Forum Dosen

Moderasi Beragama dalam Sepak Bola

Sabtu, 27 April 2024 - 08:40 | 15.87k
Nadhiroh S.Sos.I, M.I.Kom, Dosen Prodi KPI STAIMAS Wonogiri.
Nadhiroh S.Sos.I, M.I.Kom, Dosen Prodi KPI STAIMAS Wonogiri.

TIMESINDONESIA, WONOGIRI – Jumat (26/4/2024) dini hari menjadi momentum yang sangat fenomenal bagi pecinta sepak bola Tanah Air. Kemenangan Timnas Indonesia U-23 melawan Korea Selatan pada laga perempat final Piala Asia U-23 2024. di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha itu disambut rasa syukur dan eforia masyarakat Indonesia yang nge-fans olahraga si kulit bundar itu.

Drama adu pinalti sempat membuat para penonton sepak bola senam jantung dalam nobar yang digelar di berbagai wilayah. Anugerah kemenangan tim besutan Shin Tae Yong membawa kebahagiaan bagi publik yang selama ini menantikan kemajuan dan kesuksesan tim sepak bola Tanah Air. Perjuangan belum berakhir sebab Tim Indonesia U-23 akan melaju ke babak semifinal. Tentu doa terbaik kita panjatkan untuk Rizky Ridho dkk agar mampu menjadi juara.

Menonton jalannya pertandingan sepakbola memang membawa keasyikan sendiri bagi pecintanya. Detik demi detik, menit demi menit begitu berharga. Permainan cantik dan ciamik dalam mengolah si kulit bundar kerap membuat orang berdecak kagum. Sepak bola menjadi olahraga yang digemari banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Kekalahan tim yang dibela bisa membawa duka dan kemenangan yang diraih akan membuat suka cita.

Pertandingan sepak bola mengajarkan banyak hal. Masing-masing pemain tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi pemain tertentu. Semua tidak bisa menjadi striker, kiper, gelandang dan sebagainya sesuai kehendak sendiri. Setiap pemain punya kemampuan sendiri dan pelatih biasanya memiliki kepekaan untuk menempatkan pemainnya. Seorang pemain meskipun ingin di posisi striker, namun ketika pelatih melihat potensi bahwa pemain itu berada di posisi lain, maka akan ada penyesuaian-penyesuaian. Seorang pemain tidak bisa memaksakan kehendak atau egois. Pelatih pun tentunya lebih baik bijak dalam menentukan posisi anak-anak besutannya.

Moderasi Beragama

Tim sepak bola terdiri atas 11 pemain. Jumlah itu di luar pemain cadangan. Pemain sepak bola terkadang tidak hanya berasal dari negara asli kesebelasan tersebut. Tidak menutup kemungkinan sebuah tim mengontrak pemain atau pelatih asing. Tanpa disadari, para pemain ataupun pelatih sepak bola sebagian besar sudah mengimplementasikan moderasi beragama di dalam kegiatan sehari-hari mereka dalam sebuah tim. 

Di dalam Buku Tanya Jawab Moderasi Beragama, Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan, moderasi beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikannya.

Ada sembilan kata kunci moderasi beragama yaitu kemanusiaan, kemaslahatan umum, adil, berimbang, taat konstitusi, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penghormatan kepada tradisi.

Sepak bola tidak hanya sebatas olahraga. Jika ditelisik lebih jauh, terdapat nilai-nilai moral yang tersirat di dalam olahraga itu. Para pemain atau pelatih tidak mempermasalahkan perbedaan agama, suku, ras dan golongan saat bersatu dalam sebuah kesebelasan. Mereka tetap dalam kebersamaan dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan-perbedaan. Fokus yang tertanam di dalam diri para pemain adalah mempersembahkan yang terbaik dengan berlatih keras, disiplin, kerjasama, dan menjunjung tinggi sportivitas. Sepakbola hanya menjadi salah satu contoh olahraga yang melibatkan banyak pemain yang berupaya mengedepankan kerjasama tim yang solid.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, manusia sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari perbedaan-perbedaan agama, suku, ras dan golongan. Menghormati perbedaan bukan berarti mengikuti. Perbedaan itu sebuah keniscayaan dan tidak bisa dihindarkan. Alangkah indahnya jika tercipta kerukunan dan kedamaian di tengah-tengah keragaman. Hidup berdampingan, membangun bersama, saling bergotong royong dalam kebaikan. 

Setiap individu perlu membentengi diri dari upaya-upaya oknum tertentu yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan. Terkadang hal-hal kecil bisa memicu sebuah pertikaian atau perpecahan. Perlu proses pembelajaran terus menerus untuk bisa menerima perbedaan-perbedaan dan fokus kepada kemajuan. Mari kita bersama-sama berupaya menjadi insan-insan yang tidak berbuat kerusakan tapi menjadi manusia yang bisa ikut mewujudkan kedamaian, persatuan dan kesatuan. 

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Qashash ayat 77 yang artinya : "Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."  

***

*) Oleh : Nadhiroh S.Sos.I, M.I.Kom, Dosen Prodi KPI STAIMAS Wonogiri 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim. 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES