Advertisement
Forum Mahasiswa

Pekerja Sosial dan Misi Membangun Keberfungsian Sosial

Di balik setiap masalah yang dihadapi seseorang, selalu ada potensi, kekuatan, dan kapasitas yang dapat dikembangkan. Inilah cara pandang yang menjadi fondasi profesi pekerja sosial.

TIMES Indonesia,
Pekerja Sosial dan Misi Membangun Keberfungsian Sosial
Dian Puspita Sari, Mahasiswa.
A-AA+

BANDUNG Di tengah kompleksitas permasalahan sosial seperti kemiskinan, kekerasan, penyalahgunaan zat, hingga krisis kesehatan mental, sering kali solusi yang ditawarkan berfokus pada bantuan material atau penyelesaian masalah yang tampak di permukaan.

Akar persoalan manusia tidak selalu terletak pada kekurangan ekonomi atau keterbatasan akses layanan. Banyak individu yang secara materi berkecukupan justru mengalami kekosongan makna hidup, kehilangan arah, dan kesulitan menjalankan peran sosialnya secara sehat. Di sinilah peran pekerja sosial menjadi semakin penting.

Advertisement

Berbeda dengan anggapan bahwa pekerja sosial hanya menyalurkan bantuan atau mendampingi penerima layanan, profesi ini memiliki mandat yang lebih luas. Pekerja sosial bekerja bersama individu, keluarga, komunitas dan masyarakat untuk mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki serta menghubungkannya dengan berbagai sumber daya yang dapat mendukung perubahan.

Pekerjaan sosial meyakini bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, pekerja sosial hadir bukan untuk menggantikan kemampuan masyarakat, melainkan membantu mereka menyadari dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dalam praktik pekerjaan sosial, setiap individu berhak mendapatkan bantuan untuk mencapai versi terbaik dirinya dan pada akhirnya mampu membantu orang lain bertumbuh. Tujuan utama pekerjaan sosial adalah membangun keberfungsian sosial (social functioning), yaitu kondisi ketika individu mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi, serta menjalankan peran sosialnya secara efektif di masyarakat.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pekerja sosial tidak cukup hanya melihat manusia dari aspek biologis, psikologis, dan sosial. Manusia juga memiliki dimensi spiritual yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Dimensi spiritual inilah yang sering kali menjadi sumber makna, harapan, dan arah hidup seseorang ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Pemahaman tentang manusia secara utuh ini sejalan dengan konsep fitrah, yaitu keyakinan bahwa setiap manusia memiliki dorongan batin yang secara alami cenderung pada kebaikan dan potensi untuk berkembang. Karena itu, pekerja sosial memandang individu bukan hanya dari masalah yang dihadapinya, tetapi juga dari potensi, kekuatan, dan kapasitas yang dapat dikembangkan.

Advertisement

Pekerja sosial memfasilitasi tumbuhnya kesadaran yang memungkinkan perubahan berlangsung secara lebih mendasar dan berkelanjutan. Kesadaran merupakan fondasi yang membentuk cara berpikir, kemudian memengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Kesadaran yang kuat membantu seseorang memahami dirinya, memaknai pengalaman hidup, dan mengarahkan tindakannya secara lebih bertanggung jawab.

Kesadaran tersebut mencakup pemahaman bahwa hidup bersifat sementara, bahwa manusia memerlukan pedoman dalam menjalani kehidupan, bahwa setiap orang memiliki tujuan hidup, serta bahwa setiap individu memiliki potensi kebaikan yang perlu dikembangkan. Ketika kesadaran ini tumbuh, individu akan lebih mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan membangun kehidupan yang bermakna.

Oleh karena itu, pekerja sosial berperan sebagai fasilitator perubahan yang membantu individu, keluarga dan komunitas mengembangkan seluruh potensinya secara optimal. Salah satu contoh nyata adalah peran pekerja sosial dalam penguatan keluarga.

Anak-anak belajar bukan terutama dari nasihat, melainkan dari perilaku yang mereka amati setiap hari. Karena itu, program pemberdayaan keluarga yang hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan belum tentu cukup. Orang tua juga perlu didampingi untuk membangun kesadaran, mengembangkan pola pengasuhan yang sehat, serta menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Pada akhirnya, keberhasilan pekerja sosial tidak hanya diukur dari berkurangnya angka kemiskinan, kekerasan, atau berbagai masalah sosial lainnya. Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, kebutuhan akan pekerja sosial tidak hanya terletak pada kemampuan menangani masalah sosial, tetapi juga pada kemampuannya membantu manusia menemukan kembali makna, harapan, dan potensi dalam diri.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak individu, keluarga, dan komunitas mampu menjalani hidup yang bermakna, berfungsi sosial secara optimal, serta menjadi agen perubahan yang menghadirkan kebaikan bagi sesama dan lingkungannya.

 ***

*) Oleh : Dian Puspita Sari, Mahasiswa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia