Advertisement
Forum Guru

Dolar Naik, Habibie Disebut Lagi

Kenaikan dolar hari ini memang belum bisa disamakan dengan krisis 1998. Namun, bukan berarti situasi ini boleh dianggap biasa. Sejarah Habibie mengajarkan bahwa bangsa ini mampu bangkit dari keterpurukan.

TIMES Indonesia,
Dolar Naik, Habibie Disebut Lagi
Hanania Hanum Sa’baniyah, S.Hum., Pendidik di Lembaga Thursina IIBS Malang.
A-AA+

MALANG Mengapa setiap kali dolar Amerika Serikat melambung, nama B.J. Habibie kembali muncul dalam perbincangan publik? Pertanyaan itu kembali mengemuka ketika nilai tukar rupiah pada awal Juni 2026 menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, bahkan sempat bergerak di kisaran Rp18.100–Rp18.300. Angka tersebut bukan sekadar statistik ekonomi. Ia adalah cermin kecemasan masyarakat terhadap harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, cicilan, hingga masa depan pekerjaan mereka.

Di tengah situasi itu, Presiden Prabowo Subianto merespons kekhawatiran publik dengan membandingkan kondisi saat ini dengan masa kepemimpinan Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie. Menurutnya, Indonesia pernah menghadapi krisis yang jauh lebih berat pada 1998 ketika nilai tukar rupiah sempat anjlok hingga lebih dari Rp16.000 per dolar AS dan ekonomi nasional berada di ambang kehancuran. Pesan yang ingin disampaikan jelas: Indonesia pernah selamat dari badai yang lebih besar. Namun, apakah perbandingan tersebut cukup untuk menjawab keresahan masyarakat hari ini?

Advertisement

Data menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah memang tidak bisa dianggap remeh. Reuters melaporkan bahwa rupiah telah melemah lebih dari 8 persen sepanjang 2026 dan sempat mencapai rekor terendah sekitar Rp18.190 per dolar AS. Pelemahan ini bahkan menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk di dunia tahun ini.

Data kedua datang dari Bank Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui bahwa rupiah menghadapi tekanan besar akibat tingginya permintaan valuta asing, pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta ketidakpastian global. Hingga Mei 2026, rupiah telah melemah hampir 6 persen sejak awal tahun. 

Data ketiga menunjukkan bahwa tekanan tersebut tidak hanya terjadi di pasar uang. Arus modal asing keluar dari Indonesia terus meningkat, sementara pasar saham mengalami penurunan tajam. Pemerintah dan Bank Indonesia bahkan harus menyusun langkah bersama untuk meningkatkan daya tarik investasi dan menjaga stabilitas rupiah. 

Meski demikian, membandingkan situasi sekarang dengan era Habibie perlu dilakukan secara hati-hati. Memang benar, Indonesia saat ini tidak sedang menghadapi krisis multidimensi seperti tahun 1998. Sistem perbankan lebih kuat, cadangan devisa lebih besar, dan inflasi relatif terkendali. Namun, masyarakat juga memiliki tantangan yang berbeda.

Pada masa Habibie, fokus utama adalah menyelamatkan negara dari keruntuhan ekonomi. Hari ini, tantangan terbesar adalah menjaga daya beli masyarakat di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Ketika dolar naik, harga barang impor ikut naik. Industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi. Pada akhirnya, konsumenlah yang menanggung beban melalui kenaikan harga barang dan jasa.

Advertisement

Di sinilah persoalan sebenarnya. Publik tidak hanya membutuhkan optimisme, tetapi juga kepastian kebijakan. Pernyataan bahwa ekonomi Indonesia kuat memang penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Namun, kepercayaan tidak lahir dari pidato semata. Ia lahir dari kebijakan yang konsisten, transparan, dan mampu menjawab kekhawatiran masyarakat. Lalu, bagaimana cara bertahan hidup di tengah penguatan dolar?

Pertama, masyarakat perlu mengurangi konsumsi yang bergantung pada barang impor. Pelemahan rupiah membuat produk luar negeri semakin mahal. Memilih produk lokal bukan sekadar bentuk nasionalisme, melainkan strategi ekonomi rumah tangga yang rasional.

Kedua, penting untuk memperkuat sumber pendapatan. Era ekonomi digital membuka peluang baru melalui pekerjaan lepas, bisnis daring, hingga pengembangan keterampilan berbasis teknologi. Ketika nilai tukar bergejolak, rumah tangga yang memiliki lebih dari satu sumber penghasilan cenderung lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.

Ketiga, masyarakat harus mulai membangun literasi keuangan yang lebih baik. Menyusun anggaran, memiliki dana darurat, dan mengurangi utang konsumtif menjadi langkah sederhana tetapi sangat penting. Krisis sering kali tidak menghancurkan mereka yang berpenghasilan kecil, melainkan mereka yang tidak siap menghadapi perubahan.

Pada level negara, pemerintah perlu memperkuat sektor produksi domestik, mengurangi ketergantungan terhadap impor strategis, serta menciptakan iklim investasi yang mampu mengembalikan kepercayaan pasar. Rupiah yang kuat pada akhirnya bukan hanya hasil intervensi Bank Indonesia, melainkan cerminan kekuatan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Kenaikan dolar hari ini memang belum bisa disamakan dengan krisis 1998. Namun, bukan berarti situasi ini boleh dianggap biasa. Sejarah Habibie mengajarkan bahwa bangsa ini mampu bangkit dari keterpurukan. Akan tetapi, pelajaran yang lebih penting adalah bahwa kebangkitan tidak lahir dari optimisme semata. Ia lahir dari keberanian mengambil kebijakan yang tepat dan kesiapan masyarakat untuk beradaptasi.

Ketika dolar terus menanjak, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya apakah Indonesia akan selamat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi lebih kuat setelah badai ini berlalu?

***

*) Oleh : Hanania Hanum Sa’baniyah, S.Hum., Pendidik di Lembaga Thursina IIBS Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia