Kalau mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh, segera datang ke puskesmas. Alat pemeriksaannya sudah tersedia dan semuanya gratis. Nantinya dokter akan memastikan apakah batuk tersebut hanya alergi atau memang TBC sehingga bisa segera ditangani," katanya, Kamis (23/7/2026).

Ia menjelaskan, TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui percikan dahak saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, terutama ketika berada di ruangan tertutup dengan kontak yang berlangsung lama.

"Selain fokus mengobati pasien yang telah dinyatakan positif TBC, kami juga memperkuat pelaksanaan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi anggota keluarga maupun orang yang tinggal serumah dengan pasien," urainya.

Langkah ini dilakukan untuk mencegah munculnya kasus baru dari kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular. Dalam pelaksanaannya, pasien TBC diwajibkan menjalani pengobatan selama enam bulan. Sementara itu, kontak erat yang belum menunjukkan gejala dapat memperoleh terapi pencegahan selama tiga bulan setelah melalui pemeriksaan tenaga kesehatan.

"Yang menjadi perhatian kami adalah banyak anggota keluarga pasien yang enggan diperiksa karena merasa sehat. Padahal mereka adalah kontak erat yang berpotensi tertular. Karena itu, TPT sangat penting agar penularan tidak terus berulang di dalam satu keluarga," ujarnya.

Advertisement

Menurut dr. Icang, tingkat partisipasi masyarakat Kota Batu dalam mengikuti program TPT baru berkisar 30 persen. Rendahnya kesadaran tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan target eliminasi TBC.

"Karena itu, Dinkes menggandeng seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai puskesmas, klinik hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Batu," tambah dia.

Tujuannya, untuk memperkuat pelacakan kontak erat sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan dan terapi pencegahan.

"Kami berharap masyarakat tidak takut diperiksa. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati dan semakin kecil risiko penularannya kepada keluarga maupun lingkungan sekitar," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia