Penantian Selama 22 Tahun Berakhir, Ibu Lahirkan Bayi Kembar Lewat Proses IVF
Aminatuzzahra (41) dan Riza Yusuf (43) hamil kembar setelah 22 tahun menanti, dengan AMH 0,1 (hampir pre-menopause). Program IVF di Morula IVF berhasil dengan dua embrio.
SURABAYA – Wajah Aminatuzzahra (41) dan Riza Yusuf Santoso (43) tak mampu menahan rasa haru sekaligus bahagia.
Pasangan suami-istri ini baru saja memiliki bayi kembar setelah penantian menunggu datangnya buah hati selama 22 tahun.
Berbagai upaya telah mereka coba, mulai medis sampai pengobatan alternatif hingga akhirnya memutuskan program bayi tabung IVF (In Vitro Fertilization) di Morula IVF pada November 2025 berdasarkan info dari tetangga yang juga melakukan proses serupa.
"Selama beberapa tahun kami usaha ke sana ke sini, ya, cuma belum ketemu jawabannya. Kami hampir pasrah. Sampai akhirnya kami memutuskan program bayi tabung dan ini adalah perjuangan terakhir," kata Yusuf, Sabtu (25/7/2026).
Yusuf dan istri menyerahkan perjuangan terakhir tersebut pada Tuhan. Apabila usaha itu masih nihil, mereka sudah legawa menerima kenyataan.
Setelah pasangan ini menjalani rangkaian prosesi medis dan penanaman embrio yang total memakan waktu sekitar 8 bulan, bayi kembar laki-laki dan perempuan bernama Rayan dan Raina lahir pada 2 Juli 2026.
"Alhamdulillah, bahagia dan terharu," ujarnya.
Dokter Obgyn Morula IVF Indonesia, dr Benediktus Arifin, MPH., Sp.OG(K), FICS, FIICOG, FESICOG yang menangani pasangan ini mengakui bahwa proses mewujudkan impian mereka berdua bukan hal mudah, karena jumlah Anti-Mullerian Hormon (AMH) atau hormon penanda utama cadangan sel telur dalam ovarium wanita sangat kecil hanya di angka 0,1. Sedangkan normalnya di angka 2-3.
"Karena kemarin waktu kita periksa, AMH itu 0,1. Artinya 15-20 kali di bawah normal. Itu menunjukkan cadangan telurnya udah nggak banyak, bahkan kita sebut menuju pre-menopause," kata Dokter Benediktus.
Namun, Dokter Benediktus melihat semangat tinggi pada pasangan asal Sumenep ini.
Meskipun pada awalnya, impian itu seolah tidak mungkin terwujud sebab jumlah AMH yang super minim.
"Harapan AMH 0,1 itu kan nggak besar ya, tapi itu menunjukkan bahwa perjuangan itu akan membuahkan hasil juga," kata Dokter Benediktus Arifin.
Tetapi, Dokter Benediktus Arifin terpantik akan semangat pasangan suami istri yang rela jauh-jauh datang ke Surabaya. Meskipun harapan itu sebenarnya hampir nol. Hingga Yang Maha Kuasa berkata lain memberikan jawaban bagi doa-doa.
"Mereka udah jauh bolak-balik, akhirnya kita dapat dua embrio. Sempat kita mau mundur kita coba cari lagi atau enggak, akhirnya ya dengan doa kita juga lakukan semuanya sesuai protokol yang ada di Morula. Alhamdulillah, puji Tuhan hamil," ucapnya.
Dalam kasus ini, persiapan IVF memakan waktu total delapan bulan sampai kehamilan. Termasuk di antaranya laparaskopi untuk membetulkan indung sel telur.
Tim medis kemudian menanamkan dua embrio ke rahim ibu dan ternyata keduanya berhasil tumbuh menjadi janin.
Pasien mendapatkan sentuhan teknik medis IMSI (Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection) Timelapse, dan laparaskopi sesuai standar internasional.
Dokter Benediktus merasakan syukur kepada Tuhan melihat pasangan ini memperoleh buah hati tanpa perlu mengulang.
"Syukur dan senang, semoga memberikan inspirasi. Selama telur dan sperma itu masih ada, harapan itu belum hilang. Ini juga menjadi peringatan dari Yang Maha Kuasa buat saya untuk tidak mudah menyerah juga," kata Dokter Benediktus Arifin.
Di sisi lain, kata Dokter Benediktus, perawatan bayi kembar hasil bayi tabung sama seperti bayi pada umumnya. Namun, tidak semua embrio ganda akan menghasilkan bayi kembar.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


