Ketahanan Informasi

Banyak Permasalahan IPO Anak Perusahaan Pertamina, Ini Pendapat DPR RI

Sabtu, 31 Juli 2021 - 22:05 | 67.27k
Banyak Permasalahan IPO Anak Perusahaan Pertamina, Ini Pendapat DPR RI
Herman Khaeron selaku Anggota VI DPR RI melakukan kajian ulang pada diskusi panel (Foto: Tangkapan Layar Zoom)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beragam aksi protes dari IPO pada anak perusahaan Pertamina yang dilakukan oleh Forum Serikat Pegawai Pertamina Bersatu (FSPPB) mendukung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dalam melakukan kaji ulang. Hal tersebut yang dikemukakan oleh Herman Khaeron selaku Anggota VI DPR RI pada Webinar dan Diskusi Panel: “Kaji Ulang Holding-Subholding Dan IPO Anak Usaha Inti Pertamina” pada Sabtu (31/07/2021).

Ia menyampaikan bahwa restrukturisasi pertamina sebelumnya pernah dibahas oleh DPR. Namun hingga kini, dalam rencana pelaksanaan IPO pada anak Perusahaan Pertamina masih menuai masaalah dan perlu dikaji lebih mendalam sehingga kedepanya tidak mengganggu kegiatan utama Pertamina dalam menyediakan kebutuhan Migas kepada masyarakat Indonesia.

“Dari sisi lain, bahwa penting adanya kolaborasi antara pegawai dengan pengambilan kebijakan. ini perlu dijadikan satu namun dalam rasionalisasinya sangat sulit. Kecuali bila Direksi Pertamina mengeluarkan kebijakan yang bebas dan tidak terhalang dari berbagai pihak  manapun,” sampainya kepada Audiens.

Herman Khaeron B

Ia menambahkan bahwa Pertamina saat ini baru melaksanakan perintah dari Pemerintah Pusat hanya berupa melakukan eksplorasi hilir dan juga harus harus membangun inti baterai yang menjadi industri di masa depan.

“Pemerintah Pusat ada keinginan Pertamina dalam mengembangkan kegiatan bisnisnya menjadi lebih luas dengan harga yang sama di tiap wilayah indonesia. Namun terdapat banyak kendala. Semoga dengan berbagai kajian kebijakan yang lebih dalam nantinya, akan menghasilkan benang merah yang mampu mengoptimalkan kegiatan Pertamina sebagai perusahaan Minyak yang berbasis BUMN,” harapnya.

Senada dengan Anggota VII DPR-RI, Kardaya Warnika. Ia mengungkapkan bahwa Restrukturisasi dan IPO anak perusahaan Pertamina perlu melalui kajian yang lebih matang berdasarkan arah tujuanya terlebih dahulu.

Apakah kegiatan tersebut murni untuk Pertamina atau untuk kepentingan tertentu. Bila mengarah ke tujuan tertentu, maka Pertamina akan kesulitan dalam melaksanakan kegiatanya.

“Pengerjaan BUMN saat ini sudah tidak sama dengan yang diinginkan mengingat banyak kebijakan Pemerintah Pusat yang mengatur. Perlu diingat, ini BUMN milik negara dan bukan Pemerintah sehingga diperlukan kajian kebijakan yang lebih melenggangkan kegiatan Pertamina,”

“Pertamina dalam kegiatanya menyediakan hajat hidup banyak orang. kalau tidak sesuai makan akan repot. Kalau ada yang terjadi dengan Pertamina, ini sangat bahaya dan mendatangkan beragam masalah. Pertamina jangan dibuat sembarangan. Pertamina ini milik rakyat dan sangat didukung oleh masyarakat,” ungkap Kardya.

Selain kebijakan IPO Anak Perusahaan Pertamina, muncul pula kebijakan Holding – Subholding pada Pertamina. Muhammad Said Didu selaku Mantan Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005-2010 menegaskan bahwa pelaksanaan kegiatan Pertamina hanya melingkupi Holding saja dan tidak melingkupi hingga Subholding. Serta, privatisasi pada Pertamina tidak seharusnya dilaksanakan menginggat sangat bertentangan dalam pemenuhan hajat hidup masyarakat Indonesia.

“BUMN itu milik negara dan bukan milik pemerintah. Sejatinya Pertamina ini sudah menjadi holding dan tidak perlu menjadi subholding. Ini sebenarnya sebuah pengalihan. Subholding ini tidak ada. Jadi, Bagi para pekerja, tentu harus berhati-hati bisa saja ini sebuah pengalihan dalam melaksanakan kebijakan yang kurang tepat kedepanya,”

“Tidak pantas Pertamina dijadikan Privatisasi mengingat Pertamina saat ini sudah sebagai penguasa SDA, penyedia banyak ajat hidup seseorang dalam aturanya tidak boleh dilaksanakan.” tegasnya pada audiens. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES