Menjaga Kebebasan Berarti Menjaga Kemanusiaan
Kebebasan yang tidak dibarengi tanggung jawab justru dapat merusak ruang publik yang menjadi syarat utama kehidupan demokratis.
Jerman – Kebebasan merupakan salah satu dorongan paling mendasar dalam sejarah umat manusia. Sejak peradaban kuno hingga era modern, manusia terus menunjukkan kecenderungan untuk menolak penindasan dan memperjuangkan otonomi.
Dari pembebasan budak pada masa lampau hingga gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa, sejarah memperlihatkan bahwa kebebasan selalu menjadi cita-cita yang melampaui batas budaya dan zaman. Namun, kebebasan bukanlah capaian yang sekali diraih lalu selesai. Ia merupakan proyek kemanusiaan yang harus terus dijaga.
Pergulatan tersebut tergambar kuat dalam Die Abenteuer des Huckleberry Finn (2025) karya Mark Twain. Melalui novel itu, Twain menunjukkan bahwa kebebasan bukan sekadar pilihan hidup, melainkan kebutuhan mendasar yang melekat pada martabat setiap manusia.
Pada awal cerita, Huckleberry Finn diasuh oleh Widow Douglas dan Miss Watson yang berusaha "memperadabkan" dirinya. Huck diberi pakaian yang layak, diajarkan membaca, diwajibkan beribadah, dan dibentuk agar menaati norma-norma masyarakat. Bagi kebanyakan orang, kehidupan itu tampak jauh lebih baik dibandingkan masa lalunya sebagai anak yang hidup tanpa arah. Akan tetapi, Huck justru merasakan sebaliknya.
Di balik segala kenyamanan tersebut, ia kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Melalui pengalaman Huck, Twain mengingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan keteraturan dan perlindungan, tetapi juga kebebasan untuk berpikir, memilih, dan menentukan jalan hidupnya.
Makna kebebasan semakin diperdalam melalui tokoh Jim, seorang budak yang melarikan diri demi menghindari penjualan ke wilayah Selatan dan berharap dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Perjalanan Jim merupakan kritik tajam terhadap sistem perbudakan yang merampas hak paling mendasar seorang manusia. Twain menegaskan bahwa kebebasan tidak boleh ditentukan oleh warna kulit, asal-usul, ataupun status sosial, sebab setiap manusia memiliki martabat yang sama.
Novel ini juga memperlihatkan bahwa memperjuangkan kebebasan sering kali menuntut keberanian untuk menentang norma yang dianggap benar oleh masyarakat. Pada mulanya, Huck meyakini bahwa membantu budak yang melarikan diri merupakan tindakan berdosa.
Setelah mengenal Jim sebagai sosok yang penuh kasih, setia, dan bermartabat, pengalaman hidup mengubah cara pandangnya. Ia akhirnya memilih mengikuti suara hati, meskipun harus bertentangan dengan keyakinan yang selama ini ditanamkan kepadanya. Kalimat terkenal Huck, "All right, then, I'll go to hell," menjadi simbol keberanian moral: lebih memilih keadilan daripada tunduk pada aturan sosial yang tidak manusiawi.
Kebebasan sebagai Jalan Menuju Kemajuan Individu dan Bangsa
Gagasan Mark Twain tersebut menjadi cermin untuk menilai komitmen Indonesia dalam melindungi kebebasan. Negara yang bermartabat semestinya memandang kebebasan bukan sekadar pilihan sosial, melainkan hak fundamental yang wajib dijamin oleh hukum.
Tantangan terbesar terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan akan keteraturan sosial dan penghormatan terhadap otonomi individu. Perlindungan terhadap ketertiban tidak boleh berubah menjadi pembatasan kebebasan yang berlebihan.
Komitmen itu sesungguhnya telah memperoleh landasan yang kuat. Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005. Ratifikasi tersebut menegaskan kewajiban negara untuk menjamin kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan berkumpul secara damai, dan kebebasan berasosiasi tanpa diskriminasi. Dengan demikian, penghormatan terhadap kebebasan bukan hanya amanat konstitusi, tetapi juga bagian dari komitmen Indonesia dalam rezim hukum internasional hak asasi manusia.
