Bullying: Kurikulum Tak Tertulis yang Masih Diajarkan
Keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari banyaknya piala atau tingginya nilai ujian. Keberhasilan pendidikan juga terlihat dari seberapa aman seorang anak berada di dalamnya.
Banyuwangi – Tidak ada orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah dengan harapan anak itu pulang membawa rasa takut. Semua ingin sekolah menjadi tempat belajar yang nyaman, tempat anak menemukan teman, guru yang menginspirasi, dan pengalaman yang membentuk masa depan. Namun, kenyataannya tidak semua anak merasakan hal itu. Ada yang pulang dengan wajah murung, kehilangan semangat belajar, bahkan memilih diam karena setiap hari harus menghadapi ejekan, hinaan, atau perlakuan kasar dari teman-temannya.
Ironisnya, bullying masih sering dianggap hal biasa. Kalimat seperti "Namanya juga anak-anak", "Cuma bercanda", atau "Biar mentalnya kuat" masih sering terdengar ketika ada kasus perundungan. Padahal, bagi korban, itu bukan candaan. Apa yang dianggap lucu oleh pelaku bisa menjadi luka yang terus diingat seumur hidup.
Sayangnya, kasus bullying di Indonesia masih terus bermunculan. Kita tentu masih ingat kasus seorang siswa sekolah dasar di Tasikmalaya yang meninggal dunia setelah diduga mengalami kekerasan dari teman-temannya. Di Cilacap, seorang siswa menjadi korban perundungan yang videonya justru direkam dan disebarkan di media sosial. Belum lagi berbagai kasus serupa di sejumlah daerah yang melibatkan pemukulan, pengucilan, pemalakan, hingga penghinaan secara verbal. Hampir setiap tahun, publik kembali disuguhi berita yang sama, hanya nama korban dan lokasi kejadiannya yang berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa bullying bukan lagi persoalan satu atau dua sekolah. Ia sudah menjadi persoalan bersama. Yang lebih mengkhawatirkan, kita seperti mulai terbiasa melihatnya. Berita datang, ramai diperbincangkan beberapa hari, lalu perlahan dilupakan. Sampai akhirnya muncul korban berikutnya.
Kalau dipikir-pikir, mengapa bullying begitu sulit hilang ya? Ternyata salah satu penyebabnya adalah karena kita sering memilih diam (Silent treatment). Teman-teman korban takut ikut campur. Guru terkadang baru mengetahui setelah kasusnya viral. Orang tua baru sadar ketika anaknya berubah menjadi pendiam atau enggan berangkat ke sekolah. Bahkan, tidak sedikit orang dewasa yang menganggap perundungan hanyalah bagian dari kenakalan remaja.
Di sinilah persoalannya. Bullying seolah menjadi "pelajaran" yang diwariskan tanpa pernah tertulis di buku. Senior melakukannya karena dulu pernah diperlakukan sama. Teman menertawakan korban karena semua orang ikut tertawa. Lama-kelamaan, perilaku itu dianggap wajar. Inilah yang membuat bullying terasa seperti kurikulum tak tertulis yang terus diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Padahal, sekolah seharusnya tidak hanya mengajarkan matematika, sains, atau bahasa. Sekolah juga bertugas mengajarkan bagaimana menghargai orang lain, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, dan memahami bahwa setiap orang memiliki hak untuk merasa aman. Percuma jika sekolah dipenuhi siswa berprestasi, tetapi masih ada anak yang takut masuk kelas karena khawatir menjadi sasaran ejekan.
Yang sering terlupakan adalah dampak yang ditinggalkan oleh bullying. Perundungan tidak hanya memberi luka, tetapi juga bisa merusak mental, fisik, maupun batin seseorang. Luka di tubuh mungkin dapat sembuh dalam beberapa hari, tetapi luka di hati dan pikiran bisa bertahan selama bertahun-tahun. Ketika mental seseorang rusak, yang hancur bukan hanya rasa percaya dirinya, tetapi juga cara berpikirnya, semangatnya untuk belajar, bahkan harapannya terhadap masa depan. Tidak sedikit korban yang menjadi pendiam, menarik diri dari lingkungan, kehilangan mimpi, hingga mengalami gangguan kesehatan mental. Pertanyaannya, jika mental seseorang sudah hancur, apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada yang benar-benar bisa mengembalikan waktu. Karena itu, jangan sampai sebuah ejekan atau tindakan yang dianggap "sekadar bercanda" justru merusak jalan pikir dan masa depan seseorang.
Tantangan sekarang bahkan lebih besar. Bullying tidak berhenti di lingkungan sekolah. Lewat media sosial, korban bisa terus dihina, diejek, atau dipermalukan. Sekali video tersebar, jejak digitalnya akan sulit dihapus. Luka yang dirasakan korban pun semakin panjang karena perundungan tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu.
Karena itu, menghentikan bullying bukan hanya tugas guru. Orang tua harus lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Sekolah perlu menyediakan ruang yang aman bagi korban untuk bercerita tanpa takut disalahkan. Teman sebaya juga harus berani mengatakan bahwa mengejek atau mempermalukan orang lain bukanlah sesuatu yang keren. Diam ketika melihat bullying juga bukan pilihan yang benar, karena diam sering kali membuat pelaku merasa tindakannya mendapat pembenaran.
Untuk kamu yang pernah ada di posisi itu. Kamu yang pernah pulang sekolah sambil menahan air mata, yang pernah merasa tidak berharga karena ucapan orang lain, atau yang pernah mempertanyakan dirimu sendiri hanya karena terus-menerus direndahkan. Terima kasih karena kamu masih bertahan sampai hari ini. Kamu kuat. Kamu hebat karena mampu melangkah sejauh ini. Perlahan, kamu sedang mengobati luka yang mungkin tidak pernah dilihat orang lain. Percayalah, luka itu bukan identitasmu. Masa depanmu tidak ditentukan oleh mereka yang pernah menyakitimu, tetapi oleh keberanianmu untuk bangkit dan terus berjalan. Good job, dan terima kasih sudah bertahan.
Keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari banyaknya piala atau tingginya nilai ujian. Keberhasilan pendidikan juga terlihat dari seberapa aman seorang anak berada di dalamnya. Sebab, sekolah yang baik bukan hanya tempat mencetak siswa yang pintar, tetapi juga tempat melahirkan manusia yang tahu cara menghargai sesamanya. Jika setiap anak bisa pulang dengan senyum, bukan dengan rasa takut, barulah kita bisa mengatakan bahwa pendidikan telah menjalankan tugasnya dengan benar. Sebab, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mencerdaskan otak, tetapi juga menjaga hati agar tidak saling melukai.
***
*) Oleh : Nadila Shafa Khairunisa, Progam Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Kh. Mukhtar Syafaat Blokagung Banyuwangi.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

