Forum Mahasiswa

Pengidap Megalomania?

Sabtu, 20 April 2024 - 12:56 | 20.31k
Maidatul Maqnu'ah, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas KH. Mukhtar Syafaat.
Maidatul Maqnu'ah, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas KH. Mukhtar Syafaat.

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Melansir tentang gangguan kesehatan yang kurang disadari oleh pengidapnya. Dari gangguan fisik yang terlihat mata, nyatanya terdapat gangguan kesehatan mental yang banyak terjadi. Termasuk hal ini adalah gangguan konsepsi atau suatu keyakinan diri seseorang yang dibesar-besarkan dan biasa disebut megalomania. 

Pendiri aliran psikoanalisis Sigmund Freud mengatakan bahwa megalomania termasuk narcissistic (narsistik) yaitu mengagungkan diri sendiri secara berlebihan. Megalomania atau penyakit kepribadian narsistik merupakan salah satu penyakit mental dengan ingin memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling dibutuhkan atau orang yang terpandang. Merasa dirinya lebih hebat dari pada orang lain dan butuh pengakuan. Orang tersebut ingin terlihat orang yang paling menonjol. Sehingga akan menimbulkan dampak-dampak yang negatif baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Ciri-ciri seseorang yang sedang mengidap megalomania, yang biasa disebut dengan megalomaniak, diantaranya merasa dirinya lebih unggul dalam segi apapun daripada orang lain dan meminta perhatian penuh serta pengakuan. Masalah ini biasanya tidak muncul secara mandiri melainkan cenderung bersamaan dengan gangguan bipolar, inferioritas kompleks, dan paranoid.

Megalomania sering disebut sebagai gejala penyakit yang terjadi dari masalah manic depressive atau gejala paranoid. Dari masalah kesehatan ini, dapat memicu munculnya penyakit megalomania pada seseorang. Pada masalah ini sering mengalami perkembangan hingga menjadi skizofrenia dan sejumlah masalah saraf yang lain. Bahkan pada masa panjang, megalomania dapat menyebabkan kerusakan otak.

Menurut pakar psikologi politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk,  Muhammad Muhyiddin mengatakan bahwa pengidap megalomania tidak dapat disembuhkan. Alasannya yaitu karena pengidap megalomania sulit menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya sendiri. Sehingga pengidap megalomania tidak berjiwa besar, melainkan kebenaran hanya ada pada dirinya. 

Mengupas tentang penyebab terjadinya megalomania, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko didalamnya. Salah satu hal yang sangat memicu munculnya megalomania adalah tuntutan orang tua yang cukup tinggi. Peran orang tua saat mendidik sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. 

Selain itu, hal yang dapat menyebabkan masalah ini adalah kecanduan obat-obatan dan alkohol. Termasuk juga masalah kesehatan seperti skizofrenia, neurosis atau masalah mental, trauma moral masa kecil, trauma otak, dan munculnya sifilis. Patut diketahui juga bahwa terdapat resiko berkembangnya masalah ini ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini terutama dapat muncul pada hasrat berlebihan seseorang terhadap kesempurnaan dan kepemimpinan.

Terdapat beberapa cara untuk perawatan utama pada penderita megalomania. Tetapi, hal ini akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan bantuan. Karena pengidapnya mungkin tidak mengerti bahwa dirinya memiliki masalah. Bahkan pengidap megalomania juga dapat menolak atau kesulitan mengikuti tahap-tahap penyembuhan dari dokter. Untuk menangani masalah tersebut, dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu, pengobatan, terapi kesehatan jiwa, dan perawatan yang tidak disengaja.

Pengobatan merupakan resep yang diberikan oleh dokter berupa obat untuk gejala psikotik, depresi, atau untuk menstabilkan suasana hati pengidap megalomania. Akan tetapi penggunaan obat saja tidak cukup untuk mengatasi gejala yang terjadi. Kedua, yaitu terapi kesehatan jiwa, yang dapat dilakukan dengan beberapa jenis terapi berbicara sehingga dapat membantu meringankan delusi. Seperti halnya dengan terapi perilaku kognitif. Terapi ini dilakukan supaya pengidap gangguan mental tertentu dapat belajar mengetahui dan memperbaiki perilaku yang tidak baik. Ketiga yaitu perawatan yang tidak disengaja (involuntarily). Cara ini adalah penanganan untuk pengidap delusi yang parah sehingga dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Maka dari itu, orang tersebut perlu tinggal di rumah sakit atau pusat perawatan sampai stabil. 

Untuk mencegah terjadinya gangguan delusi seperti megalomania, sebenarnya tidak ada cara yang diketahui. Namun, diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu mengurangi gangguan pada kehidupan, keluarga, dan persahabatan seseorang. Hal ini juga melibatkan orang-orang sekitar. Lingkungan seperti apa saat orang tersebut menjalani hidupnya. Terlebih pada orang terdekat seperti didikan orang tua. Dari sini kita bisa sedikit menilai, apakah diri kita termasuk dalam orang yang mengidap megalomania atau tidak?

***

*) Oleh : Maidatul Maqnu'ah, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas KH. Mukhtar Syafaat

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES