Politik Pembangunan
pembangunan yang ideal bukanlah yang membuat masyarakat terus menerima, tetapi yang membuat mereka akhirnya mampu memberi dan tumbuh dengan kekuatan sendiri.
KEPULAUAN MENTAWAI – Pembangunan daerah pada dasarnya tidak pernah hanya soal angka-angka anggaran atau deretan program yang tercatat dalam dokumen resmi. Ia selalu tentang satu hal yang paling mendasar: apakah kebijakan benar-benar hadir dan dirasakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran utamanya.
Dalam konteks itu, kiprah Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara periode 2024–2029, Aksandri Kitong, menarik dibaca sebagai bagian dari dinamika politik pembangunan di tingkat lokal, khususnya di daerah pemilihan Maluku Utara II yang meliputi Halmahera Utara dan Pulau Morotai.
Di wilayah kepulauan seperti Halmahera Utara dan Morotai, tantangan pembangunan tidak pernah sederhana. Akses geografis, keterbatasan infrastruktur, hingga ketergantungan masyarakat pada sektor primer menjadikan isu kesejahteraan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan seragam. Dalam situasi seperti ini, sektor pertanian sering kali menjadi titik tumpu utama ekonomi masyarakat. Ia bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga penyangga ketahanan sosial di tingkat akar rumput.
Karena itu, berbagai program bantuan peralatan pertanian seperti cultivator dan hand tractor rotari yang disalurkan kepada kelompok tani dapat dibaca sebagai upaya memperkuat fondasi ekonomi lokal. Modernisasi alat produksi pertanian pada dasarnya bukan sekadar soal efisiensi kerja, tetapi juga tentang bagaimana petani ditempatkan dalam ekosistem ekonomi yang lebih produktif. Petani tidak lagi hanya mengandalkan tenaga manual yang terbatas, tetapi mulai masuk ke fase mekanisasi yang memungkinkan peningkatan skala produksi.
Namun, dalam perspektif yang lebih luas, bantuan semacam ini juga menyimpan tantangan tersendiri. Banyak studi pembangunan menunjukkan bahwa bantuan alat produksi sering kali tidak otomatis berujung pada peningkatan kesejahteraan jika tidak dibarengi dengan pendampingan, pelatihan, dan penguatan kelembagaan kelompok tani. Tanpa ekosistem pendukung yang kuat, alat-alat tersebut berisiko hanya menjadi simbol bantuan, bukan instrumen transformasi ekonomi.
Di titik inilah pentingnya melihat pembangunan bukan hanya sebagai distribusi bantuan, tetapi sebagai proses perubahan struktur. Pertanyaan yang lebih mendasar bukan sekadar “apa yang diberikan”, tetapi “bagaimana dampaknya dalam jangka panjang terhadap kemandirian masyarakat”.
Di luar sektor pertanian, perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, air bersih, dan sarana transportasi juga menjadi bagian penting dari narasi pembangunan yang dijalankan. Perbaikan fasilitas pendidikan yang sebelumnya rusak, misalnya, bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi menyangkut masa depan generasi muda di daerah tersebut. Sekolah yang layak adalah prasyarat utama lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas.
Demikian pula dengan penyediaan air bersih. Dalam banyak literatur pembangunan, akses terhadap air bersih selalu ditempatkan sebagai indikator dasar kesejahteraan. Ketika kebutuhan dasar ini terpenuhi, maka beban sosial masyarakat berkurang dan energi mereka bisa dialihkan untuk aktivitas produktif lainnya.
Sementara itu, penyediaan sarana transportasi seperti kendaraan Viar untuk mobilitas warga mencerminkan upaya menjawab persoalan klasik daerah kepulauan: keterisolasian. Mobilitas bukan hanya soal perpindahan orang, tetapi juga soal akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
Dalam berbagai kesempatan, Aksandri Kitong menegaskan bahwa sektor pertanian akan tetap menjadi fokus utama pembangunan. Pernyataan ini sejalan dengan realitas bahwa sebagian besar masyarakat di daerah pemilihannya masih menggantungkan hidup pada sektor tersebut. Dalam logika pembangunan daerah, fokus pada sektor unggulan lokal memang menjadi strategi yang rasional, karena pembangunan yang tidak berpijak pada kekuatan lokal sering kali gagal berkelanjutan.
Namun demikian, pembangunan yang hanya bertumpu pada satu sektor tanpa diversifikasi ekonomi juga memiliki keterbatasan. Tantangan ke depan adalah bagaimana sektor pertanian tidak hanya menjadi sektor bertahan hidup, tetapi juga naik kelas menjadi sektor bernilai tambah tinggi. Di sinilah pentingnya integrasi antara pertanian, teknologi, dan akses pasar yang lebih luas.
Respon positif masyarakat terhadap berbagai program bantuan ini menunjukkan adanya harapan yang besar terhadap kehadiran negara melalui wakilnya di daerah. Antusiasme warga dan kelompok tani mencerminkan bahwa kebutuhan dasar di tingkat akar rumput masih sangat nyata. Dalam konteks ini, setiap bentuk bantuan tentu memiliki makna sosial yang penting, setidaknya sebagai pengungkit awal perubahan.
Harapan masyarakat tidak berhenti pada bantuan sesaat. Yang lebih diharapkan adalah keberlanjutan. Masyarakat desa dan petani pada dasarnya tidak hanya membutuhkan alat, tetapi juga kepastian bahwa mereka tidak ditinggalkan setelah program berjalan. Di sinilah politik pembangunan diuji: apakah ia hanya hadir dalam bentuk program, atau benar-benar menjadi proses pendampingan yang konsisten.
Seruan untuk mendukung program-program pembangunan yang membawa manfaat tentu merupakan bagian dari semangat kolektif untuk memajukan daerah. Namun dalam perspektif yang lebih kritis, dukungan tersebut juga perlu diimbangi dengan pengawasan publik agar setiap program benar-benar tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.
Pembangunan di Maluku Utara, seperti halnya di banyak daerah lain di Indonesia, adalah proses panjang yang tidak bisa diselesaikan dalam satu periode politik. Ia membutuhkan konsistensi, keberlanjutan, dan yang paling penting, keberpihakan yang nyata kepada masyarakat kecil.
Apa yang dilakukan oleh para wakil rakyat di daerah, termasuk Aksandri Kitong, pada dasarnya merupakan bagian dari upaya kolektif membangun daerah dari pinggiran. Namun ukuran keberhasilan sejati tidak hanya terletak pada seberapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi pada seberapa jauh masyarakat mampu berdiri mandiri, produktif, dan sejahtera tanpa ketergantungan yang terus-menerus.
***
*) Oleh : Boas Sababang, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

