Pelacur Intelektual
RUANGAN itu sangat formal. Seorang pria berpeci tampak duduk di sebuah kursi tanpa meja. Pandangannya sayu dilengkapi raut pucat memutih. Beberapa orang lainnya yang duduk berjajar di hadapan pria berpeci hitam itu sibuk mengajukan sederet pertanyaan seca

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Karya: Muhammad Choirul A*
TIMESINDONESIA – RUANGAN itu sangat formal. Seorang pria berpeci tampak duduk di sebuah kursi tanpa meja. Pandangannya sayu dilengkapi raut pucat memutih. Beberapa orang lainnya yang duduk berjajar di hadapan pria berpeci hitam itu sibuk mengajukan sederet pertanyaan secara bergilir.
Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan nada getir, pasrah dan seakan penuh kejujuran. Tanya jawab itu disaksikan puluhan penonton yang mengikuti jalannya persidangan dalam ruang pengadilan itu.
Nita sendiri secara tak sengaja melihat acara itu melalui siaran langsung yang ditayangkan salah satu stasiun televisi nasional. Dari kamar sempit yang ada di sebuah wisma kawasan lokalisasi Dolly, matanya tiba-tiba membelalak, ia mengamati sosok pria berpeci hitam yang sedang diberondong pertanyaan.
Sepintas Nita masih tak menyadari, siapa pria itu. Namun gerak gerik dan cara berbicaranya saat menjawab berondongan pertanyaan dari hakim mengisyaratkan ciri-ciri tak asing. Terlebih lagi, ciri-ciri khusus berupa gigi yang ompong sebagian, begitu jelas melekat pada orang di masa lalu.
Hal itu sangat mengusik, hingga memaksa otak Nita mengorek memori masa silamnya. Ia terus memperbudak otaknya menelisik jauh hingga terlintas kembali kenangan masa kuliahnya, saat ia masih menjadi mahasiswi, belasan tahun silam. Kampus, kampung halaman, buku, organisasi, ah, masa lalu yang begitu utopis untuk dianggap sebagai kenangan dan harapan sekaligus.
Nita baru benar-benar memastikan identitas pria itu saat persidangan usai, tatkala wartawan menyerbu dengan sodoran pertanyaan ketika pria ini keluar dari ruang persidangan. Burhanudin Fikri, nama yang tertera jelas dalam pemberitaan namun tak terlalu diingat Nita.
Seorang kawan yang lebih familiar dipanggil dengan sebutan Pak Djen di masa silam. Nita mengenal pria itu, mantan sekretaris jendral sebuah organisasi pergerakan yang juga diikuti Nita saat ia kuliah dulu. Nita ingat betul pada panggilan Pak Djen yang tiba-tiba disematkan pada Burhanudin Fikri ketika didaulat menjabat sebagai sekretaris jendral.
Nita tak menyangka, teman baiknya yang begitu getol menyuarakan perbaikan nasib rakyat saat masih menjadi mahasiswa, kini tersangkut kasus korupsi. Betapa tak terduga jalan hidup seseorang. Seorang mantan aktivis, pejuang keadilan, pembela kebenaran, pemerhati kemanusiaan, justru harus mendekam di jeruji besi akibat ulahnya sendiri yang merampok uang rakyat.
Ah, naif sekali aku. Aku sendiri juga mantan aktivis, namun sekarang malah sibuk mengobral kelamin tiap malam, Nita menggerutu dalam hati. Masa depan, siapalah yang tahu. Kesuksesan? hahaha!! lelucon macam apa pula itu. Teka-teki takdir hanya diketahui oleh Sutradaranya sendiri, Tuhan, Sang Maha Sutradara.
Lalu apa orang-orang seperti aku dan Pak Djen harus menyalahkan Tuhan, Sang Penulis Skenario? Uhh, apa aku masih pantas menyebut-nyebut nama Tuhan? Nita melanjutkan gerutunya. Tak disadarinya pintu kamar masih terbuka lebar hingga memungkinkan orang yang berada di luar bisa mengarahkan pandangan mata ke dalam.
Nita masih terus melamun sambil meneruskan gerutunya dalam hati jika saja Mega tidak nyelonong masuk dan membangunkannya dari lamunan. “Hoi, siang-siang gini ngelamun. TV nyala malah ditinggal ngelamun, kamu kenapa Nit? Apa gara-gara TV ini? Koruptor? Kamu mikirin negara? Haha,”“Ah, eh, ndak Meg. Aku baik-baik saja kok,” dia tak bercerita dan membiarkan Mega tak mengetahui bahwa orang yang ada di siaran televisi itu adalah kawan Nita, Pak Djen.
Jakarta, 1998: Ribuan massa membanjiri ibukota. Jakarta diserbu mahasiswa dan aktivis dari berbagai daerah. Nita dan Pak Djen ikut andil menjadi bagian massa itu. Mereka telah seminggu meninggalkan kampus yang terletak di Surakarta, untuk berada di Jakarta.
Dalam seminggu itu, Nita dan Pak Djen tiap hari bergelut dengan jalanan. Hanya saja saat malam tiba mereka lebih banyak memilih tidur di salah satu kampus yang ada di Jakarta. Berbeda dengan para mahasiswa lain yang tidur di jalanan dan terus menyuarakan apa yang ingin disampaikan hingga tengah malam.
Mereka semua menuntut revolusi. Carut marut pemerintahan masa Orde Baru mencapai titik puncak kebobrokan bagi para aktivis ini. Pada suatu hari, demonstrasi yang dilakukan mendapat hadangan dari aparat gabungan TNI-Polri. Asap ban yang terbakar mengepul ke udara hingga membuat pandangan mata berwarna kelabu.
Batu, sepatu, botol, dan berbagai benda lain melayang-layang di atas kepala. Orang-orang berlarian saat polisi mengeluarkan tembakan gas air mata. Nita pun demikian. Matanya perih, dengan sendirinya air mata mengucur bukan karena kesedihan atau rasa haru.
Saat berlari mencari tempat yang lebih aman, ia sempat menengok kawannya, Pak Djen yang sedang dihajar tentara. Corong megaphone milik Pak Djen yang sebelumnya digunakan untuk berorasi, terlempar. Jatuh tepat di samping badan Pak Djen yang juga tersungkur sambil berusaha melindung diri dari pukulan tentara.
Wanita ini ingin membantu namun tak kuasa. Ia sendiri tak berdaya menembus kepulan gas air mata yang semakin banyak ditembakkan petugas. Udara terasa begitu pengap. Kadar oksigen yang semakin tipis seakan menolak untuk dihirup hidung ribuan orang yang semburat kesana-kemari.
Nita terus berlari. Sudah tak dihiraukannya lagi rasa lelah dan peluh yang membalut kulitnya. Tanpa tahu arah, hanya mengikuti gerak massa yang juga tak jelas berlari kemana. Ia baru berhenti saat menemukan sebuah masjid yang telah dijubeli para mahasiswa lain untuk ‘mengungsi’.
Tak menunggu waktu lama, ia langsung menuju sumber air, Nita tak sabar membasuh mukanya untuk menghilangkan perih yang sedari tadi dirasakan. Namun ia masih harus antri, menunggu giliran, bergantian dengan orang-orang lain yang juga ingin membasuh muka.
Sesudah cukup menikmati kesegaran ia beranjak menuju serambi masjid. Merebahkan badan yang lelah pada sebuah dinding, mencari minum, meminta pada kawan-kawan seperjuangan yang masih menyisakan air minum.
Setengguk air tak cukup memuaskan dahaga di tengah cuaca panas siang bolong khas Jakarta. Tapi bagaimana lagi, Nita harus sadar untuk membagi air yang hanya tersisa satu botol itu dengan puluhan aktivis lain yang ada di masjid.
Beberapa waktu setelahnya tatkala matahari mulai condong ke barat, terlihat dua orang berjalan pelan ke arah masjid. Dua orang itu tak berjalan normal, melainkan seorang membopong lainnya. Saat makin dekat, terlihat jelas sosok Pak Djen yang tak mampu berjalan sendiri. Melihat itu, Nita dan aktivis lainnya langsung membantu Pak Djen yang sedang dalam kondisi sempoyongan, kepalanya berlumur darah.
“Maaf Pak Djen, aku ndak bisa membantumu tadi. Padahal aku melihatmu menerima pukulan bertubi-tubi,” ucap Nita dengan penuh penyesalan sembari memberi pengobatan seadanya pada Pak Djen.
“Nggak apa-apa, aku bisa memahami,” cetus Pak Djen sekaligus memperlihatkan giginya yang rontok sebagian akibat bogem aparat.
Siaran televisi itu membuat ingatan Nita bertamasya menuju masa lalunya. Hingar-bingar aktivitas semasa mahasiswa, suka duka yang tak pernah ia lupakan. Kini, masa-masa itu hanya tinggal kenangan. Impian pada masa depan yang cerah pupus sudah. Kini, disaat sejumlah kawan-kawan semasa kuliah sudah menjadi pejabat, Nita justru sibuk dengan dunianya sebagai pelacur. Ah, tidak.
Terkadang aku juga melayani pejabat. Hmm, tak sedikit pula pejabat yang jadi koruptor. Ia hanya tersenyum sambil terus bergumam dalam batin. Tiada beda dosa-dosa yang kujalani jika dibandingkan teman-teman yang mapan, namun tak puas nafsu akan harta. Aku tak lebih hina dari kalian, kawan! Hahaha.
Oh dunia yang penuh misteri, betapa indah rekayasa dan tipu daya akan masa depan. Harapan-harapan masa laluku tentang hari esok sirna. Tuhan, alur kehidupanku yang Kau atur, penuh drama. Romantis, greget perjuangan, suram. Perjuangan? Hei, aku rindu perjuangan. Tapi siapa aku sekarang? Siapa yang bisa memperjuangkan aku? Jawablah!
Wahai kawan-kawan masa laluku yang sekarang jadi penguasa atas nama pengabdian! Pengabdian? Kosmetik yang memberi balutan pada kemunafikan maksudmu? Bukankah itu sama dengan kosmetik yang dipakai oleh pelacur sepertiku ini? Hahaha, tak perlu kalian dengar ocehanku, kalian tentu tak mengingatku
Pak Djen, apa kabar sahabat? Aku merindumu. Kenapa kau sekarang begini? Oh sahabat. Biar kau bejat, kau tetap kuanggap teman sejawat. Lihatlah ini, rokok yang kuhisap. Bukankah ini sama dengan rokokmu dulu? Yang kau tahu sendiri aku tak pernah menyentuhnya waktu itu.
Apa di penjara kau bisa merasakan nikmatnya rokok walau hanya sebatang? Sahabat. Kehidupan kita sama-sama pilu. Tapi rasanya terlalu cengeng jikalau kita menyebut ini tragedi, Tuan Burhanudin Fikri.
*Wartawan MALANGTIMES, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