Dalam kerangka hukum internasional, negara tidak cukup hanya mengakui hak-hak tersebut. Negara juga berkewajiban menghormati (to respect), melindungi (to protect), dan memenuhi (to fulfill) hak asasi manusia. Pelaksanaan ketiga kewajiban tersebut akan memperkuat kepercayaan publik, mencegah penyalahgunaan kekuasaan, sekaligus membangun tata kelola pemerintahan yang lebih adil dan inklusif. Di sisi lain, masyarakat sipil, media, akademisi, dan lembaga penegak hukum juga memegang peran penting dalam mengawasi kebijakan publik agar tetap berpihak pada nilai-nilai demokrasi dan keadilan.
Lebih jauh, kebebasan juga berkaitan erat dengan kemajuan suatu bangsa. Berbagai edisi Global Innovation Index yang diterbitkan WIPO menunjukkan bahwa negara-negara dengan lingkungan kebijakan dan institusi yang lebih inklusif dan mendukung, termasuk perlindungan hak, kualitas regulasi, dan ekosistem kreatif—cenderung mencatat kinerja inovasi yang lebih tinggi.
Lingkungan yang memungkinkan masyarakat berpikir kritis, melakukan penelitian, bertukar gagasan, dan membangun kolaborasi akan melahirkan kreativitas yang menjadi fondasi pembangunan. Sebaliknya, pembatasan kebebasan yang berlebihan justru menghambat lahirnya inovasi dan produktivitas.
Karena itu, kesejahteraan tidak dapat dipahami hanya sebagai terpenuhinya kebutuhan material. Kesejahteraan sejati bersifat multidimensional, mencakup dimensi ekonomi sekaligus dimensi nonmaterial seperti kebebasan, keamanan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Pembangunan yang berpusat pada manusia tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperluas ruang bagi setiap warga negara untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi secara bermakna bagi masyarakat.
Kebebasan yang Bertanggung Jawab sebagai Fondasi Masyarakat Beradab
Meski demikian, perlindungan terhadap kebebasan tidak berarti memberikan ruang bagi kebebasan tanpa batas. Dalam masyarakat yang beradab, kebebasan selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab. Hak setiap individu dibatasi oleh hak orang lain, norma sosial, dan hukum yang berlaku. Tanpa batas tersebut, kebebasan justru berpotensi berubah menjadi anarki. Oleh sebab itu, etika menjadi fondasi yang memungkinkan kebebasan dijalankan secara bertanggung jawab.
Prinsip ini semakin relevan pada era digital. Kemajuan teknologi memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat kepada publik dalam hitungan detik. Namun, ruang yang sama juga membuka peluang penyebaran informasi palsu, ujaran kebencian, dan manipulasi opini.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi harus disertai literasi digital, kemampuan memverifikasi informasi, serta etika dalam berkomunikasi. Kebebasan yang tidak dibarengi tanggung jawab justru dapat merusak ruang publik yang menjadi syarat utama kehidupan demokratis.
Die Abenteuer des Huckleberry Finn mengingatkan bahwa kebebasan memiliki dua dimensi sekaligus: fisik dan batin. Jim berjuang membebaskan tubuhnya dari belenggu perbudakan, sedangkan Huck berjuang membebaskan nuraninya dari belenggu prasangka dan tekanan sosial.
Melalui perjalanan kedua tokoh tersebut, Mark Twain menegaskan bahwa masyarakat yang benar-benar beradab bukanlah masyarakat yang memiliki aturan paling banyak, melainkan masyarakat yang mampu menjamin setiap manusia hidup, berpikir, dan menentukan pilihannya secara bermartabat.
Kebebasan bukanlah kemewahan yang baru dapat dinikmati setelah kebutuhan lain terpenuhi. Sebaliknya, kebebasan merupakan prasyarat yang memungkinkan manusia memenuhi kebutuhannya, mengembangkan potensinya, dan membangun kehidupan yang bermakna. Oleh karena itu, menjaga kebebasan pada hakikatnya adalah menjaga kemanusiaan itu sendiri.
***
*) Oleh : Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Lölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

