Membaca Motivaction: Sebuah Buku yang Tidak Hanya Berhenti pada Motivasi
Motivaction menghadirkan sebuah refleksi bahwa perubahan adalah proses yang menuntut kesabaran, disiplin, dan keteguhan hati. Motivasi hanyalah percikan awal; yang menentukan arah kehidupan adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus.
Sidoarjo – Sebagai seorang dosen yang setiap hari bergelut dengan dunia akademik, sesekali saya merasakan kejenuhan yang tidak mudah dijelaskan. Rutinitas mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, menyusun administrasi akademik, hingga menghadiri berbagai forum ilmiah dan focus group discussion (FGD) sering kali membuat pekerjaan terasa seperti rangkaian agenda yang harus diselesaikan. Di sela-sela kesibukan itu, beberapa mahasiswa datang meminta bimbingan tugas akhir. Sebagian lainnya berkonsultasi tentang rencana studi, pekerjaan, bahkan persoalan hidup yang sedang mereka hadapi.
Pengalaman-pengalaman sederhana itu membawa saya pada satu kesimpulan: persoalan terbesar manusia sering kali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada sulitnya mengubah pengetahuan menjadi tindakan. Mahasiswa mengetahui bagaimana menyusun proposal penelitian, memahami metodologi ilmiah, bahkan mampu menjelaskan teori dengan baik. Namun, tidak sedikit yang berhenti pada tahap memahami. Mereka mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi kesulitan memulai. Mereka memiliki motivasi, tetapi motivasi itu belum cukup kuat untuk menjelma menjadi tindakan nyata.
Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya dialami mahasiswa. Ia hadir dalam kehidupan para pendidik, birokrat, pebisnis, aktivis organisasi, bahkan hampir setiap orang yang hidup di tengah derasnya tuntutan zaman. Kita hidup di era yang dipenuhi berbagai sumber inspirasi. Ceramah motivasi dapat diakses kapan saja, kutipan-kutipan inspiratif memenuhi media sosial, sementara kisah-kisah sukses hadir hampir setiap hari melalui berbagai platform digital. Ironisnya, melimpahnya motivasi tidak selalu melahirkan perubahan. Kita menjadi masyarakat yang kaya inspirasi, tetapi sering miskin aksi.
Refleksi itulah yang muncul ketika saya membaca Motivaction: Inspirasi Islami untuk Menggerakkan Hidup, Kerja, dan Bisnis Penuh Makna karya Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.S.M. Sejak pertama membaca judulnya, saya menangkap sebuah pesan yang menarik. Penulis tampaknya sengaja tidak berhenti pada kata motivation, tetapi memperkenalkan istilah Motivaction. Sebuah istilah sederhana, tetapi sarat makna. Motivasi, dalam pandangan penulis, baru memperoleh nilainya ketika diwujudkan dalam tindakan.
Bagi saya, istilah Motivaction tersimpan kritik terhadap kecenderungan masyarakat modern yang sering menganggap motivasi sebagai tujuan akhir. Banyak orang merasa telah mengalami perubahan hanya karena memperoleh inspirasi. Padahal, inspirasi hanyalah titik awal. Perubahan sesungguhnya dimulai ketika seseorang berani melangkahkan kaki, mengambil keputusan, dan konsisten menjalankan ikhtiar.
Yang paling menarik perhatian saya justru terdapat pada bagian awal buku ini. Penulis tidak langsung berbicara mengenai produktivitas, kesuksesan, atau strategi meraih impian. Ia mengajak pembaca kembali kepada fondasi yang paling mendasar, yakni meluruskan orientasi hidup dengan menjadikan rida Allah Swt. sebagai tujuan utama setiap ikhtiar.
Bagi saya, inilah pembeda paling mendasar antara buku ini dengan sebagian besar literatur motivasi yang beredar saat ini. Banyak buku pengembangan diri mengajarkan bagaimana mencapai keberhasilan, tetapi Motivaction terlebih dahulu mengajak pembaca bertanya, untuk siapa keberhasilan itu diperjuangkan?
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Sebab, dalam Islam, kualitas suatu amal tidak semata-mata ditentukan oleh hasilnya, melainkan oleh niat yang melatarbelakanginya. Ketika bekerja diniatkan sebagai ibadah, mengajar dipandang sebagai amanah, berbisnis dimaknai sebagai jalan menghadirkan kemaslahatan, dan setiap aktivitas dilakukan untuk mencari rida Allah, maka pekerjaan yang semula terasa sebagai beban berubah menjadi bentuk pengabdian.
Saya merasa bagian pertama buku ini seperti mengajak pembaca kembali ke "rel" yang benar. Barangkali bukan hanya saya, tetapi juga kita semua baik pendidik, peneliti, pebisnis, aparatur negara, maupun siapa pun profesinya sering kali terlalu sibuk mengejar capaian hingga lupa memperbarui orientasi. Buku ini mengingatkan bahwa sebelum bertanya "apa yang akan saya capai?", seorang muslim terlebih dahulu perlu bertanya, "untuk siapa saya melakukan semua ini?"
Dari orientasi inilah kemudian lahir semangat menjadi seorang muslim yang qawiyy pribadi yang kuat, tangguh, produktif, dan tidak mudah menyerah. Seorang muslim harus kuat ilmunya, mentalnya, etos kerjanya dan teguh dalam beramal. Karena itu, seorang muslim tidak memiliki ruang untuk bermalas-malasan. Ia dituntut terus bergerak, berkarya, dan memberikan manfaat sebagai wujud penghambaan kepada Allah Swt.
Melalui perspektif itu, Motivaction mengajak kita melihat kembali hubungan antara niat, ikhtiar, dan tindakan. Hidup yang bermakna tidak dibangun oleh mimpi-mimpi besar yang hanya disimpan dalam angan, melainkan oleh langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dalam kerangka tersebut, bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi, belajar bukan sekadar memperoleh ijazah, dan berbisnis bukan semata mengejar keuntungan. Seluruh aktivitas itu memperoleh makna ketika diposisikan sebagai bagian dari ibadah dan sebagai jalan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Bagi saya, kekuatan buku ini tidak terletak pada upayanya menawarkan teori baru mengenai motivasi. Nilai pentingnya adalah Motivaction mempertemukan konsep motivasi dengan etika Islam secara sederhana dan membumi. Penulis mengingatkan bahwa tantangan terbesar manusia bukanlah bagaimana memperoleh motivasi, melainkan bagaimana menjaga agar motivasi itu terus hidup dalam tindakan yang istiqamah.
Di tengah masyarakat yang sering terpesona oleh hasil instan, Motivaction menghadirkan sebuah refleksi bahwa perubahan adalah proses yang menuntut kesabaran, disiplin, dan keteguhan hati. Motivasi hanyalah percikan awal; yang menentukan arah kehidupan adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus dengan niat yang lurus.
***
*) Oleh : Dr. H. Rangga Sa'adillah, S.A.P., M.Pd.I., Dosen dan Kabag MKU UNUSIDA, Komisi Pendidikan MUI Sidoarjo dan Wakil Sekretaris KP3 MUI Jawa Timur.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

