Advertisement
Forum Mahasiswa

Menjaga Budaya Lokal di Tengah Arus Digitalisasi

Digitalisasi boleh melaju, tetapi akar budaya harus tetap tertanam kuat. Mari menjadi generasi yang cerdas teknologi sekaligus bangga pada budaya sendiri.

TIMES Indonesia,
Menjaga Budaya Lokal di Tengah Arus Digitalisasi
Mohammad Roziq Fatoni, Mahasiswa.
A-AA+

Palembang Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh informasi. Kini, berbagai bentuk budaya lokal, mulai dari tarian tradisional, lagu daerah, cerita rakyat, hingga bahasa daerah, dapat diakses hanya melalui telepon genggam.

Ribuan video budaya beredar di media sosial, museum menyediakan tur virtual, bahkan naskah kuno telah didigitalisasi agar dapat dipelajari oleh siapa saja. Berdasarkan laporan Data Reportal Indonesia 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 221 juta orang atau lebih dari 79% dari total populasi. 

Advertisement

Selain itu, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 7 jam per hari untuk mengakses internet. Ironisnya, kemudahan akses tersebut tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kepedulian terhadap budaya lokal. Budaya memang berada di ujung jari, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru semakin terabaikan.

Fenomena ini terlihat jelas di kalangan generasi muda maupun masyarakat umum. Tidak sedikit anak muda yang lebih mengenal tren budaya luar dibandingkan kesenian atau tradisi dari daerahnya sendiri. Lagu-lagu asing lebih sering diputar daripada lagu daerah, sementara bahasa daerah perlahan mulai ditinggalkan dalam komunikasi sehari-hari.

Kondisi ini sejalan dengan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang menunjukkan bahwa sejumlah bahasa daerah di Indonesia berada dalam kategori terancam punah karena semakin sedikit penutur muda yang menggunakannya. Bahkan, UNESCO memperingatkan bahwa bahasa yang tidak lagi diwariskan kepada generasi berikutnya berisiko mengalami kepunahan. 

Media sosial menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan tersebut. Algoritma platform digital cenderung menampilkan konten yang sedang populer dan memiliki tingkat interaksi tinggi. Akibatnya, budaya lokal sering kali kalah bersaing dengan tren global yang lebih cepat menarik perhatian.

Survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu aktivitas utama pengguna internet Indonesia. Sebagian besar waktu penggunaan internet dihabiskan untuk mengakses platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. 

Advertisement

Di sisi lain, globalisasi juga membawa tantangan yang tidak dapat dihindari. Masuknya budaya asing melalui film, musik, gim, dan berbagai platform digital memberikan banyak pilihan hiburan bagi masyarakat. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditolak, karena pertukaran budaya merupakan bagian dari perkembangan zaman.

Namun, permasalahan muncul ketika masyarakat lebih bangga mengadopsi budaya luar, tetapi kurang mengenal bahkan meremehkan budaya sendiri. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan budaya terbesar di dunia.

Data Kementerian Kebudayaan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 2.700 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang telah ditetapkan secara nasional, sementara 16 unsur budaya Indonesia telah berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Kekayaan budaya sebesar ini seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk dilestarikan.

Realitas saat ini juga memperlihatkan bahwa masih banyak budaya lokal yang baru mendapat perhatian setelah diakui atau dipromosikan oleh pihak luar. Fenomena tersebut sering memunculkan reaksi masyarakat yang tiba-tiba merasa bangga terhadap budayanya.

Padahal, pelestarian budaya seharusnya dilakukan secara konsisten sejak awal, bukan hanya ketika muncul kekhawatiran budaya tersebut diklaim atau kehilangan eksistensinya. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa kesadaran budaya masih bersifat reaktif, bukan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Kemajuan teknologi bukanlah penyebab utama memudarnya budaya lokal. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana masyarakat memanfaatkan teknologi tersebut. Apabila budaya hanya menjadi tontonan, maka ia akan mudah dilupakan.

Jika budaya dipahami sebagai identitas dan diwariskan melalui pendidikan, keluarga, serta ruang digital yang positif, maka budaya lokal akan tetap hidup di tengah arus globalisasi. Sudah saatnya masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya bangga mengatakan bahwa budaya lokal berada di ujung jari, tetapi juga menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari agar tidak semakin terabaikan.

 ***

*) Oleh : Mohammad Roziq Fatoni, Mahasiswa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia