Forum Mahasiswa

Desain Masa Depan Berbasis Spiritualisme

Senin, 20 Mei 2024 - 10:06 | 16.01k
Ahmad Adzka Taufiqillah, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas KH mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi
Ahmad Adzka Taufiqillah, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas KH mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Merosotnya moral sudah menggejala di mana-mana. Telah banyak tanda-tanda dekadensi moral itu di era ini. Hampir setiap waktu disiarkan melalui media, baik melalui media cetak maupun elektronika. Media itu hampir setiap saat mengangkat berita pencurian, penipuan, penggelapan, perampokan, penjambretan, perkosaan, pembunuhan, bentrokan, demo, rebutan jabatan dan lain sebagainya.

Masyarakat negeri kita saat ini mungkin sudah mengalami kelainan. Mungkin sudah menderita sakit. Dalam bahasa inteleknya adalah the sick socity “Sebuah masyarakat yang menderita sakit”. Bila Masyarakat yang sakit dan tidak sehat, memiliki penyakit yang sudah amat kronis dan gawat, kalau tidak segera ditangani secara serius, maka bisa lebih parah lagi dan menemui ajalnya. Hancurlah masyarakat itu. Negara pun jadi terancam, diambang kehancuran.

Ibarat sebuah kapal penuh dengan muatan berlayar di tengah lautan yang luas dan dalam, Tetapi keadaan kapal itu bocor oleh tangan penumpangnya. Sedikit demi sedikit airnya masuk ke dalam kapal. Lama-lama, kapal penuh dengan air. Dan, kapalpun tenggelam ke dasar lautan beserta penumpangnya. Habislah riwayatnya. Ini akibat dari penumpang kapal yang tidak patuh pada aturan dan ketentuan yang ada. 

Sebuah gambaran yang mirip dengan kisah didalam Al Quran Surat At-Taubat ayat 70:
“Belum kah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri,” (QS. At-Taubah [9]:70).

Sehingga apabila kita kaji lebih dalam, sebenarnya apa yang menjadi kebutuhan kita saat ini adalah suatu aturan yang fleksibel menghadapi berbagai problematika hidup dan kehidupan serta mampu menghantarkan kita kepada kebahagiaan baik di kehidupan sekarang maupun yang akan datang.

Napoleon, seorang orientalis berkebangsaan Perancis pernah mengatakan “The principle of Quran with alone of tracking can lead man to happiness”, Al-Quran adalah prinsip dan merupakan satu-satunya kitab suci yang dapat menghantarkan kepada kepulauan nan bahagia.

Ungkapan tersebut mengisyaratkan kepada kita, bahwa Al-Qur’an laksana lampu penerang hati dalam menembus liku-liku perjuangan, yang panjang membentang. Al-Qur’an adalah laksana benteng yang kokoh dalam meng-counter tipuan dan godaan syetan. Al-Qur’an laksana jimat penyelamat dari kesesatan hidup dan kehidupan. 

Pendek kata Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang berisi petunjuk dan kebahagiaan serta senantiasa relevan dengan perkembangan dan situasi zaman. Oleh karena itu Rasul mengatakan:
“Bacalah Al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong  bagi yang membacanya”. (HR. Muslim).

Di dalam surat Yunus ayat 57 allah swt berfirman: Artinya :“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Ayat tersebut menginformasikan bahwa Al-Quran merupakan petunjuk kepada jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan. Lalu apakah fungsi dan peran Al-Quran itu dalam merancang bangun peradaban manusia? Ayat tadi sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Ali Ash-Shobuni dalam Shafwatut Tafasir, menjelaskan ada empat fungsi diturunkannya Al-Quran yaitu:

Pertama, Al-Qur’an adalah sebagai pelajaran dari Tuhan yang Maha pengajar. Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Al-Ghazali dalam “Jawahir Al-Quran” mengatakan seluruh cabang ilmu pengetahuan baik yang datang terdahulu maupun kemudian, baik yang telah diketahui maupun belum, semuanya bersumber dari Al-Qur’anul karim. Sebagai bukti bukankah karena Al-Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa arab telah mendorong lahirnya ilmu tata bahasa yang kemudian kita kenal dengan ilmu nahwu dan sharaf. 

Bukankah karena Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa indah, retoris dan puitis dan argumentasi telah mendorong lahirnya ilmu retorika dan sastra yang kemudian kita kenal dengan ilmu balaghah dan mantiq. Bukankah karena kita diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar telah mendorong lahirnya ilmu qiroa’at yang kemudian kita kenal dengan ilmu tajwid.

Bukankah karena Al-Quran menceritakan proses penciptaan manusia dan alam, telah mendorong lahirnya ilmu kehidupan yang kemudian kita kenal dengan biologi, bahkan  bukankah karena Al-Quran menceritakan karakteristik dan seluk beluk masyarakat terdahulu telah mendorong lahirnya ilmu kemasyarakatan yang kemudian kita kenal dengan sosiologi. Dengan demikian hadirin seluruh ilmu pengetahuan itu bersumber dari Al-Quran.

Kedua, Al-Quran sebagai obat penyakit batin seperti penyakit syirik, ragu dan bodoh. Kenapa Al-Quran berfungsi sebagai obat penyakit batin bukan penyakit dhohir (lahiriyah)? Jawabannya hadirin penyakit dhohir memang berbahaya jika tidak diobati, tapi jauh lebih berbahaya jika kita punya penyakit tapi tidak diobati. Jika penyakit asma, jantung, tumor berbahaya dan dapat merusak tubuh manusia, tapi penyakit sombong, iri hati, dengki, frustasi, korupsi, haus kursi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan jabatan dan popularitas diri jauh lebih berbahaya dan dapat merusak peradaban masyarakat dan bangsa. 

Oleh karena itu hadirin, Al-Quran turun dengan memberikan perintah dan larangan, janji dan ancaman, dan memerintah kepada manusia untuk mentaatinya dan mengamalkan seluruh isinya. Dengan mengamalkan Al-Qur’an, segala penyakit hati akan terkikis habis dari diri kita. Seperti halnya yang diucapkan oleh Abu Farida Muhammad Ijat dalam bukunya “Aliz Nafsaka bil Quran” mengatakan “Al-Quran adalah obat yang sempurna bagi segala penyakit baik penyakit dhohir maupun batin.

Ketiga,  Al-Quran berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan. Al-Qur’an diturunkan Allah untuk memberikan petunjuk kepada manusia, membimbing dan membawanya kepada keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Berkaitan dengan hal tersebut,  Prof.Dr.Quraish Syihab dalam “Wawasan Al-Qur’an” mengatakan seluruh ayat yang ada dalam Al-Quran seluruhnya berisi ajaran yang relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Mampu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan manusia baik yang bersifat ibadah ritual maupun sosial termasuk di dalamnya tentang etika kenegaraan.

Oleh karena itu, kalau manusia sudah mampu memahami isi Al-Quran, menjadikan sebagai petunjuk kehidupan, serta mengamalkannya dalam hidup keseharian. maka prilakunya dipastikan tidak bertentangan dengan ajaran Tuhan dan berselisih dengan tuntutan agama. Siapaun dia dan apapun profesinya. 

Seorang pejabat kalau sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan berbuat korupsi meskipun rakyat tidak tahu. Seorang pedagang kalau sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan curang mengurangi timbangan meskipun pembeli tidak mengerti, seorang suami kalau sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan berbuat selingkuh meskipun sedang sendiri. 

Demikian pula seorang pemuda dan pemudi yang sedang asyik memadu kasih kalau sudah menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan berbuat “macam-macam” meskipun keadaan mendukung, senyap dan sepi. 

Keempat, Al-Quran berfungsi sebagai rahmat bagi insan nan beriman. Artinya kalau Al-Qur’an sudah kita baca isinya, dipahami ajarannya serta diamalkan petunjuknya maka ia akan menciptakan ketenangan bagi kita, jauh dari rasa resah dan gelisah, siap menghadapi berbagai problematika hidup dan kehidupan serta mampu menghantarkan kita kepada kebahagiaan baik dunia maupun di akhirat. 

Nabi Muhammad saw pernah berjanji:
“Barangsiapa yang menjadikan Al-Quran sebagai imamnya, maka ia akan menuntunnya kepada surga. dan sebaliknya, barangsiapa yang menjadikan makmumnya maka akan mengiringnya kepada neraka.”

Dengan demikian, Al-Quran merupakan firman Allah SWT yang berfungsi sebagai pelajaran, obat, petunjuk dan rahmat dalam merancang bangun peradaban manusia untuk menggapai kebahagiaan baik di dunia, terlebih lagi di akhirat. Sejarah telah membuktikan bahwa Al-Quran dahulu pernah melakukan perubahan-perubahan fundamental terhadap peradaban manusia yang tiada taranya. 

Al-Quran mula-mula menjumpai bangsa Arab sebagai penyembah berhala, pemuja batu, dan pemuji kayu. Namun dalam jangka waktu kurang dari seperempat abad, penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT menguasai seluruh jazirah Arabia, setelah penyembah-penyembah berhala disapu bersih dari seluruh Jazirah Arabia. Al-Quran menyapu bersih segala kepercayaan takhayul dan menggantinya dengan agama yang paling rasional.

Pada masa itu Bangsa Arab yang karena kebodohannya sering membanggakan dirinya, berubah menjadi bangsa yang cinta ilmu pengetahuan, mereka disulap dengan tongkat wasiat Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat sumber ilmu pengetahuan. Hal demikian adalah akibat langsung dari ajaran Al-Qur’an. Di samping itu Al-Qur’an juga membangun manusia dari tingkat yang paling rendah ke tingkat peradaban paling tinggi, hanya dalam jangka waktu relatif singkat.

Sehingga mari kita jadikan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman  hidup kita menuju peradaban manusia yang Qur’ani, mari kita baca Al-Quran, kita pahami isinya, kita renungkan maksudnya dan kita amalkan ajarannya. Sehingga dengan cara ini kita mampu hidup bahagia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun Negara dan bangsa. (*)

***

*) Oleh : Ahmad Adzka Taufiqillah, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas KH mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES