Membedah Luka Kelas Menengah
Teater Seriboe Djendela tidak sekadar mempertunjukkan teater. Mereka menampar kesadaran kita: di tengah gelombang PHK yang terus mengancam dan tekanan ekonomi yang kian berat.
KEPULAUAN MENTAWAI – Rumah seharusnya menjadi pelabuhan terakhir bagi jiwa yang lelah. Namun dalam pentas Entah Kapan Kusebut Itu Rumah, rumah justru berubah menjadi medan pertempuran paling kejam: arena kompetisi penderitaan antaranggota keluarga kelas menengah yang terjebak dalam roda kapitalisme domestik.
Data terbaru Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) semakin menguatkan kegelisahan yang diangkat Teater Seriboe Djendela. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, tercatat 23.470 pekerja mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terdaftar dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Jawa Barat menjadi provinsi terparah dengan 5.044 kasus, disusul Banten (2.596), Jawa Timur (2.332), Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Meski lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan gelombang tambahan PHK bisa menyentuh 15.300 hingga 20.300 pekerja lagi, terutama di sektor manufaktur.
Di tengah angka-angka dingin itu, Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma membedah luka yang lebih dalam melalui pementasan besar mereka di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam.
Melalui kisah sebuah keluarga dengan empat anak perempuan, lakon ini bukan sekadar drama rumah tangga. Ia adalah otopsi mendalam terhadap kerapuhan kelas menengah Indonesia saat ini kelas yang terjepit di antara ambisi kelas atas dan ancaman jatuh ke jurang kemiskinan, di mana PHK, utang pendidikan, dan kehancuran komunikasi keluarga saling menguatkan menjadi mesin penghancur ikatan darah.
Runtuhnya Fungsi Keluarga
Pementasan ini secara tegas meruntuhkan ilusi fungsionalisme struktural Talcott Parsons. Dalam teori Parsons, keluarga modern diharapkan menjalankan fungsi instrumental (pencarian nafkah, dipikul ayah) dan expressive (kehangatan emosional, dipikul ibu). Ketika sang Ayah (60 tahun) mengalami PHK salah satu dari puluhan ribu korban gelombang PHK 2026 peran instrumentalnya runtuh total. Kehilangan ini bukan hanya ekonomi, melainkan juga simbolik.
Menggunakan konsep Pierre Bourdieu, kekerasan simbolik pun muncul: ayah yang kehilangan modal ekonomi berubah menjadi figur yang otoritasnya terus diragukan, sementara kekuasaan domestik bergeser secara brutal ke arah transaksional.
Ibu (51 tahun) kemudian mentransformasi hubungan keluarga menjadi hubungan komoditas murni. Anak kedua, Sophia (22 tahun), yang masih kuliah, berulang kali diingatkan bahwa dirinya hanyalah “beban investasi” yang belum memberikan return. Dialog ibu yang menusuk (“Ayahmu sudah keluar banyak uang untuk kuliahmu”) adalah wujud nyata dari commodification of family relations.
Lebih tragis adalah nasib Agni (24 tahun), representasi sempurna sandwich generation. Tabungan pernikahannya terpaksa dikorbankan demi menyangga keluarga. Karakternya yang menjadi dingin dan opresif kepada adik-adiknya adalah konsekuensi logis dari tekanan struktural yang menggerogoti empati.
Sementara Mauna (17 tahun) anak tengah yang “tak terlihat” menjadi korban paling getir. Dengan meminjam Strain Theory Robert K. Merton, kehamilannya bukanlah sekadar kenakalan remaja, melainkan bentuk rebellion terhadap struktur yang menuntut kesuksesan tanpa menyediakan sarana yang memadai.
Keluarga ini gagal menyediakan institutional means yang legitimate, sehingga Mauna melakukan protes melalui tubuhnya sendiri sebuah teriakan eksistensial ketika ruang komunikasi Jürgen Habermas telah sepenuhnya terkolonisasi oleh logika ekonomi.
Meja makan, yang seharusnya menjadi ruang communicative action, berubah menjadi “meja pengadilan domestik”. Semangkuk sop ayam hangat justru menjadi latar ironi bagi saling serang. Ludia (15 tahun), si bungsu, melontarkan sarkasme pedas: “Aku keracunan MBG.” Satu kalimat yang merangkum kegagalan negara mengatasi emotional starvation di balik statistik gizi.
Puncak dramaturgi terjadi saat darah mengalir dari rahim Mauna di lantai ruang tengah. Metafora visual yang sangat kuat: keluarga kelas menengah sedang melakukan “aborsi massal” terhadap masa depan generasinya sendiri.
Produksi dan Konteks Kreatif
Pentas ini menjadi panggung perpisahan bagi angkatan 2023 Teater Seriboe Djendela. Naskah orisinal karya Judha Jiwangga, Gregorius Brian, dan Slamenda Dea ini digarap sejak Januari 2026, melewati dramatic reading, dan digembleng empat bulan di bawah arahan Hendra Bagus Pamungkas serta dosen pembimbing Johannes Baptis J.W.
Diproduksi oleh Marcheline Juanita, disutradarai Agatha Mei, dengan tim produksi yang solid di berbagai divisi, pementasan ini juga membawa prestasi: Teater Seriboe Djendela menjadi satu-satunya kelompok teater kampus yang lolos ke Yogyakarta Urban Festival (Yufest) 2026.
Air Mata dan Refleksi
Penonton malam itu banyak yang menitikkan air mata. “Rasanya relate banget,” ujar Poppy, salah seorang penonton. Ajeng yang memerankan Ibu mengungkapkan dengan mata berkaca-kaca: “Ini panggung terakhirku. Terima kasih Seriboe Djendela telah memberi saya begitu banyak pelajaran tentang hidup.”
Dengan Entah Kapan Kusebut Itu Rumah, Teater Seriboe Djendela tidak sekadar mempertunjukkan teater. Mereka menampar kesadaran kita: di tengah gelombang PHK yang terus mengancam dan tekanan ekonomi yang kian berat, rumah kelas menengah telah menjadi arena kompetisi penderitaan yang paling tragis di mana setiap anggota keluarga adalah korban sekaligus algojo, produk sekaligus korban dari sistem yang lebih besar. Pertanyaan yang ditinggalkan pentas ini menggantung berat di udara: Entah sampai kapan kita masih bisa menyebutnya rumah?
***
*) Oleh : Boas Sababang, Mahasiswa.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

