Menulis Dapat Menggunakan AI, Berpikir Menggunakan Nurani
Pembaca mungkin terkesan pada kecepatan, tetapi mereka akan kembali karena kualitas, kedalaman gagasan, dan kejujuran intelektual yang mereka temukan di dalam setiap tulisan.
Malang – Beberapa waktu lalu, seseorang bertanya kepada saya, “Pak, apakah sekarang boleh menulis menggunakan Artificial Intelligence (AI)? Bahkan ada yang menawarkan jasa, sehari langsung jadi buku.” Saya tersenyum sebelum menjawab.
Bagi saya, pertanyaan itu sesungguhnya bukan tentang boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Akan tetapi, tentang bagaimana seorang penulis memaknai proses berpikir. Sebab, menulis pada hakikatnya bukan sekadar menyusun kata-kata menjadi kalimat. Menulis adalah mengubah pengalaman, pengetahuan, dan perenungan menjadi gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Saya tidak pernah memandang AI sebagai musuh dunia kepenulisan. Sebaliknya, AI merupakan salah satu lompatan teknologi yang patut disyukuri karena mampu membantu penulis mencari referensi. Bahkan, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, dan mempercepat proses penyuntingan.
Teknologi telah membuka banyak kemungkinan yang dahulu sulit dibayangkan. Namun, sebagaimana pena tidak pernah menggantikan pikiran penulis, demikian pula AI tidak pernah menggantikan tanggung jawab intelektual orang yang menggunakannya.
Di sinilah letak perbedaan yang sering kali terlupakan. AI dapat menghasilkan teks, tetapi belum tentu menghasilkan makna. AI mampu menyusun argumen berdasarkan data yang tersedia, tetapi tidak memiliki pengalaman hidup, kegelisahan akademik, maupun tanggung jawab moral atas setiap kalimat yang ditulisnya.
Semua itu tetap menjadi wilayah manusia. Oleh karena itu, menggunakan AI tidaklah keliru, tetapi menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI justru "menghilangkan esensi" dari kegiatan menulis itu sendiri.
Menulis bukan sekadar menghasilkan kata. Kata-kata hanyalah medium untuk menyampaikan gagasan. Nilai sebuah tulisan tidak ditentukan oleh banyaknya halaman atau indahnya diksi, melainkan oleh kedalaman cara berpikir yang melahirkannya.
Tulisan yang baik selalu mengandung perspektif, argumentasi, dan keberanian intelektual untuk menawarkan sesuatu yang baru kepada pembaca. Tanpa itu, sebuah tulisan hanya menjadi rangkaian kalimat yang cepat selesai dibaca sekaligus cepat pula dilupakan.
Psikolog Graham Wallas dalam teorinya mengenai proses kreatif menjelaskan bahwa lahirnya sebuah karya tidak terjadi secara instan. Setelah tahap persiapan, terdapat fase incubation" atau pengendapan gagasan, yaitu masa ketika pikiran bekerja secara mendalam untuk menghubungkan berbagai informasi sebelum akhirnya melahirkan pemahaman baru.
Tahap ituah yang sering kali tidak terlihat, tetapi justru menentukan kualitas sebuah karya. Sebuah tulisan yang matang hampir selalu merupakan hasil dari proses berpikir yang matang pula.
Pandangan yang senada juga dikemukakan oleh Donald M. Murray, yang terkenal dengan ungkapannya bahwa "writing is rewriting". Menurutnya, menulis bukanlah aktivitas sekali jadi, melainkan proses terus-menerus membaca kembali, mengoreksi, memperbaiki, dan menyempurnakan gagasan. Dengan kata lain, kualitas sebuah tulisan lebih banyak ditentukan oleh kesediaan penulis untuk merevisi pikirannya daripada sekadar kecepatannya menghasilkan naskah pertama.
Oleh karena itu, saya sering mengatakan bahwa pertanyaan yang lebih penting bukanlah “seberapa cepat tulisan itu selesai?”, melainkan “seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi pembaca?”.
Di tengah budaya serba instan, kecepatan memang sering dipuja. Akan tetapi, sejarah menunjukkan bahwa karya-karya besar hampir selalu lahir dari proses panjang yang penuh perenungan. Gagasan memerlukan waktu untuk bertumbuh sebagaimana benih memerlukan waktu sebelum menjadi pohon yang kokoh.
Hal tersebut bukan berarti seorang penulis harus menolak teknologi. Justru sebaliknya, penulis yang bijak adalah mereka yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan independensi berpikirnya.
AI dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis, tetapi arah pemikiran, kedalaman analisis, dan tanggung jawab terhadap kebenaran tetap harus berada di tangan manusia. Teknologi adalah asisten yang sangat cerdas, bukan pengganti nurani.
Dalam dunia akademik, hukum, jurnalistik, maupun sastra, integritas intelektual selalu menjadi fondasi utama. Sebuah tulisan tidak hanya dinilai dari kelancaran bahasanya, tetapi juga dari kejujuran proses yang melahirkannya.
Ketika seorang penulis mengutip, ia wajib menyebut sumbernya. Ketika menyampaikan pendapat, ia harus siap mempertanggungjawabkannya. Pun ketika memanfaatkan AI, ia tetap berkewajiban memastikan bahwa setiap data, analisis, dan kesimpulan telah diverifikasi secara kritis.
Di sinilah letak pentingnya menjaga kejernihan berpikir. AI dapat menyajikan ribuan informasi dalam hitungan detik, tetapi ia tidak dapat menentukan mana yang paling bijaksana, paling etis, atau paling relevan dengan konteks yang sedang dihadapi.
Kemampuan tersebut lahir dari pengalaman, empati, nilai-nilai moral, dan kepekaan manusia terhadap kehidupan. Dengan kata lain, teknologi dapat membantu otak bekerja lebih cepat, tetapi nurani tetap menentukan ke mana pikiran itu diarahkan.
Oleh sebab itu, ketika ada yang menawarkan jasa “sehari jadi”, saya tidak serta-merta menolaknya. Namun, saya juga tidak menjadikannya ukuran keberhasilan. Cepat bukanlah lawan dari baik, tetapi cepat juga bukan jaminan bahwa sebuah tulisan telah melalui proses berpikir yang memadai.
Sebuah naskah boleh selesai dalam satu hari apabila penulis telah bertahun-tahun mengendapkan gagasannya. Sebaliknya, sebuah tulisan yang dikerjakan berbulan-bulan pun belum tentu bermakna apabila hanya berisi pengulangan tanpa pemikiran yang orisinal.
Teknologi akan terus berubah. Hari ini kita mengenal AI, esok mungkin akan hadir teknologi yang jauh lebih canggih. Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah integritas seorang penulis.
Pembaca mungkin terkesan pada kecepatan, tetapi mereka akan kembali karena kualitas, kedalaman gagasan, dan kejujuran intelektual yang mereka temukan di dalam setiap tulisan. AI dapat membantu kita menulis, tetapi hanya nurani yang mampu memastikan bahwa setiap kata benar-benar memiliki makna.
***
*) Oleh : Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

