Advertisement
Forum Mahasiswa

Ketika Media Sosial Mengikis Nilai Himanisme Generasi Gen Z

Jika cancel culture terus di anggap sebagai hal yang lumrah, maka yang hilang bukan hanya reputasi seseoarang, melainkan juga kemampuan kita untuk menghargai sesama manusia.

TIMES Indonesia,
Ketika Media Sosial Mengikis Nilai Himanisme Generasi Gen Z
Ratna Ratiana, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
A-AA+

Probolinggo Belakangan ini, media sosial kembali diramaikan oleh fenomena seorang konten kreator di hujat secara masif setelah potongan video berdurasi singkat mejadi viral. Sebelum publik mengetahui konteks utuh dari video tersebut, ribuan komentar telah menjatuhkan vonis.

Sebagian pengguna penyebarkan identitas pribadi sang kreator. Fenomena ini bukan lagi kasus yang baru melainkan menjadi cermin budaya cancel culture yang semakin mengakar, khususnya di kalangan Generasi Z sebagai kelompok pengguna media sosial terbesar.

Advertisement

Pada dasarnya, kritik terhadap figurpublik merupakan hal yang wajar dalam masyarakat demokratis. Media sosial juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan mengawasi perilaku publik. Namun, persoalan muncul ketika kritik berubah menjadi penghukuman massal tanpa memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan, meminta maaf, atau memperbaiki kesalahannya. Di titik inilah cancel culture kehilangan esensi keadilandan mulai mengikis nilai nilai humanisme.

Humanisme menempatkan manusia sebagai pribadi individu yang memiliki martabat, hak untuk di dengar, dankesempatan untuk berkembang. Setiap individu pasti dapat melakukan kesalahan, tetapi kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan menghapus seluruh nilai kemanusiaannya. Sayangnya, budaya digital saatini justru mendorong masyarakat untuk lebih cepat menghakimi dariada memahami. Potongan video beberapa detik sering kali dianggap cukup untuk menilai karakter seseorang.

Fenomena cancel culture tidak dapat terlepas dari cara kerja algoritma media sosial. Konten yang memancing emosi, terutama kemarahan dan kontroversi cenderung memperoleh jangkauan yang lebih luas dibandingkan konten yang mengja berdialog.

Akibatnya, pengguna meia sosial terdorong untuk ikut berkomentar tanpa melakukan verivikasi terlebih dahulu. Bagi sebagian orang, memberikan komentar keras dianggap sebagai bentuk keberpihakan pada moral. Padahal, tindakan tersebut justru dapat memperparah perundungan digital dan memperluas dampak psikologis bagi pihak yang menjadi sasaran.

Sebagai generasiyang tumbuh bersama teknologi digital, Generasi Z memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun opini publik. Namun, kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan kedewasaan dalam berkomunikasi. Kebiasaan memberikan penilaian secara instan berisiko melahirkan budaya yang miskin empati.

Advertisement

Tidak sedikit individu yang akhirnya mengalami tekanan mental, kehilangan pekerjaan, ata memarik diri dari ruang publik akibat gelombang hujatan terus berlangsung, bahkan setelah mereka menyampaikan klarifikasi dan meminta maaf.

Ironisnya, budaya cacel culture sering kali dibungkus dengan alasan memperjuangkan keadilan. Padahal keadian tidak indentik dengan penghukuman tanpa batas. Dalam komunikasi yang sehat, kritik seharusnya bertujuan memperbaiki bukan menghancurkan.

Masyarakat perlu mampu membedakan antara meminta pertanggungjawaban atas suatu tindakan dengan menghilangkan hak seseorang untuk didengar dan memperbaiki diri. Ketika ruang digital hanya dipenuhi kemaharan dan penghakiman, maka media sosial kehilangan fungsianya sebagai sarana dialog yang konstruktif.

Literasi digital yang selama ini diajarkan atau disebarluaskan juga perlu diperluas maknanya. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara mengenali berita paslu atau menjaga kemanan data pribadi, tetapi juga harus menanamkan etika komunikasi dan empati dalam berinterksi di ruang digital.

Sebelum membagikan sebuah infirmasi atau menulis komentar, pengguna media sosial perlu membiasakan diri untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, serta mempertimbangkan dampak yang mungin ditimbulkan bagi orang lain.

Tantangan terbesar Generasi Z bukanlah bagaimana menjad pengguna media sosial yang peling aktif, melainkan bagaimana menjadi warga digital yang tetap menjunjung tinggi nilai kemansiaan. Kritik tetap perlu dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial, tetapi kritik yang kehilangan empati hanya akan melahirkan budaya yang menghakimi.

Jika cancel culture terus di anggap sebagai hal yang lumrah, maka yang hilang bukan hanya reputasi seseoarang, melainkan juga kemampuan kita untuk menghargai sesama manusia. Sudah saatnya media sosial menjadi ruang dialog yang beradab, tempat kritik yang disampaikan dengan tanggung jawab dan kemanusiaan tetap menjadi nilai utama dalam setiap percakapan digital.

***

*) Oleh : Ratna Ratiana, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia