Advertisement
Forum Guru

Teror Penculikan Anak di Malang dan Ujian Nalar Ilmiah Dunia Pendidikan

Yang sedang diuji hari ini bukan hanya keamanan lingkungan. Yang sedang diuji adalah kualitas nalar kita sebagai masyarakat terdidik.

TIMES Indonesia,
Teror Penculikan Anak di Malang dan Ujian Nalar Ilmiah Dunia Pendidikan
Muhhamad Khoirur Rizal, mahasiswa studi program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UNISMA dan Pendidik di SMP IT ASY-SYADZILI.
A-AA+

MALANG Dalam beberapa hari terakhir, ruang digital warga Malang Raya dipenuhi satu emosi yang sama: takut. Potongan video, rekaman warga, pesan berantai, dan narasi dugaan penculikan anak menyebar begitu cepat dari satu grup ke grup lain. Informasi bergerak lebih cepat daripada klarifikasi. Kekhawatiran berpindah dari layar telepon ke ruang keluarga, lalu masuk ke sekolah dan halaman tempat anak-anak bermain.

Fenomena seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Hampir setiap zaman memiliki bentuk kepanikannya sendiri. Dulu kabar bergerak dari mulut ke mulut, kini bergerak melalui algoritma. Bedanya, hari ini kepanikan tidak lagi berjalan dalam hitungan hari, tetapi menit. Satu video pendek dapat membentuk persepsi ribuan orang secara bersamaan.

Advertisement

Dalam situasi seperti itu, kewaspadaan tentu penting. Tidak ada yang salah ketika orang tua menjadi lebih hati-hati terhadap keselamatan anak. Tidak ada yang keliru ketika sekolah memperketat pengawasan lingkungan. Namun persoalan mulai muncul ketika kewaspadaan berubah menjadi ketakutan kolektif yang kehilangan kemampuan membedakan antara fakta, dugaan, dan asumsi.

Di titik inilah dunia pendidikan sedang diuji. Sebab pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang kemampuan menyelesaikan kurikulum, menghafal materi, atau mencapai nilai akademik. Pendidikan pada akhirnya adalah latihan membangun cara berpikir.

Ketika masyarakat dilanda kepanikan, pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya: apakah ancamannya nyata? Tetapi juga: bagaimana kaum terdidik merespons ancaman itu? Karena di tengah banjir informasi, tugas pendidik bukan sekadar menjadi penyampai pengetahuan. Ia harus menjadi penjaga nalar.

Masalah terbesar dari kepanikan massal bukan selalu karena ancamannya tidak ada. Ancaman bisa saja nyata dan perlu diantisipasi. Namun kepanikan yang tidak dikelola secara rasional sering kali melahirkan kerusakan sosial yang lebih luas dibanding ancaman awalnya. Masyarakat mulai saling curiga. Orang asing dianggap ancaman. Ruang publik berubah menjadi tempat yang dipenuhi prasangka. Dan yang paling berbahaya, keputusan diambil bukan berdasarkan bukti, tetapi berdasarkan rasa takut.

Dalam konteks dugaan penculikan yang beredar, narasi yang berkembang sangat beragam. Ada yang disebut menyamar sebagai pengamen, peminta-minta, orang dengan gangguan jiwa, hingga sales keliling. Ketika cerita seperti ini beredar tanpa verifikasi yang memadai, masyarakat sangat mudah jatuh pada generalisasi.

Advertisement

Di sinilah bahaya sebenarnya muncul. Ketika rasa takut mengalahkan akal sehat, orang tidak lagi menilai tindakan, tetapi identitas. Bukan lagi bertanya apakah seseorang melakukan kejahatan, tetapi langsung mencurigai siapa penampilannya.

Sejarah sosial berkali-kali menunjukkan bahwa masyarakat yang kehilangan kemampuan membedakan fakta dan prasangka sangat mudah melahirkan persekusi. Dan sering kali korban pertamanya justru kelompok yang paling lemah secara sosial.

Karena itu, sikap ilmiah menjadi semakin relevan dibicarakan. Selama ini kita sering mengira sikap ilmiah hanya hidup di laboratorium atau ruang kuliah. Padahal sikap ilmiah justru paling dibutuhkan ketika masyarakat sedang emosional. Sikap ilmiah bukan soal bahasa akademik yang rumit atau kemampuan mengutip teori. Sikap ilmiah adalah keberanian menunda kesimpulan sebelum bukti cukup.

Artinya sederhana: tidak semua yang viral adalah fakta. Tidak semua video adalah bukti utuh. Tidak semua kesaksian otomatis benar. Dan tidak semua ketakutan harus dipercaya begitu saja.

Pendidik seharusnya menjadi kelompok pertama yang memahami prinsip ini. Ketika informasi beredar di grup sekolah, tugas guru bukan mempercepat penyebaran. Tugas guru adalah memperlambat kepanikan. Memeriksa sumber informasi. Memastikan kronologi. Menghubungi pihak yang berwenang jika diperlukan. Memberikan edukasi yang menenangkan tanpa mengurangi kewaspadaan. Karena anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari bagaimana orang dewasa bereaksi.

Jika guru panik, murid belajar panik. Jika guru menyebarkan prasangka, murid belajar mencurigai. Tetapi jika guru tetap tenang dan berpikir jernih, murid belajar bahwa rasa takut pun dapat dikelola dengan akal sehat. Namun sikap ilmiah saja tidak cukup. Ada dimensi lain yang sering terlupakan, yaitu kemanusiaan. Sebab masyarakat yang terlalu fokus pada ancaman sering lupa menjaga martabat sesama manusia.

Dalam situasi seperti ini, profesi-profesi informal menjadi kelompok paling rentan. Pengamen, pedagang keliling, pekerja jalanan, bahkan orang yang hanya melintas bisa dengan mudah dicurigai. Padahal kewaspadaan tidak pernah boleh berubah menjadi stigmatisasi.

Kita boleh waspada terhadap tindakan kriminal. Tetapi kita tidak boleh menghukum identitas. Kita boleh menjaga anak-anak. Tetapi kita tidak boleh kehilangan kemanusiaan.

Di sinilah pendidikan memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar transfer ilmu. Pendidikan harus menjadi ruang yang melatih kemampuan berpikir sekaligus kemampuan merasakan. Sekolah tidak cukup mengajarkan cara mencari jawaban, tetapi juga mengajarkan kapan seseorang perlu menahan penilaian.

Karena dalam banyak kasus, masyarakat tidak runtuh karena kurang informasi. Masyarakat runtuh karena terlalu cepat percaya.

Pada akhirnya, yang sedang diuji hari ini bukan hanya keamanan lingkungan. Yang sedang diuji adalah kualitas nalar kita sebagai masyarakat terdidik.

Apakah kita akan menjadi generasi yang langsung percaya pada setiap potongan video yang muncul di layar? Ataukah menjadi generasi yang tetap waspada tanpa kehilangan kemampuan berpikir? Sebab ruang pendidikan tidak boleh kalah oleh algoritma ketakutan.

Dan mungkin, di tengah derasnya arus informasi hari ini, tugas paling mulia seorang pendidik bukan lagi sekadar mengajar. Tetapi menjaga agar akal sehat tetap hidup di tengah masyarakat yang sedang takut.

***

*) Oleh : Muhhamad Khoirur Rizal, mahasiswa studi program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UNISMA dan Pendidik di SMP IT ASY-SYADZILI. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia