Dipahlawankan lalu Dinistakan: Membaca Ulang Sosok Pangeran Pekik
Membaca ulang kisah Pangeran Pekik, bangsawan Mataram yang berjasa menaklukkan Giri Kedaton, tetapi kemudian dinistakan sebagai pemberontak oleh kekuasaan.
YOGYAKARTA – Pangeran Pekik, nama yang identik dengan hal negatif. Sebabnya adalah makamnya berada di Kompleks Makam Banyusumurup, Kelurahan Girirejo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kompleks makam ini dikenal sebagai makam untuk kelompok kraman (pemberontak) di era Mataram Islam.
Sebuah film dokumenter pendek berbasis animasi dengan medium mental canvas muncul tentang sosok kontroversial ini. Melalui media film kreatif tersebut kita dapat melihat sisi yang berbeda. Film itu berjudul Pangeran Pekik: Dipahlawankan lalu Dinistakan (2023) ini berhasil menampilkan dua sisi yang berbeda dari sang Pangeran. Dan membawa penontonnya mengenal dua hal yang berlawanan dari penguasa Mataram Islam di era kehidupan sang Pangeran. (film bisa dilihat di youtube: https://youtu.be/nJhlBqLQ2qI?si=QQj8om8jMvqhjf_B)
Kita akan melihat sisi lain dari sang pangeran. Di satu sisi, Pangeran Pekik adalah sosok yang berjasa semasa pemerintahan Sultan Agung. Hal ini diperoleh atas perannya dalam menaklukkan Giri Kedaton. Sebuah momen yang berhasil mempertegas penguasaan sang sultan atas Jawa pada masanya. Kala itu, Pangeran Pekik berstatus sebagai penguasa Surabaya. Setelah penaklukkan Surabaya (1625) oleh Sultan Agung, penguasa Surabaya ini masuk dalam lingkaran kekuasaan lewat pernikahan. Tepatnya, pernikahan dengan Ratu Pandan Sari, adik dari Sultan Agung.
Selanjutnya pernikahan putrinya (dari pernikahan sebelumnya) dengan Amangkurat I, semakin mempererat ikatan politik itu. Interpretasi bahwa putri Pangeran Pekik tersebut berasal dari Babad Momana dan Babad Sangkala yang diuraikan dalam buku Puncak Kekuasaan Mataram karya sejarawan H.J. de Graaf. Jarak antara tahun pernikahan Pangeran Pekik – Ratu Pandan Sari (1630) dengan Amangkurat I – Putri Pangeran Pekik (1633) hanya 3 tahun, merupakan alasan utama.
Penaklukkan Giri Kedaton (1636) merupakan peristiwa yang penting di masa pemerintahan Sultan Agung. Giri Kedaton memiliki pengaruh spiritual dan politik yang sangat kuat di Jawa. Seorang penguasa yang diakui Giri Kedaton tentu saja menjadi sebuah legitimasi. Dan ini terjadi pada kakek dari Sultan Agung, Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram Islam.
Sayangnya posisi sebagai sosok yang berjasa ini lepas di era pengganti Sultan Agung yaitu Amangkurat I. Meski berstatus sebagai mertua, sang Pangeran kemudian berubah tidak lagi menjadi mitra melainkan menjadi setara dengan kraman. Salah satu penyebabnya adalah dukungan pada hubungan antara pangeran Adipati Anom (kelak Amangkurat II) dengan Rara Oyi.
Mengapa disebut salah satu penyebab? Karena ada juga data lain yang menyebut tentang alasan pembunuhan Pangeran Pekik adalah pemberontakannya. Tyassanti Kusumo dan Dhimas Langgeng dalam artikelnya yang berjudul “Retrospeksi Makam-makam Cikal Bakal Mataram Islam” (2023) menuliskan bahwa ada dua versi terkait kematian Pangeran Pekik yang beredar di masyarakat. Pertama adalah rencana mengawinkan Rara Oyi selaku gadis yang disukai Amangkurat I dengan cucu dari Pangeran Pekik (kelak Amangkurat II). Kedua, rencana pembunuhan kepada Amangkurat I yang diduga dilancarkan oleh pihak Pangeran Pekik, mertuanya sendiri.
Film yang dibuat oleh Abigail Leony Martino, Mathea Stephanie Raharjo, Nadya Budi Tjandra, Natania Edlyne Fidelia Allen, dan Selena Cheryl Willyam, yang kesemuanya ialah para mahasiswi yang ketika itu masih semester dua alias mahasiswi baru program studi Desain Komunikasi Visual (Visual Communication Design Universitas Ciputra Surabaya, VCD UC) ini, berhasil menunjukkan bahwa status pahlawan tidak akan melekat selamanya. Status ini bisa berubah, tergantung pada siapa yang berkuasa. Sekaligus bagaimana narasi sejarah tentangnya disusun.
Pada fase ini, film yang lahir dari mata kuliah Menjadi Indonesia, sebuah mata kuliah khas universitas di bawah asuhan tim dosen yang terdiri dari penulis buku sejarah Osa Kurniawan Ilham; sejarawan FX Domini BB Hera; komikus Aji Prasetyo, dan sineas Subiyanto ini bukan sekadar bercerita tentang seorang tokoh. Tetapi juga menceritakan tentang cara kerja dari sebuah kekuasaan. Kecurigaan menjadi bahasa politik. Kedekatan dengan penguasa justru menjadi potensi bahaya. Dan loyalitas tidak pernah cukup untuk menjamin keselamatan.
Film berdurasi 7 menit 32 detik ini dapat menjadi salah satu bagian dari literasi digital sejarah. Khususnya sejarah tentang Kerajaan Islam di Indonesia. Keberanian membahas tokoh yang di akhir hidupnya dikenang sebagai pemberontak menjadi nilai plusnya.
***
Berkisah tentang tokoh yang unik bukanlah hal yang mudah. Pergeseran peran yang ekstrim membuat kepahlawanan sang pangeran bisa jadi telah dilupakan. Sedangkan peran terakhir sebagai kraman selalu membekas.
Pada konteks ini, keberanian mengangkat kisah tentang Pangeran Pekik menjadi sesuatu yang penting. Selama ini, mereka yang dicap sebagai pemberontak dan berakhir tragis kerap kali tidak mendapat tempat dalam penulisan sejarah.
Kisah tentang mereka dikalahkan oleh narasi besar yang dibangun oleh penguasa. Padahal justru melalui kisah merekalah kita dapat memahami sejarah dengan banyak spektrum, bahwa sejarah tidak pernah sepenuhnya hitam putih.
Penyebutan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda sebagai sumber data adalah langkah baik sebagai sebuah konten sejarah di platform media sosial. Hal ini membuat penonton bisa mengetahui bahwa konten ini dibuat berdasarkan data. Bukan sekedar konten biasa dengan informasi yang tidak jelas atau tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Sekaligus memperlihatkan keseimbangan antara kreativitas dan tanggung jawab intelektual.
Meskipun Babad dan Serat bukanlah sumber yang sepenuhnya netral. Penulisan keduanya pun tidak lepas dari unsur legitimasi kekuasaan dan aspek politik lainnya. Di sinilah letak sisi menariknya. Sumber sejarah perlu dibaca secara kritis, karena mereka dihasilkan dari proses penulisan, penafsiran dan kepentingan politik yang melatarinya.
Film yang bisa disaksikan di youtube ini bukan sekadar mengungkap kisah tokoh yang kontroversial. Melainkan juga mengajak penonton untuk berpikir kritis tentang sejarah yang dibentuk dan digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan. Mencoba menampilkan pendekatan yang kritis dan berimbang, film ini memperkaya wacana tentang kepahlawanan dan pengkhianatan. Pendekatan kritis ini dapat menginspirasi penonton untuk selalu mempertanyakan narasi resmi yang sudah diterima selama ini.
Dengan demikian, film ini juga telah berkontribusi dalam memperkaya wacana sejarah dan politik Indonesia. Sekaligus juga menjadi contoh nyata bagaimana seni dan media digital dapat menjadi medium edukasi yang efektif dan kritis.
Kreator dari film ini juga menjadi contoh bahwa sejarah tidak hanya menjadi monopoli dari kalangan akademis. Film tentang sejarah bisa menjadi ruang dialog yang terbuka bagi berbagai kalangan. Film dapat digunakan untuk menyampaikan perspektif yang beragam dan kritis.
***
Pada akhirnya, film Pangeran Pekik: Dipahlawankan lalu Dinistakan bukan hanya kisah tentang seorang bangsawan Mataram yang bernasib tragis. Film ini adalah refleksi tentang rapuhnya kedudukan manusia di hadapan kekuasaan. Kepahlawanan dapat dipuji hari ini, lalu dilupakan esok hari. Sejarah dapat meninggikan seseorang, tetapi juga dapat menjatuhkannya lewat narasi yang dibangun penguasa.
Di situlah pentingnya kita perlu membaca ulang sejarah. Agar tokoh seperti Pangeran Pekik tidak hanya dikenang sebagai penghuni makam kaum kraman. Melainkan juga sebagai manusia yang pernah berjasa, pernah dipercaya, lalu perlahan disingkirkan oleh dinamika politik pada zamannya. Ironis sekaligus tragisnya, hal itu terjadi justru dari lingkaran terdekat dan masih terhubung dalam pertalian bernama keluarga. (*)
oleh: Shinta Dwi Prasasti
Pamong Budaya Ahli Pertama di BP Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

