Forum Mahasiswa

Menyiasati Mitos Modern

Sabtu, 20 April 2024 - 11:32 | 56.77k
Burhanuddin Ramli, Mahasantri Pondok Pesantren Baitul Hikmah dan Mahasiswa STF Al-Farabi.
Burhanuddin Ramli, Mahasantri Pondok Pesantren Baitul Hikmah dan Mahasiswa STF Al-Farabi.

TIMESINDONESIA, MALANG – Mengapa menanam, menyiram tanaman, cuci piring, menjemur pakaian, masak, menyapu halaman dan pekerjaan rumah lainnya ini penting diupayakan sendiri? Bagaimana Rasionalisasinya? 

Baik, saat ini dengan semakin gencarnya kampanye robotisasi yang menjadi perpanjangan tangan sistem saraf manusia, dimana beberapa dasawarsa sebelumnya teknologi dengan corak mekanistik mewakili tubuh, kita terjebak pada komunikasi yang tidak sepenuhnya melibatkan jiwa, pikiran dan juga raga. Kita seakan memasuki satu era di mana mitos modern menggejala. Kesadaran menjadi hal yang kian langka dalam menjalani keseharian. Jauh dari laboratorium kehidupan. 

Ketidakterlibatan ini untuk tidak mengatakan abai apalagi malas, membawa satu sikap yang sedemikian rentang khususnya milenial dan zilenial. Kita lebih mudah tersinggung, gampang lelah, abai, cengeng, penakut, perenge, nir-daya juang bahkan terkadang tak punya rasa malu. Kita betul-betul berada pada pusaran kebingungan dan kesepian yang kian mencekam dalam kepungan budaya instan yang penuh kepalsuan, justru di puncak-puncak penemuan teknologi mutakhir abad ini. 

Tak ubahnya sang raja yang suatu hari melihat bunga di pekarangan istana, lalu berujar, bahwa tak sesuatu pun yang lebih indah dari bunga. Tidak lama kemudian, ahli ukir batu pualam menghadap raja seraya menyodorkan pahatan bunga. Raja sedemikian terpukau dan menghadiahinya seribu koin uang emas. Sejurus itu, seorang bocah membawakannya setangkai bunga mawar, ia lalu memberinya sekeping uang perak. 

Ya. Kira-kira demikian, sesuatu yang sebetulnya tidak nyata lebih memukau. Gambar, replika, miniatur, video dan segala sesuatu dalam bentuknya yang bahkan paling konyol dan memuakkan di rimba maya di mana kebenaran dan kepalsuan bercampur-baur, ilusi dan kenyataan berpadu, hoaks dan haq tak terelakkan,  perbedaan fakta dan rekayasa membingungkan. Inilah mitos-mitos modern dari duplikasi realitas, nostalgia dan fantasi yang memicu kesurupan massal abad ini. Kita terjebak pada tsunami informasi dan hoaks tak terbendung yang bergentayangan di jagad maya.  

Adalah Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together: Why we expect more from technology and less from each other, mendedahkan bagaimana pengaruh teknologi pada manusia. Bahwa keterhubungan manusia pada jagad maya adalah upaya mencari solusi dari kerentangannya menghadapi dunia nyata.  Alih-alih menjadi jalan keluar, keterhubungan itu malah menjadi satu penyakit tersendiri. Karena dengan terhubung kita justru jauh dari realitas. Bahkan, tidak sedikit yang memilih berbicara melalui gawai kendati ia berdekatan. 

Suatu hari, kata Sherey Turkle, kita barangkali akan belajar bagaimana cara berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung. Hal ini memberi kesimpulan sementara, kalau-kalau gegap gempita inilah salah satu penyebab mengapa generasi milienial-zilenial boleh dibilang nir-akhlak atau kurang sopan. 

Yang tak kalah mengerikan, tidak jarang yang memutuskan menikahi robot, dengan alasan lebih sesuai harapan. Tidak rewel, tidak ngambekan, tidak egois dan seterusnya. Mereka takut kecewa dan ingin terus-terus dipatuhi di satu sisi dan mengatur pasangan sekehendaknya di sisi lain. Bahkan, yang anti kritik atas hubungan aneh yang  menyalahi fitrah manusia itu, dengan lantang meneriakkan bahwa yang menolak, berarti rasis (species chauvinisme). Ironis, memang. 

Apalagi masa pandemi kemarin, gelombang krisis kedirian meroket. Keadaan memaksa untuk tak bersosial. Kita lalu berduyun-duyun menghibur diri karena sudah tak terbiasa menyendiri dengan cara terhubung lebih intens ke teknologi. Berlakulah satu prinsip: saya nge-share maka saya ada (I share therefore I am). 

Kehidupan nyata ini seakan-akan sekedipan mata saja lalu kembali khusyuk berselancar di rimba maya dengan berjubel vitur semu di dalamnya. Anehnya, yang sesekali aktif di sosmed saat ini dicap sang liyan, lost contact, anti sosial, serta kampungan. Dan, yang dianggap memenuhi standar serta modern adalah mereka yang melakukan sebaliknya. 

Tentu, tulisan ini bukan untuk menafikkan sumbangsih teknologi pada peradaban, serta mencampakkan seutuhnya kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan. Apalagi, sampai mengajak kembali ke zaman purba. Bukan. Sama sekali bukan. Hanya saja, teknologi terbilang gagal memberi kebahagiaan, kenyamanannya nampak semu  dan lebih menyerupai virus dibanding obat. Itu saja. 

Jalaluddin Rahmat dalam Psikologi Komunikasi, menceritakan bagaimana seorang anak yang dikurung dalam waktu yang lama tanpa berinteraksi dan minus aktivitas keseharian lalu kehilangan kemampuan dalam bersosial. Ketidakterliabatan jiwa, pikiran dan raga menjadikannya gagap. 

Beberapa riset, bahkan, mengungkap bahwa jarangnya tubuh bergerak seperti melakukan olahraga dan aktivitas keseharian lainnya memicu gangguan mental, menurunkan kecerdasan, emosi tak terkelola dengan baik, sulit mengelola stress, tidak percaya diri dan daya sentuh serta kepekaannya bermasalah. 

Kurang lebih sebagaimana otot, semakin sering digunakan akan kian terlatih, kuat dan adaptif. Tidak rentang. Demikian pula otak dan jiwa jika terus diasah akan semakin cakap serta peka. Sebaliknya, kalau didiamkan kemampuannya akan menyusut. 

Pada episentrum ini, tak ada salahnya kita menengok kembali pesan sederhana orang tua dahulu: jangan biarkan orang lain, siapapun itu, mencuci (maaf) pakaian dalammu selagi engkau bisa. Sekilas tidak ilmiah terlebih dengan menjamurnya jasa binatu saat ini atau mungkin tidak sesuai selera bagi yang senang menghamburkan uang dengan prinsip sekali pakai. Sudah pakai buang. Tapi, hal ini justru salah satu langkah kecil untuk keluar dari 'jebakan' yang manusia buat sendiri, nampaknya. 

Dengan aktivitas sederhana itu pula, kita bisa merasakan langsung kejadian-kejadian di sekitar. Bagaimana tangan menggenggam sapu menyusur ke sisi ruangan. Menyadari spons penuh busa yang digerakkan perlahan hingga menjangkau cekungan gelas dan piring di wastafel.  Merasakan bagaimana percikan minyak mengenai kulit saat menggoreng ikan teri pontianak, misal. 

Mengamati sekeliling saat menyiangi atau menyiram bebungaan dan sayur-mayur barangkali, yang tidak hanya untuk keindahan pekarangan tapi juga ketahanan pangan. Dan semua hal yang kemudian mengantarkan kita lebih menghargai waktu dan keintiman dengan diri sendiri. Menghayati akan detak perdetik jam dinding dan suara-suara serangga malam serta dengung-dengung abadi semesta. 

Nah, pada momentum inilah kita menghirup kesegaran udara kejujuran yang lebih dekat dengan dunia nyata. Bukan rekaan. Yang mengantarkan kita lebih memanfaatkan kesempatan dengan baik daripada sekadar menghabiskan waktu berselancar di dunia maya tanpa tujuan, sepertinya. 

Selain itu, bukankah aktivitas yang melibatkan kesadaran penuh sebagai manusia adalah upaya pembentukan kepribadian yang paling fantastik?  Bahkan, pemungkin paling gigantis, berdaya saing, gargantuan tanpa biaya mahal yang efektif serta mangkus nan sangkil menyiasati mitos-mitos modern abad ini yang sedemikian membelenggu potensi dan daya kreatif, nampaknya. 

Kabar baiknya pesantren sebagai sistem sekolah asli negeri ini sejak dulu telah mengamalkan piranti ini dan sudah teruji ratusan tahun lamanya dari generasi ke generasi. Budaya mengabdi dengan turun langsung mengakrabi realitas, melatih kemandirian dalam aktivitas keseharian yang digagas para guru dan ulama dan pewaris para nabi ini adalah sebentuk budaya tanding (counter culture) sekaligus kurikulum kehidupan. 

Lalu, relakah kita menukar  gagasan pendahulu kita dengan sesuatu yang belum teruji kualitasnya? Belum tervalidasi kedigadayaan dan kegaragantuannya dalam segala situasi dan keadaan? Saya kira, kita tidak ingin menanggung resiko lebih dari hari ini.

***

*) Oleh : Burhanuddin Ramli, Mahasantri Pondok Pesantren Baitul Hikmah dan Mahasiswa STF Al-Farabi 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES