Advertisement
Forum Mahasiswa

Menantang AI dengan Kitab Kuning

Di era gangguan kecerdasan buatan ini, tuduhan itu membalikkan seratus puluh delapan derajat. Pesantren justru menjelma menjadi masa depan yang menawarkan keseimbangan bagi kemanusiaan.

TIMES Indonesia,
Menantang AI dengan Kitab Kuning
Nashirul Umam, Santri Darussalam Blokagung, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Islam Malang.
A-AA+

BANYUWANGI Pengenalan Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT dan Gemini telah mengubah wajah dunia pendidikan secara radikal. Hari ini, ruang kelas tidak lagi menjadi satu-satunya menara pencari tahu.

Cukup dengan sekali klik atau satu baris perintah (prompt), jawaban atas pertanyaan serumit apa pun akan tersaji dalam hitungan detik. Kita sedang merayakan pesta informasi instanitas. Namun, di balik kemudahan ini, sebuah ancaman senyap sedang mengintai: kedangkalan berpikir (gangguan mental).

Advertisement

Dunia digital hari ini berpotensi melahirkan generasi "terima jadi". Ketika mesin mengambil alih proses pencarian jawaban, akhirnya kritis manusia perlahan menyusut. Siswa dan pelajar kerap menelan mentah-mentah apa pun yang disuntikkan oleh algoritma tanpa ada proses verifikasi, pembacaan kritis, apalagi komparasi.

Di tengah kecemasan global akan menurunnya daya kritis manusia akibat ketergantungan pada kecerdasan buatan ini, lembaga pendidikan tertua di Indonesia justru menyimpan “senjata rahasia”. Pesantren dengan tradisi musyawarah kitab kuningnya yang berusia ratusan tahun, hadir sebagai antibodi paling ampuh melawan kedangkalan nalar di era digital.

Jika kita menengok ke dalam pagar-pagar pesantren, kita akan menemukan sebuah kenyataan yang tampak paradoks. Di era ketika remaja luar begitu lekat dengan gawai, santri justru hidup dalam kekuatan yang ketat.

Atas titah kiai dan bunyai, akses terhadap ponsel pintar dan laptop dipagari dengan barikade aturan yang kaku. Penggunaan teknologi digital umumnya hanya diperbolehkan untuk keperluan kepengurusan, administrasi madrasah, atau pembelajaran formal di laboratorium komputer pada jam tertentu.

Namun, menganggap tindakan ini menjadikan santri menjadi gagap teknologi (gaptek) adalah sebuah kekeliruan yang fatal. Patahan stereotip ini runtuh ketika para santri kembali ke rumah saat liburan semester atau ketika mereka berinteraksi di lingkungan kampus formal. Mereka tetap mampu beradaptasi dengan teknologi modern dan menjajal berbagai peranti AI.

Advertisement

Justru, isolasi digital yang dinamis di dalam pesantren ini menjadi sebuah berkah tersembunyi (blessing in menyamar). Di saat remaja di luar sana terjebak dalam candu scrolling tanpa henti dan dimanjakan oleh jawaban instan AI, para santri mendapatkan kemewahan yang mahal di era modern: waktu. Ketiadaan distraksi gawai memberi mereka ruang untuk melatih otak secara manual, mendalam, dan spartan melalui lembaran-lembaran kitab klasik.

Setiap malam, di aula-aula pesantren atau di sudut-sudut masjid, pemandangan magis itu terjadi. Di bawah temaram lampu, para santri berkumpul melingkar dalam forum musyawarah atau bahtsul masa'il. Di depan mereka, terhampar kitab kuning teks klasik tanpa harakat dan tanpa terjemahan. Aktivitas ini sama sekali jauh dari kesan membaca pasif. Di sini, teks "dikuliti" habis-habisan.

Seorang santri tidak bisa begitu saja membaca sebuah kalimat tanpa siap didebat oleh santri lainnya. Mereka harus mempertahankan posisi i'rab (struktur tatabahasa), membedah konteks sejarah ayat atau hadis, hingga menguji validitas argumentasi antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya.

Perbedaan pendapat (ikhtilaf) bukan dianggap sebagai perpecahan, melainkan sebuah kewajaran ilmiah yang dianut dengan argumentasi yang kokoh. Jika kita bedah dengan kacamata filsafat pendidikan Barat, apa yang terjadi di ruang musyawarah pesantren ini sejatinya adalah perwujudan hidup dari teori-teori pedagogi modern:

Dialektika Socrates: Musyawarah pesantren adalah bentuk paling murni dari metode tanya-jawab Socrates. Teks tidak diterima sebagai dogma mati, melainkan sebagai pembaca diskusi. Klaim kebenaran diuji, didebat, dan dikejar hingga ke akar-akar epistemik-nya melalui sanggahan-sanggahan yang tajam.

Pedagogi Kritis Paulo Freire: Apa yang digagas oleh Paulo Freire tentang perlawanan terhadap "Banking Concept of Education" (Pendidikan Gaya Bank) di mana guru bertindak sebagai penabung dan murid sebagai celengan kosong yang pasif telah lama runtuh di lorong pesantren. Melalui musyawarah, santri bukanlah objek yang dijejali dogma, melainkan subjek aktif yang memproduksi makna dan menafsirkan teks secara mandiri (Freire, 1970).

Konstruktivisme Vygotsky: Lev Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan proses scaffolding (bantuan bertahap) (Vygotsky, 1978). Dalam musyawarah, santri senior, ustaz, atau kiai bertindak sebagai fasilitator yang menjembatani hal tersebut, sementara pengetahuan baru dikonstruksi bersama melalui adu argumentasi antarsantri.

Ada perbedaan ontologis yang kontras antara karakter jawaban AI dengan hasil musyawarah kitab kuning. AI bekerja dengan menyajikan jawaban monolog yang tampak final, rapi, dan mutlak. Dalam perspektif Jean Baudrillard, fenomena ini mirip dengan Simulakra sebuah realitas buatan yang melampaui realitas aslinya (Baudrillard, 1981).

AI menciptakan ilusi kebenaran mutlak yang menidurkan daya kritis kita. Sebaliknya, musyawarah kitab kuning melatih nalar yang dialogis. Ia mengajarkan bahwa satu teks bisa menghasilkan interpretasi yang sama-sama valid.

Modal inilah yang menjadi imun digital bagi santri ketika mereka keluar dari pesantren. Saat berhadapan dengan AI, santri yang terbiasa bermusyawarah tidak akan menjadi konsumen informasi yang naif atau orang yang gamang. Struktur berpikir mereka yang dibentuk untuk selalu "skeptis, analitis, dan verifikatif" di ruang musyawarah akan otomatis menyala.

Mereka tidak akan memperlakukan ChatGPT atau Gemini sebagai "tuhan baru" pemilik kebenaran tunggal. Sebaliknya, mereka akan memperlakukan AI secara proporsional: hanya sebagai alat bantu penyedia data mentah. Mereka tahu cara menginterogasi jawaban AI, mencari celah bias algoritmanya, dan memvalidasinya dengan metodologi yang presisi.

Pesantren dengan tradisi klasiknya sering kali dikatakan secara peyoratif sebagai institusi yang tertinggal dan usang. Namun, di era gangguan kecerdasan buatan ini, tuduhan itu membalikkan seratus puluh delapan derajat. Pesantren justru menjelma menjadi masa depan yang menawarkan keseimbangan bagi kemanusiaan.

Menghadapi masifnya perkembangan AI tidak harus dilakukan dengan ikut-ikutan larut dalam arus kepasifan digital yang serbainstan. Melalui ketekunan membaca dan berargumen dalam musyawarah kitab kuning, pesantren telah membuktikan bahwa merawat nalar kritis dan kebijaksanaan berpikir adalah benteng terbaik.

Hanya dengan cara manual yang mendalam inilah, manusia dapat memastikan dirinya tetap menjadi penguasa atas teknologi, dan tidak didegradasi menjadi pelayan dari mesin ciptaannya sendiri.

 ***

*) Oleh : A. Nashirul Umam, Santri Darussalam Blokagung, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Islam Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia