Realitas Kenaikan Harga Pangan di Pasar Tradisional Malang
Kenaikan harga bahan pokok di Pasar Oro-Oro Dowo bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari gambaran besar sistem pangan yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari permintaan musiman, biaya logistik, hingga dinamika ekonomi global
MALANG – Menjelang Hari Raya Idul Adha, dinamika harga bahan pokok kembali menjadi perhatian masyarakat. Di Pasar Oro-Oro Dowo, Kota Malang, sejumlah komoditas seperti cabai, daging, ayam, hingga hasil laut mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Fenomena ini kembali mengingatkan kita bahwa pasar pangan Indonesia masih sangat sensitif terhadap kombinasi antara faktor musiman, distribusi, dan kondisi ekonomi yang lebih luas.
Berdasarkan hasil pantauan lapangan pada 19 Mei 2026, para pedagang mengakui adanya kenaikan harga yang terjadi secara bertahap dalam beberapa minggu terakhir. Hendra Kusuma (45), salah satu pedagang sayur, menyebut cabai sebagai komoditas yang paling mencolok kenaikannya. Dari kisaran sekitar Rp70 ribu per kilogram, harga cabai kini menyentuh angka sekitar Rp90 ribu per kilogram. Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi langsung terasa dalam perilaku belanja masyarakat sehari-hari.
Sementara itu, Siti Rahayu (52), pedagang lainnya di los yang sama, menjelaskan bahwa harga daging juga mengalami kenaikan sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Untuk ayam, kenaikannya memang tidak setinggi daging, namun tetap berada pada kisaran sekitar Rp2 ribu per kilogram. Meski terlihat fluktuasi kecil, dalam konteks konsumsi rumah tangga, perubahan ini tetap memberi dampak signifikan, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan tetap.
Menariknya, para pedagang tidak melihat kenaikan harga ini semata-mata sebagai fenomena tahunan menjelang hari besar keagamaan. Memang benar bahwa Idul Adha biasanya mendorong peningkatan permintaan, namun faktor lain seperti keterbatasan pasokan, biaya distribusi, hingga struktur rantai pasok yang panjang juga ikut berperan. Dengan kata lain, harga pangan tidak pernah berdiri pada satu sebab tunggal, melainkan hasil dari interaksi banyak variabel yang saling mempengaruhi.
Salah satu faktor yang juga mulai banyak diperbincangkan adalah dampak tidak langsung dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Meskipun masyarakat di tingkat pasar tradisional tidak bertransaksi langsung dalam mata uang asing, efeknya tetap terasa melalui kenaikan biaya impor dan distribusi. Mulai dari bahan bakar, kemasan plastik, logistik, hingga pakan ternak, semuanya memiliki keterkaitan dengan fluktuasi nilai tukar dan harga global.
Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat, rantai kenaikan harga pun tidak bisa dihindari. Produsen dan distributor akan menyesuaikan biaya, yang kemudian diteruskan ke pedagang, dan akhirnya sampai ke konsumen. Inilah yang membuat harga di pasar sering kali bergerak lebih cepat ke atas daripada ke bawah. Dalam ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai stickiness atau kekakuan harga ke arah penurunan.
Namun yang lebih penting untuk dicermati bukan hanya kenaikan harga itu sendiri, tetapi dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Dalam banyak kasus, kenaikan harga tidak selalu diikuti oleh kenaikan pendapatan. Akibatnya, terjadi penyesuaian perilaku konsumsi di tingkat rumah tangga. Masyarakat mulai membeli dalam jumlah lebih kecil, mengganti bahan pangan tertentu dengan alternatif yang lebih murah, atau menunda sebagian kebutuhan.
Dewi Lestari (38), salah satu pembeli di Pasar Oro-Oro Dowo, menggambarkan kondisi ini dengan sederhana. Ia menyebut bahwa meskipun harga kebutuhan pokok terasa semakin berat, belanja rumah tangga tetap harus berjalan. “Kalau tidak dibeli, tetap tidak bisa makan,” begitu kira-kira realitas yang dihadapi banyak keluarga. Pernyataan sederhana ini sebenarnya mencerminkan tekanan ekonomi yang cukup kompleks di tingkat akar rumput.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa pasar pangan tidak hanya soal angka inflasi atau data statistik, tetapi juga soal keseharian masyarakat yang harus beradaptasi dengan perubahan harga. Di sinilah pentingnya melihat isu pangan secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga distribusi, stabilitas harga, dan perlindungan daya beli masyarakat.
Menjelang hari besar keagamaan seperti Idul Adha, pemerintah biasanya dihadapkan pada tantangan klasik: bagaimana menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan stabilitas harga. Intervensi pasar, operasi pasar murah, hingga pengawasan distribusi menjadi instrumen yang kerap digunakan. Namun tantangan utamanya tetap sama, yaitu bagaimana memastikan bahwa kenaikan harga tidak berujung pada penurunan akses masyarakat terhadap bahan pangan.
Kenaikan harga bahan pokok di Pasar Oro-Oro Dowo bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari gambaran besar sistem pangan yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari permintaan musiman, biaya logistik, hingga dinamika ekonomi global. Yang menjadi pertanyaan penting bukan hanya “mengapa harga naik”, tetapi juga “bagaimana memastikan agar kenaikan tersebut tidak menekan kelompok masyarakat paling rentan”.
Karena di balik setiap angka kenaikan harga, selalu ada cerita tentang dapur rumah tangga, tentang pilihan-pilihan kecil yang harus diambil, dan tentang daya tahan ekonomi keluarga dalam menghadapi perubahan yang tidak selalu bisa mereka kendalikan.
***
*) Oleh : Trio Yudha Andika Riski, Mahasiswa.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

