Advertisement
Opini

Gombloh Identitas Musik Legendaris Kota Pahlawan Surabaya

Surabaya berpeluang besar menegaskan dirinya sebagai kota yang memuliakan seniman dan budaya sebagai fondasi kebanggaan dan pembangunan.

TIMES Indonesia,
Gombloh Identitas Musik Legendaris Kota Pahlawan Surabaya
Imam Kusnin Ahmad SH
A-AA+

BLITAR Pada Hari Ulang tahunku ke 63,Rabu 15 Juli lalu, aku terhanyut dalam nada dan lirik lagu Gebyar Gebyar - karya luar biasa dari seniman legendaris kelahiran Jombang yang telah menancapkan akar dan eksistensinya di Surabaya, Gombloh. 

Mendengarkan lagunya seperti mendapat suntikan semangat baru, menggugah hati untuk menulis sesuatu tentang sosok dan warisannya yang tetap hidup dalam denyut musik dan budaya Kota Pahlawan ini. 

Advertisement

Kebetulan persis saat itu, komunitas Memories of Gombloh (Mogers) tengah menggelar audiensi di Disbudporapar Surabaya. Audiensi tersebut menjadi ruang dialog penuh harapan dan komitmen nyata untuk mengapresiasi karya dan semangat Gombloh sekaligus melanggengkan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.

Penting bagi kita menyadari bahwa warisan seorang seniman seperti Gombloh bukan sekadar nostalgia atau pengingat masa lalu. Dia adalah jiwa yang terus berdenyut dalam kehidupan seni dan budaya kita saat ini. Pemerintah Kota Surabaya pun mulai tampil mengambil peran penting untuk memperkuat pengakuan ini sebagai bagian esensial dari identitas kota. 

Audiensi pada 15 Juli 2026 itu menandai babak baru dalam perjalanan penghormatan kepada Gombloh. Dari dialog yang penuh gairah, muncul berbagai usulan konkret, yang tak hanya sekadar seremonial, melainkan nyata membumikan penghargaan itu dalam ruang-ruang publik yang hidup.

Inisiatif seperti memberi nama gedung di Balai Pemuda, menyematkan namanya pada ruas jalan di Surabaya, hingga pencanangan 12 Juli sebagai Hari Gombloh atau Hari Musik Surabaya, merupakan bukti bahwa Gombloh bukanlah seniman biasa. Ia adalah simbol nasionalisme, kepedulian sosial, dan cinta lingkungan yang tertuang dalam karya-karyanya. 

Esthi Susanti Hudiono, perwakilan Mogers, dengan lugas menyatakan bahwa pengabadian nama Gombloh bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah penghormatan yang berhak mendapat tempat di ruang publik sebagai warisan abadi—pesan nilai-nilai luhur yang terus relevan di tengah pergulatan zaman.

Advertisement

Mendengar harapan tersebut, Tim Ahli Cagar Budaya, Prof. Purnawan Basundoro, mengingatkan bahwa penghargaan haruslah berlandaskan kajian akademik dan sejarah yang mendalam. 

Hal ini bukan untuk menghambat, melainkan menjamin agar penghormatan itu mendapat pijakan kuat dan tidak menjadi kontroversi di masyarakat. Pertimbangan ini menunjukkan kedewasaan dalam mengelola warisan budaya—sebuah tanggung jawab kolektif yang mesti dijalankan dengan cermat.

Salah satu ide paling menarik adalah penggunaan nama Gombloh untuk ruas jalan baru di sekitar Gedung Siola. Tempat ini bukan pilihan asal-asalan, melainkan memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi markas Nirwana Record, label rekaman yang menjadi panggung awal bagi perjalanan karier Gombloh di dekade 1970 dan 1980-an. 

Penghormatan melalui tempat dan ruang yang bermakna seperti ini akan membuat warisan Gombloh tidak hanya hidup dalam memori, tetapi menyatu dalam sejarah dan ruang fisik kota.

Lebih dari itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya pun berkomitmen mengoleksi dan mengarsipkan dokumen-dokumen karya serta sejarah Gombloh. 

Ini menjadi langkah penting agar setiap jejak dan nilai yang ditinggalkannya dapat dijangkau dan dipelajari generasi mendatang sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa.

Saya sangat mengapresiasi langkah pemerintah yang tidak hanya mendengarkan suara komunitas, tapi juga membuka ruang bagi peringatan Hari Gombloh sebagai kegiatan budaya. 

Hal ini adalah sinyal positif bahwa pengakuan terhadap warisan budaya tidak berhenti pada tataran simbolis, melainkan harus dihidupkan dengan aktivitas yang melibatkan masyarakat luas.

Penting pula untuk menyoroti peran komunitas Memories of Gombloh yang sejak 2019 aktif merawat dan menghidupkan karya Gombloh melalui berbagai kegiatan seni, salah satunya festival "Gombloh Bukan Hanya di Radio". Festival ini bukan sekadar acara musikal, tapi bukti nyata bahwa karya dan semangat Gombloh masih bernyawa, diwariskan, dan mampu menginspirasi hingga hari ini.

Kini, saatnya kita sadar bahwa menghormati Gombloh adalah menguatkan identitas budaya Surabaya. Bukan hanya mengenang, tapi membiarkan semangat dan nilai perjuangannya terus menyala dan menuntun langkah generasi muda. 

Surabaya berpeluang besar menegaskan dirinya sebagai kota yang memuliakan seniman dan budaya sebagai fondasi kebanggaan dan pembangunan.

Memberi penghargaan pada Gombloh bukan sekadar memberi label. Itu adalah pengakuan atas jiwa, perjuangan, dan pesan moral yang dia tanamkan lewat lagu. Melestarikan warisan itu adalah tanggung jawab kolektif agar inspirasi Gombloh terus hidup, menjadi api semangat untuk berkarya dan mengisi masa depan seni serta budaya Indonesia dengan makna mendalam dan kejayaan yang abadi. (*)

***

*) Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH.  

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imam Kusnin Ahmad
PenulisImam Kusnin AhmadPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2000. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia